Literasi

Perjalananku Ke Long Pada, Sungai Tubu Punya Cerita (1)

Jumat, 21 Januari 2022, 07:09 WIB
Dibaca 869
Perjalananku Ke Long Pada, Sungai Tubu Punya Cerita (1)
November 2021

Bagi anda yang suka berpetualang, daerah ini sangat cocok untuk anda lewati, mau lewat sungai maupun darat tergantung selera. Desa Long Pada , Salah satu desa yang berada di Kecamatan Sungai Tubu Kabupaten Malinau Kalimantan Utara. Wilayahnya sangat sejuk dan mempesona bagi siapa saja yang suka akan petualangan alam.

Tempat Pemukiman Masyarakat terletak di atara gunung-gunung  yang menjulang tinggi. Jika Kita Gambarkan Geografisnya seperti model Baskom. Selain dikeliling gunung, tempatnya juga di kelilingi aliran sungai. Bagi yang pernah ke daerah tersebut pasti tahu bagaimana rasanya.

Saya sendiri termasuk orang yang suka berpetualang. ketika itu saya kesana menggunakan kendaraan roda empat doublegardan. Menuju ke Daerah Long Pada perlu persiapan mental dan fisik yang cukup kuat. Terutama bagi orang-orang yang dari Kota. Karena Long Pada ini merupakan salah satu Desa yang berada di Pedalaman Borneo/ Kalimantan Utara. Bukan hanya penumpang saja yang harus mempersiapkan fisik dan mental kuat. Namun terlebih dari itu, bahwa sang Sopir juga harus bermental luar biasa yang memang benar-benar berani dan berpengalaman dalam perjalanan menyusuri daerah pedalaman.

Ketika itu, tepatnya di hari Selasa bulan November tahun 2021. Pagi hari dengan kabut yang tebal menyelimuti kotaku, Malinau Kota. Sekitar jam 05.00 wite saya telah bersiap-siap untuk melaksanakan perjalanan menuju Desa Long Pada Kecamatan Sungai Tubu.

Setelah persiapan dan menjemput satu persatu para penumpang, sang sopir (om John) dengan cekatannya melaju menyusuri jalan protokol pusat pemerintahan Kab. Malinau. Suasana yang Nampak masih begitu sepi dan lengang tanpa macet tanpa asap tanpa debu. Udara masih terasa segar. Karena pada pagi tersebut kendaraan lalulang masih sedikit tidak seperti di daerah kota-kota besar yang ada di daerah lain. Hanya sesekali kendaraan lewat yang mungkin akan pergi kepasar atau pulang yang berkerja saat malam hari.

Setelah melewati jalan protokol kantor Bupati Malinau, kami terus menyusuri jalan-jalan yang biasa di lewati oleh kendaraan-kendaraan trans Kalimantan, khususnya daerah-daerah Kalimantan Utara. Jalannya cukup bagus, namun ada satu titik jalan yang terputus. Bagi para pengendara harap hati-hati jika melewati jalur tersebut. Dengan laju kendaraan ytang di bawa om John, sampailah kami di pertigaan jalan perusahaan. Yang biasa kita kenal jalur transportasi kendaraan khusus penggangkut Batu Bara.

Tadi malam sempat hujan jadi jalannya agak licin, namun bagi kami, amanlah karena kendaraan yang kami tumpangi kendaran lapangan. Di saat kami menyusuri jalan batu bara, karena kondisi masih cukup pagi. Belum terlalu banyak kendaraan pengangkut si emas hitam jalan, udara sepanjang jalan masih termasuk bersih.

Padahal biasanya ketika cuaca panas dan banyak kendaraan pengangkut batu bara melakukan aktivitasnya, debu sangat tebal bahkan jalanan bisa tidak terlihat karena tebalnya debu yang ada. Begitulah jalan perusahaan batu bara yang ada di wilayah kami. Jalannya dari tanah hitam, yang ketika cuaca panah debunya sangat mengganggu terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar jalan batu bara tersebut.

Meskipun dari pihak perusahaan sering melakukan penyiraman jalan tersebut. Sepanjang jalan perusahaan tersebut ada beberapa desa yang kami lalui. Desa Gongsolok, Punan Gongsolok, Desa Bila Bekayuk. Sekitar 1,5 jam dilalui sampailah kami di Desa Wisata Long Loreh Kecamatan Malinau Selatan. Jalannya sudah aspal, ya meskipun tidak semulus yang ada di Kota Malinau.

Sesampainya di wilayah tersebut aktivitas masyarakat sudah cukup ramai apalagi kendaraan-kendaraan perusahaan sudah lalulalang menuju areal pekerjaannya masing-masing. Di desa tersebut kami tidak singgah. Meskipun desa tersebut merupakan salah satu desa Wisata yang ada di Kabupaten Malinau. Karena tujuan desa kami adalah Desa Long Pada yang perkiraan dari desa tersebut masih perjalanan menempuh waktu sekitar 4 jam lagi.

Desa Wisata Long Loreh pun kami lewati dan kami meneruskan perjalanan menuju jalur yang biasa di pakai untuk menuju tempat tujuan kami. Kembali menyusuri jalan perusahaan batu bara. Yang sama kondisi jalannya dengan jalan dilalui sebelumnya. Jalannya tanah hitam dan berdebu.

