Literasi

Pemberontakan Nuku

Minggu, 22 Oktober 2023, 17:26 WIB
Dibaca 381
Pemberontakan Nuku
Pemberontakan Nuku

Judul: Pemberontakan Nuku

Judul Asli: The Revolt of Prince Nuku, Cross-cultural Alliance-making in Maluku 1780-1810

Penulis: Muridan Widjojo

Penterjemah: Gatot Triwiro

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Komunitas Bambu

Tebal: xliv +  388

ISBN: 978-602-9402-31-5

 

Seandainya Muridan Widjojo tidak mengalami kesulitan dalam mencari referensi tentang Papua, maka informasi Pangeran Nuku akan tetap terserak dalam arsip-arsip Belanda abad 18-19. Untunglah, penulis yang awalnya fokus mendalami sejarah Papua ini mau sedikit bergeser ke barat. Ia memutuskan untuk meneliti kawasan Maluku, khususnya tentang Kerajaan Ternate dan Tidore. Sebab bagaimanapun, kedua Kerajaan ini bersinggungan dengan Kerajaan-kerajaan kecil yang berada di Papua, tepatnya di kawasan Raja Ampat. Juga masih berhubungan dengan kawasan yang sekarang kita kenal sebagai Biak.

Perubahan obyek penelitian yang tidak disengaja ini memberi manfaat yang luar biasa. Sebab Muridan menemukan sebuah sejarah yang sangat penting artinya untuk melengkapi sejarah rempah di abad 18-19. Karya Muridan ini juga mendapatkan penghargaan yang besar karena setelah dipertahankan sebagai karya untuk disertasinya di Universitas Leiden, diterbitkan oleh Penerbit Brill, sebuah penerbit buku sejarah terkemuka. Disertasinya juga mendapatkan liputan yang luas oleh koran di Belanda.

Arti penting penelitian Muridan ini adalah pendapatnya tentang Pangeran Nuku yang memanfaatkan kesempatan global dalam melawan Belanda dan perjuangannya secara politik dan militer dengan sangat sedikit diwarnai oleh milenarianisme. Memang sudah ada penelitian sebelumnya tentang Pangeran Nuku oleh Andaya dan Haga. Penelitian Muridan ini memberikan interpretasi tentang perjuangan Pangeran Nuku yang berbeda. Dalam buku ini Muridan membuktikan bahwa Pangeran Nuku memanfaatkan politik global, yaitu peperangan antara Belanda dengan Inggris menjadi sarana perjuangannya melawan Belanda. Pangeran Nuku secara sadar memanfaatkan pertikaian antara Belanda dengan Inggris.

Meski Pangeran Nuku dijuluki sebagai Jou Barakati (yang diberkati), sepak terjang Pangeran Nuku lebih terlihat dari sisi kepemimpinannya dan kemampuannya untuk mengorganisir masyarakat yang terpecah dalam pulau-pulau kecil. Muridan menyandingkan perjuangan Pangeran Nuku dengan perjuangan Mangkubumi, Diponegoro dan Arung Singkang. Dalam hal ini Muridan menunjukkan bagaimana kemampuan Pangeran Nuku dalam mengorganisir dan menyatukan kekuatan-kekuatan di Maluku, Seram dan Papua Barat (Raja Ampat).

Meski akhirnya perjuangan Pangeran Nuku surut, namun Pangeran Nuku tidak pernah ditangkap dan diasingkan atau dibunuh. Perjuangan Pangeran Nuku surut karena perubahan perpolitikan di Eropa. Kesepakatan antara Inggris dan Belanda membuat Inggris tidak lagi bisa membantu Pangeran Nuku. Inggris harus mengembalikan semua wilayah yang direbutnya dari Belanda kembali kepada Belanda.

Dalam buku ini Muridan menjelaskan latar belakang perdagangan di wilayah rempah, yaitu Maluku dan Papua bagian barat. Datangnya orang Eropa, khususnya Belanda dan Inggris membuat dominasi sultan-sultan lokal terhadap perdagangan rempah menjadi semakin berkurang. Apalagi Belanda dan Inggris kemudian melibatkan diri dalam pertikaian para penguasa lokal. Politik devide at impera yang diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Maluku membuat secara perlahan kekuasaan raja-raja lokal menjadi berpindah kepada orang Eropa. Dalam hal pengambil-alihan kekuasaan raja-raja lokal oleh orang Eropa tidak terlalu berbeda dengan kasus-kasus pemberontakan di wilayah lain di Nusantara. Muridan menjelaskan proses peralihan penguasaan wilayah rempah dari sultan-sultan lokal kepada penguasa Eropa di Bab 1 dan Bab 2.

Di Bab 3 dan 4, Muridan menjelaskan proses pemberontakan Pangeran Nuku sampai kemudian menjadi Sultan Tidore. Di dua bab ini terlihat bagaimana Pangeran Nuku mampu mengembalikan wilayah vasal menjadi entitas yang merdeka.

Bab 5 sampai 8 menguraikan tentang bagaimana kepemimpinan dan peran orang-orang di Tidore, Papua, Halmahera dan Seram. Informasi ini memberikan landasan tentang bagaimana Pangeran Nuku mampu mengorganisir mereka.

Bab 9 menjelaskan peran Inggris dalam perdagangan rempat di wilayan Maluku dan Papua. Di bab ini juga dijelaskan dinamika hubungan Inggris (Perusahaan Dagang dan pedagang keliling) dengan Pangeran Nuku. Terlihat kecerdikan Pangeran Nuku dalam memanfaatkan Inggris di wilayah Maluku dan Papua. Pangeran Nuku tidak hanya berhubungan dengan ekspedisi resmi Pemerintah Inggris (Perusahaan Dagang) tetapi juga berhubungan dengan para pedagang rempah keliling asal Inggris.

Bab 10 menjelaskan bagaimana kebijakan politik di Eropa telah berdampak pada perjuangan Pangeran Nuku. Perdamaian antara Inggris dan Belanda mengakhiri perjuangan Pangeran Nuku. Sebab pengakuan Inggris terhadap kedaulatan Tidore menjadi batal akibat dari perdamaian Inggris Belanda di Eropa.

Buku ini menggunakan sumber-sumber arsip Belanda. Sangat menarik untuk melihat arsip lain, seperti arsip Cina, Arab, Jawa dan Makassar. Sebab perdagangan rempah di wilayah ini juga melibatkan banyak pedagang non Eropa. Tetapi, apakah memang ada suber tertulis non Eropa yang bisa dijadikan acuan untuk melengkapi sejarah rempah di Maluku? 791