Literasi

Menggali Ide Menulis dengan Linggis Inderawi

Minggu, 13 Juni 2021, 11:48 WIB
Dibaca 53
Menggali Ide Menulis dengan Linggis Inderawi
Mata (Foto: sederet.com)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Sesungguhnya saya lebih suka menggunakan istilah "menggali" (dig) karena tercermin adanya usaha di sana, tinimbang menggunakan kata "menghadirkan" (present) yang seolah-olah tukang sulap, abakadabraaaa.... hadirlah ide itu di depan kita.

Tidak begitulah. Maka saya menggunakan istilah "menggali" saja, meski lekat dengan pekerjaan kuli.

Langsung saja, bagaimana menghadirkan, eh... menggali ide menggunakan indera itu (using sense). 

Harap digarisbawahi dulu, hanya dengan menggunakan INDERA ini saja, kamu sudah tidak boleh lagi merasa minder, rendah diri alias "minderwaardigheid complex" alias "inferiority complex" atau bahasa esperanto-nya "krocojiwo".

Dalam bahasa yang lebih puitis, saya lebih suka menggunakan "jiwa-jiwa yang kerdil". Tapi intinya ya rendah diri itulah, susah amat.

Perasaan rendah diri ini, sesungguhnya penyakit bawaan tetapi sangat mudah disembuhkan. Kalau bengek atau kurapan sebagai penyakit bawaan lahir akan menempel terus selagi kamu hidup, penyakit bawaan dalam menulis, yaitu merasa rendah diri, bisa segera kamu singkirkan dengan hanya sering-sering berjemur di bawah sinar matahari keyakinan bahwa kamu lahir sebagaimana para penulis hebat itu, yaitu sama-sama punya indera!

Jadi bagaimana menggunakan inderamu itu? Mari saya udar satu-persatu.

1. Gunakan MATA untuk melihat peristiwa yang terjadi di sekelilingmu, maka kamu akan menghasilkan tulisan yang sifatnya "straight news", berita spontan, yang baru saja kamu lihat peristiwanya barusan: seorang ibu hamil tewas mengenaskan tertabrak motor gede, ibu malang itu ternyata seorang artis sinetron yang selama ini bersembunyi akibat hamil di luar nikah, si penabrak adalah seorang politisi ternama yang sering tampil di televisi.

Bagaimana menuliskan peristiwa yang kamu lihat sendiri yang ternyata sungguh dramatis ini? Tenang, ada bagiannya, bukan di sini....

2. Gunakan TELINGA untuk mendengar peristiwa apapun, yang terjadi di dekatmu ataupun yang jauh sekalipun, termasuk peristiwa tewasnya seorang artis sinetron yang sedang hamil akibat tertabrak politisi ternama yang mengendarai moter gede. Tidak melihat langsung peristiwa bukan berarti kamu tidak bisa menuliskannya, betul?

Bagaimana menuliskan peristiwa yang tidak kamu saksikan sendiri tapi informasinya kamu dengar? Tenang, ada bagiannya, bukan sekarang... 

3. Gunakan HIDUNG untuk mengendus peristiwa janggal tewasnya seorang artis sinetron yang sedang hamil oleh politisi ternama menggunakan mogenya, ini peristiwa yang tidak biasa, berbau konspirasi, penuh drama dan drama (kehidupan) adalah salah satu "nilai berita" yang merupakan unsur penting sebuah tulisan, yang bisa dijual kepada pembaca.

Bagaimana menuliskan peristiwa yang penuh kejanggalan yang tercium oleh inderamu? Tenang, ada bagiannya, bukan saat ini...

Stop, istirahat dulu! 

Sampai di sini, tiga indera yang kamu punya itu saja sudah menjadi jaminan bahwa kamu bisa menjadi seorang penulis hebat dan unik, tanpa harus merasa rendah diri, yang penting MULAI MENULIS. Sebab bagian tersulit dari proses menulis ternyata MEMULAINYA!

4. Apa yang kamu PIKIRKAN, jadilah OPINI.

Maaf ya, hewan saja punya otak, apalagi manusia. Bedanya hewan sesekali saja menggunakan otaknya untuk berpikir, sementara manusia harus selalu menggunakan otaknya untuk berpikir. Kasarnya saya mau mengatakan: hanya hewan saja yang tidak bisa beropini!

Kasar? Benar, tetapi sekadar menggugah kamu saja yang mulai terkantuk-kantuk, tuh!

Jadi, apa yang kamu pikirkan tentang bahayanya Covid-19 ini pastilah akan menghasilkan puluhan tulisan berbentuk opini, asal kamu mau berpikir, bukan?

Bagaimana menulis opini yang berdampak itu? Tenang, ada bagiannya, ga usah kesusu...

5. Apa yang kamu RASAKAN, jadilah PUISI.

Saya paling tidak bisa menulis puisi, bukan karena saya tidak punya perasaan sedih, gembira, marah, kesel, sebel, seneng, tetapi saya tidak mengasah segenap permainan rasa itu untuk menghasilkan puisi indah. Bagaimana bisa menulis puisi indah, wong kalau bicara saja saya kasar, to the point dan tanpa tedeng aling-aling!

Tapi, kamu jangan seperti saya! Mainkan perasaanmu untuk menulis sebuah puisi indah.

Lalu bagaimana menulis puisi yang indah itu? Tenang, jangan tanya ke sana, ada orang lain yang lebih pintar dari saya, tanya sana ke mereka!

6. Apa yang kamu KHAYALKAN, jadilah FIKSI.

Bohong kalau kamu bilang tidak bisa menulis fiksi. Selagi kamu bisa mengkhayal, mestinya kamu bisa menulis novel, atau setidak-tidaknya cerita pendek. Kalau cerpen masih kepanjangan, ya cermin alias cerita mini saja. Kalau kamu bekutat di bidang gaya penulisan ini, kamu akan menjumpai apa yang saya sebut sebagai "Creative Writing".

Kamu mengkhayal suatu saat nanti pacarmu akan menjadi ibu atau ayah dari anak-anakmu? Tulislah cerpen. Kamu mengkhayal tiba-tiba bisa menikahi seorang dokter secantik Reisa Subroto Asmoro padahal ia sudah bersuami? Tulislah sebuah novelet.

Bagaimana menulis cerita fiksi berdasarkan khayalan itu? Tenang, ada bagiannya, jangan terburu-buru...

7. Apa yang kamu CERITAKAN, jadilah FEATURE.

Kalau kamu akrab dengan dunia menulis berita peristiwa, ada unsur dramatis di dalamnya yang menyangkut nasib manusia, kamu pinter mendeskripsikannya, plus kamu pandai bercerita, maka kamu akan menjadi penulis Feature yang jempolan.

Bagaimana menulis feature yang menggugah hati sekaligus menonjok kesadaran pembaca itu? Tenang, ada bagiannya, bersabar sajalah ya....

***

***