Sampailah kami di sebuah jembatan besi yang biasa kendaraan angkut batu bara lewat. Pelan-pelan dan dengan penuh ke hati-hatian om John mengurangi laju kendaraannya. Setelah melewati beberapa jembatan sampailah kami pada jalan perusahaan batu bara yang cukup lebar. Hingga kami melewati sebuah kantor perusahaan batu bara tersebut.

Sepanjang jalan tersebut kami temui tumpukan batu bara yang siap untuk di angkut. Tumpukan siemas hitam. Yang di peroleh dari hasil penambangan yang dilakukan oleh perusahanaan-perusahaan yang ada. Bukan hanya tumpukan batu bara yanga ada, namun jika menyusuri jalur tersebut kita akan menemui danau-danau buatan yang hasil dari tempat penambangan batu baru.

Entah berapa luas nya dan berapa kedalamnnya. Karena jika kita melihat banyak sekali lubang-lubang hasil penambangan batu bara, bahkan ada yang sudah menjadi danau. Sepanjang jalur kami lalui. Tak terasa waktu menunjukan sekitar jam 09.00 pagi. Seingat saya waktu itu lewat jalur ini (obrol om john) kepada kami. Karena jalur perusahaan yang kami lalui terasa asing. Hampir 30 menit kami berada di jalur tersebut. Ternyata bukan jalur yang biasa di lewati. Dari pada tersesat lebih jauh lebih baik kembali.

Dilihat dari tanda kontrol Bahan Bakar Minyak (BBM) menunjukkan ketidaknormalan. Dengan perkiraan jika dipaksakan maka bbm tidak cukup sampai ke Long Pada. Sang sopirpun kembali balik arah untuk mencari BBM tersebut. Kebalilah kami. Sempat mencari ke desa Langap namun BBM yang kami cari  tidak ada satupun kami dapati. Maka kami kembali ke Desa Wisata Long Loreh. Kami pun mampir kesetiap penjual BBM disana untuk mencari ketersediaan BBM tersebut. Alhamdulillah kamipun mendapatkan BBM yang kami cari di sekitar jalan dalam Desa Long Loreh tersebut.

Mengisi sampai dengan full tank. Akhirnya setelah terisi penuh. Kamipun melanjutkan perjalanan. Karena tidak mau tersesat sama yang semula. Maka kamipun melalui jalan lama yang kami lewati. Benar saja ternyata jalur yang biasa dilalui sebenarnya melalui simpangan yang ada dengan tandanya sebuah tower di belakang jalan perusahaan. Teruslah kami menyusuri jalan tersebut hingga mendapatkan sebuah jalan buntu yang biasa kami lewati. Maka kamipun masuk kekampung tersebut yang namanya desa Laban Nyarit, kami pun menyusuri desa tersebut. Kamipun melalui beberapa desa setelahnya seperti desa Halanga dan Desa Mirau. Disinilah awal mulanya kendaraan yang kami bawa terkendala.

Sesampainya di jalan dekat Desa Mirau namanya. Di desa tersebut sudah ada jaringan 4G nya. Kamipun berhenti sejenak untuk memastikan kondisi jalan. Meskipun cuaca sedang panas namun karena sebelumnya terjadi hujan maka kondisin jalan sangat berlumpur , licin dan menanjak gunung. Saya dan om John pun turun dari kendaraan. Benar saja kondisi jalan sangat licin dan kamipun harus berusaha untuk melewati gunung tersebut. Sesampainya di atas gunung saya berhenti sedangkan om John turun untuk mencoba membawa kendaraan tersebut.

Sekali kami paksakan kendaraan tidak mampu untuk naik karena memang kondisi sangat licin. Berkesempatan dengan mengambil satu moment sayapun mengabadikannya. Kendaraan yang kami tumpingi sampai temundur hingga tiga kali. Sampailah kami melewati gunung tersebut. Lanjutlah perjalanan kami menyusuri jalan tanah dan terkadang belubang sering kami lalui. Naik turun gunung kami lalui. Jalan kering, jalan berlumpur sering kami temui. Terkadang cuaca panas, terkadang rintik-rintik hujan kamipun tegar untuk menghadapinya. Sepanjang jalan tersebut sangat jarang sekali kami temui kendaraan melintas. Kami hanya bisa berdo’a semoga diperjalanan kami dilancarkan.

Di dalam kendaraan kami hanya bisa tidur, bercerita, memandang alam yang begitu luas, hutan yang begitu hijau, terkadang kami bergurau sambil tertawa, terkadang kami kejedot mobil. Sampailah kami di suatau turunan tajam dan berbelok om John menghentikan kendaraan yang kami tumpangi. Suara mobil berada di bawah sana.

Betul saja ada sebuah truck pengangkut BBM yang akan ke Malinau namun tidak bisa naik, karena kondisi jalan yang sangat licin dan menanjak sangat curam dan kendaraan tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Dan kamipun sempat terhenti di jalan tersebut. Dengan memperhitungkan kondisi jalan serta kondisi kendaraan yang kami tumpangi. Sang sopir memberanikan diri untuk menyusuri jalan yang sangat membahayakan dan menaikan adrenalin kami.

(Bersambung)