Literasi

Jejak Langkah dari Kampus Sekeloa

Rabu, 10 November 2021, 11:10 WIB
Dibaca 34
Jejak Langkah dari Kampus Sekeloa
Buku Jejak Langkah (Foto: Dok. pribadi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Tak ada buku bunga rampai yang saya sunting di mana di dalamnya terdapat tulisan saya, tetapi perhatian untuk membaca lebih fokus pada tulisan-tulisan lainnya. Itulah yang terjadi dengan buku "Jejak Langkah dari Kampus Sekeloa", yang baru saja terbit. Hangat dan masih mengepul.

Ego untuk membaca tulisan sendiri karena dorongan narsis dari alam bawah sadar lenyap sudah ketika tulisan para sahabat yang merupakan teman seangkatan di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) 1985 Universitas Padjadjaran, lebih menawan hati.

Sebagai penyunting (editor) saya tentu telah membaca draft buku ini dengan susah payah. Maklum, meski kami memulai "start" yang sama di Kampus Sekeloa (tempat di mana bangunan tiga lantai berdiri) dengan ditempa ilmu menulis dan berbicara yang sama, tetapi tidak semua sahabat kami mengulik dunia tulis-menulis. 

Hanya beberapa orang saja yang berkhidmat pada jurnalisme dan sastra. Tidak aneh jika saya menemukan "kekacauan" lema, logika dan sistematika berpikir (tulisan) di dalamnya. Namun itu hanya kesalahan minor yang bisa saya perbaiki dengan mengandalkan ketelitian saja.

Di luar dugaan, sahabat-sahabat saya itu umumnya mampu berliterasi hanya saja tidak atau jarang menempa kemampuannya itu, sehingga tidak terlatih.

Saya pribadi tercengang membaca pengalaman sahabat seangkatan yang sangat berwarna dan terkadang sulit dibayangkan dengan imajinasi liar sekalipun, yang tidak mungkin mampu saya lakukan karena penyakit "krocojiwo" yang saya derita saat itu.

Sebagai contoh, ada di antara sahabat saya itu yang membiayai kuliah dan makan dari hasil tebakan jitu SDSB (judi yang dilegalkan pemerintah). "Pokoknya saya bisa makan enak dan traktir teman kalau tebakan kena," katanya.

Ada juga teman kuliah yang dagang kutang (BH) padahal dia seorang lelaki. "Tentu saya tidak berani menawarkan ke mahasiswi teman sendiri," kenangnya. Dari keuntungan hasil penjualan kutang itulah dia mengongkosi kuliahnya. "Saya senang kalau bisa menjual kutang itu ke mahasiswi meski saya tidak bisa menyaksikan bagaimana mereka memakainya," tulisnya.

Tulisan "Jejak Langkah" ini memang kenangan yang masih tersisa seputar kuliah di Kampus Sekeloa, yang baru terungkap sekarang. Satu hal, mahasiswa angkatan saya ini senang berburu soal-soal ujian mata kuliah tertentu terdahulu, bahkan berburu lintas universitas karena ada beberapa dosen yang "nyambi ngajar" di beberapa universitas partikelir.

Sementara saya hanya mengandalkan catatan kuliah dan buku yang kadang tidak ditanyakan dalam soal ujian. Alhasil nilai ujian saya rata-rata jeblok dibanding teman-teman seangkatan yang luar biasa kreatif.

Ada juga kisah mahasiswa yang mampu "menaklukkan" hati dosen perempuan yang "killer" saat bimbingan skripsi. Saat si mahasiswa mendatangi kediaman dosen perempuan yang saat itu masih "sorangan", ia membuka jurus komunikasi penaklukan hati dengan langsung memuji busana batik yang dosen kenakan sebagai "cantik dan anggun". 

Alamak, se-killer dan sekeras apapun dosen perempuan, menerima pujian mahasiswanya hatinya ya lumer juga, meleleh. Tanpa berpanjang-panjang cerita, akhirnya tanda tangan berharga di atas halaman penelitian pun disetujui, ACC. Topi sarjana pun sudah membayang di pelupuk mata. 

Pertemanan dengan sesama mahasiswa seangkatan, diganggu hantu di tempat kos-kosan, suka-duka kuliah kerja nyata, berburu kecengan di bawah angkatan, euforia diterim di UNPAD, dan percintaan di kampus menjadi warna buku bunga rampai yang ditulis oleh 53 penulis (dan beberapa tulisan sahabat lainnya berupa testimoni pendek), termasuk tulisan Yudi Latif, sahabat seangkatan kami. 

Buku keroyokan ini bisa lahir karena kebersamaan. Tentu saja kebersamaan tidak akan terwujud tanpa sumbangsih tenaga, pikiran dan ketulusan beberapa personal yang berkhidmat menjaga kebersamaan dalam bentuk karya bersama seperti Gebi Bawole Agus Supriadi Kang Iwan Demi Dsq dll.

Tulisan saya berjudul "Terima Kasih, Fikom" ditempatkan pada urutan pertama (dengan pertimbangan sayalah yang pertama mengirimkan tulisan), tetapi saya lebih berhasrat dan bersemangat membaca tulisan sahabat-sahabat saya semasa kuliah itu. 

***