Literasi

Jejak Literasi Berawal dari Sini

Jumat, 26 Februari 2021, 15:15 WIB
Dibaca 127
Jejak Literasi Berawal dari Sini
Foto sejenak di ruang kerja Menteri Pendidikan Nasional karena berhasil meraih Juara 1 Nasional dalam Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan yang diadakan oleh Pusat Perbukuan Kemdiknas 2009 (Foto: Johan Wahyudi)

"Pak, minta biografi singkat. Untuk dimuat di buku yang kemarin naskahnya disunting Bapak. Juga foto Bapak yang paling cakep" begitu bunyi pesan yang masuk jelang jumatan tadi.

Antara kaget dan senang karena keringatnya dihargai orang. Namun, lebih dari rasa bangga itu adalah torehan investasi pengetahuan yang bisa diberikan. Itu saja.

Sama sekali tidak menyangka bila hobinya menulis saat kuliah di IKIP Yogyakarta 1991 silam bisa sedemikian bermanfaat. Dimulai dari hobinya menulis dari hal-hal sederhana. Tanpa honor dan komputer seadanya.

Berawal dari jadi penjaga rental komputer. Cari upah dengan jadi tukang ketik. Sekadar jadi ganjalan perut akibat tiadanya uang saku dari orang tua. Tak boleh patah arang. Semua dilakoninya.

Karena sering membaca tulisan tangan para pelanggan rental komputer, wawasannya bertambah. Sedikit demi sedikit tapi pasti, mindsetnya berubah. Ternyata kerja dengan intelektual dihargai lebih mahal.

Begitu lulus dari IKIP Yogyakarta, pulang ke kampung halaman. Berbakti kepada orang tua yang mulai renta. Jadi pelayan dan pengayom. Seperti yang pernah diterimanya puluhan tahun. Kini saatnya berbakti.

Hobinya menulis terus berkembang. Dari sekadar artikel di media cetak hingga jurnal ilmiah. Dari sekadar modul pembelajaran hingga buku teks pelajaran. Dari sekadar jadi penulis hingga merengkuh sertifikat editor profesional.

Kini hari-harinya sering dihabiskan di depan laptop. Sejak Covid-19 mewabah, praktis kegiatan on site dilarang. Tak boleh diadakan kegiatan pelatihan dan seminar seperti yang sering diisinya. Di depan laptop itulah, model kegiatan diubah menjadi online.

Pandemi boleh terjadi, tapi kreativitas dan produktivitas harus tetap dijaga. Tidak boleh kendor. Harus optimis bahwa semuanya akan berakhir manis. Percaya saja kepada Tuhan yang mustahil memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Inilah kunci dari segala keraguan atas kuasa-Nya.

***