Literasi

Empat Tips Agar Gaya Tulisan Anda Menarik

Jumat, 26 Februari 2021, 10:29 WIB
Dibaca 312
Empat Tips Agar Gaya Tulisan Anda Menarik
Gaya Menulis itu Penting

Dodi Mawardi

Penulis senior

“Duh nih tulisan sulit sekali dicernanya…”

“Baru baca 2 halaman, sudah nggak kuat… bosan!”

“Tulisannya nggak enak…”

Itulah komentar spontan pembaca ketika menikmati sajian tulisan, baik di buku, website, blog, medsos, maupun di media massa cetak. Pembaca akan memberikan penilaian murni berdasarkan apa yang dirasakan dan dipikirkannya tentang tulisan. Dia tidak peduli siapa yang menulis dan tentang apa tulisan itu berisi. Yang dia pedulikan saat itu adalah cara menulis (baca: gaya tulisan/bahasa). Enak atau tidak.

Kalau enak, mereka akan dengan senang hati melanjutkan sampai habis. Kalau tidak enak, ada dua kemungkinan… terpaksa melanjutkan karena butuh. Atau berhenti. Mirip seperti penonton televisi yang sedang memegang remote control. Nasib stasiun teve berada di tangannya. Begitu acaranya tidak disukai, atau selingan iklan, channel pun berpindah. Naskah pun begitu. Apalagi di laman website. Pembaca akan dengan mudah berhenti membaca, kalau tak suka. Untuk naskah nonfiksi, mungkin pembaca akan terus melanjutkan, jika teramat sangat membutuhkan isinya. Sedangkan naskah fiksi (terutama novel), mungkin akan langsung berhenti, karena pembaca tidak terlalu butuh isi, tapi menikmati rangkaian kata demi kata yang indah.

 

Saya ingin menegaskan bahwa cara menulis itu penting. Tidak kalah penting daripada isinya. Tidak kalah penting dibanding kemasan lainnya. Bahkan pada tataran yang lebih ekstrem saya berani berpendapat bahwa tulisan yang enak dibaca meski isinya buruk, akan lebih dulu dilahap khalayak, daripada isi yang sangat bagus tapi cara penulisannya tidak enak dibaca.

 

Berikut ini Empat Tips agar Tulisan Anda Enak Dibaca:

1.  Belajar terus menerus

Kita harus terus belajar bagaimana cara menulis yang menarik. Jangan pernah puas dalam hal ini. Cara menulis tidak ada batas bagusnya, tidak ada batas sempurnanya. Makin kita belajar, makin merasakan bahwa cara menulis kita masih harus ditingkatkan. Belajarlah kepada penulis-penulis senior, atau penulis manapun yang menurut Anda punya gaya bahasa menarik. Berkomunikasilah dengan mereka, khususnya lewat membaca karya-karya mereka, baik buku maupun artikel di media massa. Membaca naskah yang bagus gaya bahasanya, akan membantu Anda menulis hal serupa.

Belajar juga teknik menulis terbaru dari para pakar. Misal dalam 15 tahun terakhir, Indonesia mulai gandrung dengan apa yang disebut sebagai jurnalisme sastrawi. Sebuah genre penulisan jurnalistik yang dipengaruhi oleh cara penulisan sastra. Nonfiksi yang difiksikan atau fiksi yang berbasis data dan fakta. Penulisan artikel populer pasti juga menarik jika menggunakan pendekatan jurnalisme sastrawi. Silakan pelajari lewat buku dan internet.

2.  Praktik tiada henti

Hasil belajar tidak akan berarti apa-apa jika tidak dipraktikkan. Menulis itu memang butuh bakat. Tapi sebagian besar proses penulisan tidak butuh bakat. Justru kemampuan menulis akan makin meningkat jika kita lebih rajin praktik. Bisa karena biasa. Praktice make perfect. Tentu saja pepatah yang mengatakan bahwa “Teori tanpa praktik sia-sia dan praktik tanpa teori tak terarah” harus kita perhatikan. Praktiklah terus sambil tetap belajar teorinya… 

3.  ATM

Salah satu cara paling baik dalam menciptakan gaya menulis yang menarik dan memikat adalah menggunakan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Lihat, perhatikan, baca, dan amati tulisan-tulisan bagus. Pelajari gaya bahasanya. Alurnya. Judulnya. Paragraf pembukanya. Transisi antar kalimat dan antar paragrafnya. Penutupnya. Biar mudah, tiru saja cara penulisan yang memikat tersebut, dengan isi versi Anda sendiri.

 Setelah itu, lakukan modifikasi biar tidak disebut sebagai tukang copas, penjiplak, atau plagiator. Meniru cara menulis, jelas berbeda dengan meniru isi tulisan. Sah. Boleh. Apalagi jika kemudian kita memodifikasi cara penulisan tersebut agar menjadi gaya kita sendiri. Bukan gaya tulisan penulis yang kita ATM-kan.

Ketika memulai menulis saya sangat suka dengan gaya bahasa Tempo. Enak dan mengasyikan. Sepanjang apa pun tulisannya, tidak pernah membosankan. Saya juga terpengaruh oleh tabloid Bola, karena sejak kelas 4 SD sudah berlangganan tabloid milik Kompas Grup tersebut. Terus terang, pada awalnya saya meniru cara mereka menulis. Panjang pendek kalimatnya, jenis kata yang dipilih, dan sebagainya. Walaupun sudah pasti, tidak bisa meniru 100 persen. Dan pada akhirnya, gaya saya sendiri yang muncul.

4.  Pelajari segmen pembaca   

Segmen pembaca sangat berpengaruh terhadap gaya bahasa. Cara kita menulis harus sesuai dengan selera segmen pembaca. Ketika Anda menulis tema tentang anak-anak, dengan target pembaca anak-anak, tentu saja tidak bisa menggunakan gaya bahasa seperti yang sedang Anda baca ini. Gaya tulisan yang sedang Anda baca ini adalah gaya tulisan untuk orang dewasa, atau minimal remaja yang sudah berpikiran dewasa. Gaya tulisan ini tidak cocok buat anak-anak.

Ketika Anda mulai menulis artikel, pikirkan siapa segmen pembaca Anda. Pelajari gaya bahasa mereka sehari-hari. Pelajari juga apa saja yang biasa mereka baca. Dari situ, kita bisa menentukan gaya bahasa seperti apa yang cocok. Tidak mudah? Tentu saja, tapi pasti bisa. Makin tinggi jam terbang kita sebagai penulis, makin cepat kita menyesuaikan diri dengan segmen pembaca.

Untuk Anda yang punya tugas atau kewajiban menulis artikel akademik atau artikel ilmiah, segmen pembaca Anda tentu berbeda. Karya tulis ilmiah lebih rigid dan harus sesuai dengan beragam kaidah. Anda tetap bisa menulis dengan gaya Anda, namun perhatikan kaidah-kaidah tersebut. Ikuti dan taati. Jangan sampai menabrak kaidah. Bahaya.

Semoga bermanfaat...

***

Baca juga:

Empat Trik Bikin Judul Tulisan Menarik