Literasi

Dipaksa Menulis: Sengsara Membawa Nikmat

Selasa, 19 Januari 2021, 12:45 WIB
Dibaca 109
Dipaksa Menulis: Sengsara Membawa Nikmat
Buku saya, yang lahir karena

Dipaksa!

Kadang, hal itui baik juga. Terutama, bila dipaksa untuk berbuat atas nama, dan demi kebaikan. Atau dipaksa menjadi lebih berprestasi. Seperti murid dipaksa belajar oleh guru. Atau seperti warga, yang dipaksa untuk menaati undang-undang oleh negara. Itulah yang disebut etika deontologi (melakukan kewajiban, sebab di balik kewajiban itu, ada kebaikan).

Paksaan yang demikian, demi kebaikan. 

Saya seorang guru dengan predikat "daerah terpencil" (saya mendapat tunjangan guru yang ditempatkan di daerah terpencil di Kalbar). Jaraknya dari kota Sanggau 170 km. Masuk ke pedalaman. Saya ingin bersaksi. Beberapa kali mengurus kenaikan pangkat, selalu diminta porfolio: sudah menulis dan menerbitkan apa? Tentunya, bingung juga! Sebab harus ada bukti fisik tulisan kita, sebagai guru. 

Beberapa kawan guru, jujur saja, kelabakan dalam hal tulisan dan publikasi karya ilmiah. Ada yang minta dibuatkan. Namun, ada segelintir yang "copas". Saya tidak ingin kedua-duanya. Ingin berkarya, dengan hasil keringat sendiri. 

Berkali-kali saya ikuti pelatihan menulis. Tutornya dari Pontianak. Banyak teori. Namun, sedikit praktiknya. Ibaratnya, belajar renang, tidak pernah nyemplung ke kolam. 

Maka saya mulai berpikir: mengapa tidak berlatih sendiri saja?

Saya pun mulai menulis. Saya putuskan menulis dari yang paling mudah: menggali cerita rakyat nenek moyang saya.

Maka jadilah buku ini!

Jangankan bermimpi. Firasat pun tidak. Setelah terbit, buku ini banyak yang memesan. Dijadikan sebagai bahan setiap kali ada Lomba Mendongeng di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Buku ini barangkali bukan yang terbaik. Tetapi yang pertama dalam genrenya.

Perkara "terbaik", bisa disempurnakan edisi ke edisi.

Tapi yang pertama?

Tidak bisa direproduksi dan tidak dapat untuk diulang. Hanya sekali saja.

Maka jika Anda tidak (belum) bisa menjadi yang terbaik, jadilah yang pertama!

Sesimpel itu, waktu itu, yang ada di pikiran saya. Sehingga sayalah yang pertama menulis dan menerbitkan cerita rakyat kampung kami.

Kini nama saya cukup dikenal, terutama di Kabupaten Sanggau. Menulis membuat kita terkenal dan dikenal.

Saya kini kepala SMP. Meski di daerah terpencil, saya tidak ingin berpikir dan berbuat kerdil. Saya lihat motto Web ini bagus: berpikir global, berbuat lokal (di tempat kita berada). 

Di mana pun, kita bisa melakukan hal-hal besar!