Literasi

Perjalanan Data Dian (4) Bekerja dalam Senyap

Senin, 12 September 2022, 09:03 WIB
Dibaca 102
Perjalanan Data Dian (4) Bekerja dalam Senyap
Pelatihan menulis oleh Pepih Nugraha (Foto: KKI Warsi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Terinspirasi oleh pernyataan anggota parlemen Arteria Dahlan, maka lahirlah tulisan ini.

Anggota DPR itu dalam sebuah rapat kerja menegaskan kepada rekan kerjanya dari Pemerintah, bahwa DPR itu telah bekerja maksimal, "Hanya kami (DPR) bekerja dalam senyap."

Potongan video ucapannya itu menjadi viral di media sosial, tetapi sayang nadanya cenderung sumbang dan penuh olok-olok, padahal "bekerja dalam senyap" sejatinya memiliki filosofis yang dalam.

Saya teringat kembali salah satu syair lagu yang digubah Iwan "Trubador" Abdurahman berjudul "Akar". Mohon izin saya kepada Abah Iwan untuk memuat kembali syair lagu tersebut di sini:

AKAR

Orang bersenandung tentang bunga yang harum 

Atau cerita betapa indah warnanya Ataupun tentang daun-daun berjatuhan yang bahkan bisa membuat gadis menangis 

Namun saya akan cerita tentang akar 

Akar pohon-pohon yang banyak dilupakan 

Diam-diam masuk merunduk dalam tanah 

Tersembunyi dari cerita atau lagu

Jangan lagu, bahkan tiada orang peduli 

Diam-diam semakin merunduk dalam tanah 

Akar...

Akar...

Bahkan tiada orang peduli

Akar... 

Akar... 

Akar...

Lirik sederhana, tetapi niscaya mengakar dalam sanubari. "Akar" bercerita tentang seseorang yang biasa bekerja dalam senyap, tidak terlihat orang dan tidak mau memperlihatkan diri. 

Jauh di ujung desa terpencil, di tengah pedalaman hutan terisolir, dalam sepinya laboratorium, atau heningnya malam, ada orang-orang yang terus bekerja; mencipta, berkarya, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Mereka jauh dari kerumunan, jauh dari pujian dan tepuk tangan orang ramai.

Pohon adalah contoh kehidupan yang senyatanya. Bunga kerap menunjukkan keindahannya. "Pohon tanpa aku ibarat malam tanpa bintang," kata bunga, "Jadi aku memperindah malam."

Daun bicara lain lagi, "Tanpa hijaunya diriku, niscaya dunia terlihat gersang dan panas".

"Kalian salah," sergah buah, "Bunga yang indah, daun yang hijau, percuma saja tanpa kehadiran diriku."

"Kalian pikir di mana kalian bisa bergantung," kata dahan tak mau kalah, "Daun, bunga, dan buah tidak akan pernah ada tanpa aku!"

"Kalian salah semua!" sergah batang pongah, "akulah yang membuat sebuah pohon tetap berdiri!"

Demikianlah, apa-apa yang terlihat oleh liyan, mendaku sebagai pihak yang merasa paling berperan dan paling berjasa dalam kehidupan. Kemudian saling meniadakan peran orang lain. Semua ada karena dirinya, biar orang lain mengakui dan mengaguminya.

Tidak demikian dengan akar. Ia jauh terbenam, tersembunyi di dalam tanah. Tidak terlihat, tetapi sesungguhnya ia terus bekerja, mengantarkan vitamin berupa air ke seluruh badan pohon, yang memungkinkan batang tetap kokoh berdiri, dahan kuat menahan embusan angin, daun menjaga kehijauannya, bunga bermekaran dan dari dalam kandungannya melahirkan buah yang bermanfaat.

Demikian saya bayangkan ada sejumlah pekerja yang pekerjaannya dilakukan dalam senyap, tidak terlihat orang lain. 

Sebagaimana yang dilakukan oleh KKI Warsi, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pendampingan suku-suku yang terpinggirkan, khususnya di pedalaman Kalimantan dan Sumatera, mereka mewujudkan berbagai program yang berdampak baik dan bermaslahat buat warga masyarakat desa yang terpinggirkan.

Terpinggirkan memiliki banyak arti; terpinggirkan secara sosial, geografis, akses terhadap pemerintahan, terabaikan dan sering terlupakan. Padahal, mereka juga penduduk Indonesia.

Untuk membuka akses masyarakat desa yang berada di pedalaman Kalimantan, melaui salah satu programnya, Warsi membangun website desa sekaligus dengan melatih warganya menjadi "citizen reporter" atau warga pewarta.

Sebagai jurnalis profesional purnatugas yang mendalami "Citizen Journalism" sejak 20 tahun lalu, sudah sering saya terlibat dalam berbagai pelatihan jurnalistik di berbagai wilayah, salah satunya memberikan ilmu menulis berita peristiwa dan cerita nyata (feature) kepada penduduk atau masyarakat desa yang terisolir di Desa Data Dian, Kabupatén Malinau, Kalimantan Utara.

Sebelum melakukan perjalanan ke Data Dian, selama empat hari saya memberi pelatihan menulis kepada 21 peserta warga desa dari 11 désa di Malinau. Tujuannya agar sepulang dari pelatihan, meraka bisa mengisi website desa masing-masing dengan konten yang bermanfaat, khususnya agar bisa mengabarkan kepada dunia luar tentang keunikan maupun kekhasan desa. 

Saya pribadi bertekad untuk terus menjadi akar.

***