Literasi

Menulis di Saat Pandemi

Sabtu, 15 Mei 2021, 11:58 WIB
Dibaca 125
Menulis di Saat Pandemi
Menulis (Foto: kemdikbud.go.id)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Apa pekerjaan yang cocok saat corona mendadak jadi momok menakutkan dan memaksa semua orang ngendon di rumah?

Mengikuti kejuaraan catur online!

Benar, tetapi itu bagi pecatur yang sudah punya elo rating di atas 2.600 (grandmaster super), sehingga bertanding di rumah pun masih mendapat uang meski tidak menjadi pemenang. Ada uang undangan turnamen di sana, apalagi menjadi juara seperti Magnus Carlsen.

Main games!

Betul, tetapi itu mengharuskan dirimu punya keahlian sebagai gamers tulen, yang sehari-harinya memang hanya main game saja, sehingga menjadi e-gamers profesional.

Menulis!

Nah, jarang orang menyadari bahwa dengan atau tanpa corona pun pekerjaan menulis itu biasa dilakukan di rumah. Jadi, mestinya dengan corona ini para penulis harus lebih produktif.

Tapi, siapa yang mau menerima naskah karya penulis di saat ekonomi sedang tiarap? Siapa yang akan membayari jerih-payah penulis?

Ketidakpastian akan nasib naskah yang ditulis menyebabkan mental para penulis ambruk, "down", apalagi dituntut dapur harus ngebul. Akhirnya, "mood" menulis jatuh ke titik nadir, semangat menulis menguap tertelan kekhawatiran sendiri. Stress yang tersisa. 

Jadi, bagaimana bisa bertahan untuk terus menulis?

Jawaban atas pertanyaan itu adalah REPUTASI! 

Dan, Reputasi tidak dibangun dalam sehari.

Kalau kamu punya reputasi yang hebat dalam menulis, niscaya tidak akan kehilangan "mood" sebab selalu saja ada yang memerlukan kepiawaianmu dalam menulis atau lebih luas lagi pekerjaan literasi. 

Jangan anggap pekerjaan literasi itu hanya sekadar menulis (teks), tetapi bisa juga menjadi editor buku, penimbang buku (resensi), menulis buku yang dipesan penerbit, perusahaan swasta atau instansi pemerintah. Bahkan menjadi juri lomba menulis, adalah sebentuk kegiatan literasi juga, yang 100 persen bisa dilakukan di rumah sambil leyeh-leyeh. 

Bagaimana seorang penulis mendapatkan "ladang rezeki" di saat para penulis terpaksa harus berada di rumah?

Sekali lagi... REPUTASI!

Pertanyaannya; bagaimana cara memperoleh reputas itu?

KONSISTENSI!

Konsisten dalam hal apa?

KONSISTEN dalam MENULIS!

Di dunia ini bertebaran para mantan wartawan, mantan editor, mantan peneliti, mantan dosen/guru dan mantan-mantan lainnya. Mereka semua punya reputasi yang diperoleh saat mereka aktif bekerja. 

Sayangnya, mereka anggap menulis itu ada masa pensiunnya. Setelah pensiun dari pekerjaan, pensiun pulalah dalam menulis. Hellow.... saya tegaskan di sini, ya.... "GA ADA PENSIUN dalam menulis!"

Saya ambil pensiun dini bukan berarti PENSIUN dari MENULIS!

Dan, pada saat musim corona yang memaksa saya harus berada di rumah (biasanya juga pensiunan mah di rumah), menulis adalah keseharian saya.

Di luar sana masih menganggap saya punya REPUTASI dalam menulis karena memang konsisten. Sehingga, selalu saja ada PR (pekerjaan rumah) yang harus saya kerjakan.

Stay at home and keep writing!

***