Literasi

Makna Kunjungan 10 Mahasiswa Amerika Serikat ke Batu Ruyud

Sabtu, 18 Mei 2024, 11:09 WIB
Dibaca 255
Makna Kunjungan 10 Mahasiswa Amerika Serikat ke Batu Ruyud
10 Mahasiswa Amerika (Foto: Kalvin)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Batu Ruyud, sebuah wilayah di Binuang, Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, kini telah menjadi tempat yang "seksi" di mata orang asing. Buktinya, tempat ini dikunjungi 10 mahasiswa Amerika Serikat yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan warga setempat dengan alam dan hutannya yang masih asri. Bahkan, mereka akan tinggal di lokasi di mana Batu Ruyud Writing Camp (BRWC) diselenggarakan.

BRWC adalah kegiatan literasi yang diprakarsai Wakil Gubernur Kalimantan Utara Dr. Jansen Tipa Padan. Kegiatan yang dihadiri sejumlah penggerak literasi nasional itu dilaksanakan selama sepekan di akhir Oktober 2022 lalu. Sedangkan Batu Ruyud merujuk pada tumpukan batu simbol gotong-royong yang dihasilkan oleh setiap orang yang mengunjungi tempat tersebut, juga atas prakarsa mantan bupati Malinau selama dua periode itu.

Wesley Bowles, salah seorang mahasiswa Le Tourneau University yang mengikuti kunjungan selama empat hari di Batu Ruyud mengatakan, ia bersama rekan mahasiswa dan mahasiswi lainnya ingin mengenal lebih dekat warga Krayan. Mahasiswa dan mahasiswi Amerika ini bercita-cita untuk dapat menjadi bagian dari MAF (Mission Aviation Fellowship) yang bergerak di bidang kemanusiaan.

"Dalam beberapa bulan ke depan saya akan memperoleh sertifikat pilot dan berharap segera menjadi pilot MAF," kata Bowles.

Sebagian dari mahasiswa tersebut sedang berupaya memperoleh lisensi untuk menerbangkan pesawat MAF, pesawat berpenumpang maksimal delapan orang untuk mobilitas orang-orang di pedalaman Kalimantan Utara dalam berbagai kepentingan, baik mengangkut orang sakit, perempuan yang hendak melahirkan, angkutan sembako dan misi kemanusiaan lainnya.

Saat menerima kunjungan para mahasiswa yang didampingi dosen pembimbing dan penerjemah ini Yansen mengaku sangat mengetahui persis tentang para pilot MAF yang melayani perbatasan, apalagi ia pernah menjadi camat yang terletak di perbatasan dengan Malaysia. Pada masa lalu, pilot MAF adalah mantan veteran perang Vietnam, sehingga penampilannya keras dalam makna sesungguhnya.

"Sekarang sudah berbeda, seperti Jeremy sekarang ini," kata Yansen kepada pilot MAF yang sekaligus tampil sebagai penerjemah. Para pilot veteran perang itu, lanjut Yansen, sangat disiplin dan keras.

"Kalau saya lihat dengan mahasiswa yang datang ini dan kelak sebagian menjadi pilot MAF seperti bumi dan langit," katanya. Ia melanjutkan, "Saya senang dengan Jeremy ini, karena walaupun badannya kecil, tetapi sangat gesit."

Kesepuluh mahasiswa-mahasiswi yang akan melakukan kunjungan ke Batu Ruyud itu ialah Jordan Marsh, David Revell, Rebekah Payne, Esther McKaig, Christin Wisniewski, Wesley Bowles, Jonathan Gross, Katie Johnson, Marcus Ramirez, dan Jack Clay. Mereka didampingi kepala desa Binuang, Kalvin Pagu.

Kepada para mahasiswa-majasiswi itu Yansen berharap segera menyelesaikan studinya agar dapat mewujudkan impiannya sebagai bagian dari MAF. Yansen menambahkan, warga Krayan sudah tidak asing dengan orang Amerika. Demikian juga dengan warga asing yang sering berkunjung ke Krayan yang dikatakannya hawanya dingin seperti di Amerika. 

Namun demikian Yansen mengingatkan tentang sedang terjadinya perubahan alam dan kondisi di Batu Ruyud setelah terbukanya akses jalan ke Malinau.

Sebagai contoh, dulu air yang mengalir di sungai Fe Milau sangat jernih, tetapi ketika akses jalan sudah dibuka, airnya berubah menjadi kecoklatan dan keruh. 

Yansen mengaku tidak dapat memprediksi lima tahun ke depan Batu Ruyud akan seperti apa, tetapi ia meminta para mahasiswa Amerika menikmati kondisi apa adanya di mana kondisi seperti itu tidak akan ditemukan di Amerika. "Silakan menikmati dan bersenang-senang di sana," katanya. 

Kepada mahasiswa dan mahasiswi Amerika yang mulai kegiatannya pada Senin (20/5) itu Yansen mengadakan akan menjadikan Batu Ruyud sebagai pusat literasi di mana para pegiat literasi akan berinteraksi dengan masyarakat setempat, menghasilkan suatu karya tulis, sekaligus ajang untuk mempromosikan karya-karya para penulis. 

"Dua tahun lalu ada kegiatan berskala nasional di mana belasan pegiat literasi berinteraksi dengan warga Krayan selama sepekan lamanya," ungkap Yansen. Ia menambahkan, di Indonesia  ada empat pusat literasi, yakni Ubud Writer di Bali, Borobudur Writer di Jawa Tangah, Makassar Writer Festival di Sulawesi Selatan dan satunya lagi Batu Ruyud di Krayan Tengah, Kalimantan Tengah.

Ketika "locus" di mana kegiatan Batu Ruyud Writing Camp sudah menjadi incaran warga dunia, ke depan tidak tertutup kemungkinan kegiatan literasi berskala internasional bernama "Batu Ruyud International Writing Camp" akan terselenggara di jantung literasi Kaltara ini.

Pepih Nugraha