Literasi

Susahnya Menjadi Seorang Rasialis

Jumat, 16 Juli 2021, 11:29 WIB
Dibaca 184
Susahnya Menjadi Seorang Rasialis
Lemari Buku

 

Bermula dari tunjangan hari raya yang aku terima awal Desember lalu. Sebagian uang THR itu aku belikan lemari buku. Sebab buku-buku itu sudah berjejalan tidak nyaman di lima lemari yang ada. Saya memesan 3 lemari baru yang muat untuk 1500 buku lagi.

Sejak lemari tersebut dipasang di lantai dua rumah saya, saya mulai melakukan proses rasialis. Mula-mula saya satukan buku-buku bertema agama dalam satu lemari. Masing-masing agama saya beri lantai yang berbeda di lemari tersebut. Demikian pun dengan buku-buku bertema sejarah. Saya berikan satu lemari khusus untuk mereka. Saya memisahkan buku-buku tersebut berdasarkan wilayah. Kisah-kisah ujung Sumatra berjajar dengan riwayat Sumatra Timur, Sumatra Barat dan kemudian Sumatra bagian selatan. Selanjutnya ke Jawa, dan terus ke timur. Sebagai seorang penyuka sastra, saya dedikasikan dua lemari khusus untuk karya fiksi ini. Satu lemari untuk karya-karya luar negeri dan satu untuk karya-karya anak negeri. Saya mengelompokkan mereka berdasarkan sang pembuat karya. Ahmad Tohari, A.A Navis, N.H. Dini mendapatkan lantai tersendiri. Demikian pula para pengarang Rusia, Mesir dan Jepang. Sementara karya-karya sastra tentang Tionghoa dan Tiongkok saya beri lantai sendiri di lemari tentang Tionghoa.

Dua lemari lain sudah terisi buku-buku pertanian dan buku-buku pendidikan.

Awalnya proses rasialisasi ini aman-aman saja. Tapi kemudian saya mendapatkan banyak protes, komplain dan bahkan demonstrasi. Mula-mula Pram memprotesku: “Mengapa kau bawa aku ke lemari Tionghoa, padahal aku bukan Tionghoa?” Saya menjelaskan bahwa Hokiau berkisah tentang orang Tionghoa di Jawa. Tapi Pram tetap ngotot Hokiau bersanding dengan tretraloginya, Arok Dedes, Di Tepi Kali Bekasi, Digul, Arus Balik dan karya Pram lainnya.

Protes pun tak hanya berasal dari Pram. Multatuli, Szekely – Lulofs dan Johan Fabricus ikut-ikutan marah. Mereka berdemo saat karya mereka saya letakkan di karya dalam negeri. “Kami menulis untuk khalayak Eropa, setidaknya Belanda! Mengapa dimasukkan ke karya anak negeri?” Protes mereka berapi-api. “Tapi kalian menulis tentang negeri kami,” jawab saya. “Memang ini tentang negeri kalian, tapi ini adalah tentang kemanusiaan. Tentang masalah semua manusia, semua penduduk dunia.” Teriakan mereka semakin keras. Maka untuk sementara aku kumpulkan mereka di atas kursi baca. “Nanti saya putuskan kalian harus di mana,” sapaku dengan jengkel.

Masalah lain timbul. Saat Sartre aku masukkan ke lantai para pemenang nobel, ia marah luar biasa. Dibantingnya gelas anggur yang dibawanya. “Lebih baik saya ditaruh di dekat kloset daripada kau letakkan di antara Buck, Naguib Mahfouz dan Steinbeck.” Protes Sartree sangat ketus dan mengejek. Sementara Gao Xingjian malah meminta dirinya dipindahkan ke lemari sebelah bersanding dengan Marques, Pamuk dan Hemingway.

Belum selesai masalahku dengan Sartre, Onghokham si pecinta kuliner juga menjawilku. Sambil mengunyah steak dan membawa gelas berisi anggur merah, ia memintaku supaya Runtuhnya Hidia Belanda dan Riwayat Peranakan Tionghoa di Jawa dan karya beliau lainnya disatukan. “Tolong jangan pisahkan karya-karya saya karena nanti rasanya jadi rusak kalau terpisah-pisah. Karya-karya itu bagai bumbu yang harus dituangkan bersama. Masakan akan kacau jika salah satu bumbu tidak ada. Cemplang!”

Ah ternyata tidak mudah menjadi seorang rasialis.