Literasi

Belajar dengan Asosiasi

Sabtu, 1 Mei 2021, 04:26 WIB
Dibaca 93
Belajar dengan Asosiasi
Asosiasi (Sumber Gambar: https://www.steelindonesia.com/asosiasi/images/free_banner.jpg)

Manusia belajar salah satunya adalah dengan menggunakan asosiasi, atau mencari keterhubungan satu sama lain. Di masa kecil, kita mengumpulkan fakta-fakta, melakukan eksperimen dan mencoba-coba, untuk menemukan fakta-fakta yang baru, dan kemudian menemukan keterkaitannya dengan hal yang lain.

Di masa muda, waktu dihabiskan lebih banyak untuk belajar dan memahami persoalan dalam skala yang terbatas dan terkontrol di sekolah. Anak-anak diajarkan mengenai apa yang baik dan benar, dan apa yang jahat dan salah.

Beberapa hal diajarkan secara doktriner. Murid-murid hanya bisa dan boleh menerima saja, tanpa boleh dan berkehendak untuk bertanya atau mempertanyakan mengenai "kebenaran" yang telah disampaikan oleh para guru, atau para orang tua, atau orang-orang yang dipandang sebagai otoritas yang terdidik dan terpelajar dan telah mengetahui segala hal tentang asam garam kehidupan.

Padahal ilmu pengetahuan tidak dijalankan dan dikembangkan dengan cara demikian. Ilmu pengetahuan berkembang dengan cara metode ilmiah, mempertanyakan dan mencoba cara-cara yang baru, yang lebih baik dan lebih praktis, dan meninggalkan ajaran lama yang salah.


Bisakah kita bersikap terbuka terhadap kebenaran ilmu pengetahuan? Hal inilah yang perlu terus menerus digali dan dipertanyakan. Permasalahannya adalah, pada saat sudah beranjak dewasa, kita cenderung untuk menutup diri dan kesempatan untuk mempertanyakan kembali hal-hal yang sebelumnya sudah kita anggap baku dan standar. Sementara anak muda cenderung untuk bergerak secara revolusioner, mencoba dan mempertanyakan kembali hal-hal yang pernah mereka dapatkan dulu.

Seperti apakah generasi yang akan datang akan kita bentuk? Apakah generasi yang tekun dan patuh terhadap segala aturan yang telah ditetapkan pada mereka? Ataukah generasi pemberontak yang berjiwa merdeka dan mempertanyakan mengenai doktrin-doktrin yang selama ini ditanamkan ke dalam jiwa mereka?


Jika yang kita dapatkan adalah generasi tipe yang kedua, pada hakikatnya itu adalah varian dari tipe pertama. Tidak ada bedanya. Ketertindasan terhadap alam pikiran akan sampai kepada penemuan jati diri pribadi, yang kemudian akan melahirkan jiwa-jiwa pemberontak bagi siapa yang berani mempertanyakan kembali mengenai asal-usulnya.

Kepemberontakan bukan selalu sesuatu yang bersifat negatif atau anarkis. Kepemberontakan mencoba mencari cara-cara baru yang lebih efektif dan praktis dalam menghadapi tantangan jaman.


Seandainya orang bisa memahami kegelisahan-kegelisahan jiwa muda, niscaya mereka tidak akan menghalanginya untuk bergerak. Tidak ada tembok setinggi apapun yang bisa menghalangi perubahan. Tidak ada pasukan sebanyak apapun yang bisa menghentikan revolusi dari jiwa-jiwa muda yang gelisah yang menginginkan perubahan.

Maka pendobrakan terhadap sistem-sistem lama yang sudah mulai usang, tidak akan terelakkan. Kita harus mulai membuka lebar-lebar pintu terhadap akses dan kemudahan informasi. Tidak ada yang bisa ditutup-tutupi lagi. Tidak ada lagi yang bisa direkayasa, semua terbuka dan tidak dimanipulasi.

Hanya yang berjiwa merdeka dan terbuka yang bisa mengerti gejolak jaman. Pemahaman dan pengetahuan tidak hanya bisa diajarkan melalui buku-buku teks saja. Semua harus dibuka dan dicoba untuk membuktikan kebenaran dan kesalahannya. Hanya dengan cara demikian ilmu pengetahuan akan berkembang.