Literasi

Batu Ruyud Writing Camp: Hasil Kolaborasi Empat Pegiat Literasi

Sabtu, 12 November 2022, 13:19 WIB
Dibaca 87
Batu Ruyud Writing Camp: Hasil Kolaborasi Empat Pegiat Literasi
Foto: tantri S

Dodi Mawardi

Penulis senior

  

Setiap kali kami berkumpul, selalu berdiskusi terkait literasi. Selalu. Tidak pernah tidak. Diskusi secara tatap muka atau melalui WA Video Call atau Zoom meeting. Topik diskusi literasi itu berkelindan dengan topik diskusi tentang kebangsaan. Serius sekali bukan?

 

Begitulah. Meski tampang kami tidak serius-serius amat dan mungkin bisa berperan dalam drama seri komedi, tapi topik diskusi-diskusi kami, sungguh amat serius. Masalah literasi dan masalah bangsa. Kami berjumlah empat orang dengan latar berbeda-beda. Tapi sesuai slogan Bhineka Tunggal Ika, kami bisa menyatukan pikir dan rasa dalam dua topik: literasi dan kebangsaan.

 

Yansen TP, seorang birokrat lulusan S-3 Universitas Brawijaya Malang, sangat peduli dengan literasi, sekaligus masalah-masalah kebangsaan. Dia sudah menulis 9 judul buku. Sebagian besar berisi tentang program pembangunan, budaya, dan kebangsaan. Yansen, berasal dari Krayan, dataran tinggi Borneo di perbatasan Indonesia Malaysia di Kalimantan Utara. Cukup aneh juga buat saya, seorang yang berasal dari pedalaman yang pelosok nan terisolasi, tapi punya kepedulian tinggi pada bidang literasi dan kebangsaan. Unik.

 

Yang kedua, Masri Sareb Putra. Pria mungil yang usianya hanya terpaut satu tahun dari Yansen. Sejak 2005 lalu, mengaku hidup dari buku. Ayahnya menyebut dia sebagai seorang filsuf. Dia punya target jumlah buku yang dihasilkan lebih banyak daripada jumlah usia. Berhasil. Sekarang, pada usia 60 tahun dia sudah memproduksi lebih dari 120 judul buku. Dunia literasi dan filsafat adalah kehidupannya. Padahal, Masri juga lahir dan besar di pedalaman… daerah Jangkang, kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Kalau Yansen beretnis Dayak Lundayeh, Masri berasal dari Dayak Bidayuh.

 

Sesuai urutan umur, berikutnya adalah Pepih Nugraha. Kalau Anda mencari namanya di Google, akan keluar nama Pepih yang dilengkapi oleh embel-embel buzzer. Begitulah mbah Google melabelinya, meski tidak sepenuhnya benar demikian. Pepih bukan orang sembarangan. Pria kelahiran Tasikmalaya ini, merupakan wartawan Kompas sejak 1990. Dia terkenal setelah berhasil mendirikan dan mengembangkan Kompasiana, media warga terbesar di Indonesia, bahkan terbesar di Asia. Pepih juga sudah menghasilkan 9 judul buku tentang dunia wartawan.

 

Nah, terakhir yang paling muda secara usia. Simak baik-baik ya. Namanya Dodi Mawardi. Kalau Pepih dari Tasik, Dodi berasal dari Cianjur dan Bogor. Sama-sama Sunda. Meski usianya belum 50 tahun, tapi karyanya sudah banyak. Hampir 100 judul buku. Beberapa di antaranya laris manis, seperti buku Belajar Goblok dari Bob Sadino. Dodi juga sempat jadi dosen komunikasi selama 15 tahun di Universitas Indonesia, sealmamater dengan Ade Armando yang terkenal itu.

 

Dari diskusi-diskusi keempat pegiat literasi inilah, lahir Batu Ruyud Writing Camp. Namanya Writing Camp karena diselenggarakan di sebuah tempat terpencil, di tengah hutan, tanpa jaringan telepon dan internet. Kamp atau camping rasanya pas untuk kegiatan menulis di sana. Walaupun acaranya tidak hanya kemping menulis. Di sana, ada kegiatan pelatihan menulis, workshop menulis, pelatihan puisi, diskusi, pelatihan fotografi, dan lain-lain. Para peserta juga sekaligus mentor. Menghasilkan karya berupa buku tentang fenomena dan misteri di perbatasan, sekaligus berbagi ilmu literasi kepada warga setempat.

 

Konsep writing camp, atau festival penulis, atau pameran buku, atau acara literasi lainnya, yang relatif baru di jagat industri penulisan Indonesia. Bahkan mungkin dunia.

 

Acara Batu Ruyud Writing Camp yang menjadi buah bibir di perbatasan dan di Kalimantan Utara itu, lahir karena kepedulian empat pegiat literasi tersebut terhadap bangsanya. Yansen TP menyebut kami sebagai Esplindo, Empat Sekawan Pelopor Literasi Indonesia.

 

Pas-pas saja sebutan itu.

Yang lebih penting adalah Esplindo sudah berhasil menelurkan banyak karya untuk literasi Indonesia.  

Semoga menular!