Literasi

Berbicara di Depan Publik, Mulailah dengan Bercerita

Minggu, 21 November 2021, 17:15 WIB
Dibaca 116
Berbicara di Depan Publik, Mulailah dengan Bercerita
Public Speaking (Foto: machnung.ac.id)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Sebenarnya ini bukan rahasia lagi, sudah menjadi pengetahuan umum. Orang-orang komunikasi umumnya paham betul. Penulis atau pembicara yang biasa berhadapan dengan khalayak (audiences) pasti sudah khatam dengan rumus sederhana ini: "hantam kesadaran publik dengan cerita"!

Sayangnya, banyak orang yang tidak mampu mempraktikkannya. 

Sebagai penulis dan sesekali menjadi pembicara di berbagai kesempatan, saya paham betul akan psikologis para penulis "wa bil khusus" para pembicara saat tampil di depan publik, di depan kelas. Mereka sering terpenjara oleh egoisme diri sendiri; merasa diri hebat, merasa diri paling tahu, merasa orang lain "bodoh" dan perlu dikasih tahu.

Nah, mulai sekarang, bunuh sikap egomu itu, stupid! 

(Jangan tersinggung dengan kata "stupid", saya hanya meminjam istilah dalam dunia jurnalistik yang sudah menjadi mantra tersendiri, yaitu KISS; Keep It Simple, Stupid!)

Tentu ini dengan catatan jika kamu mau komunikasi yang akan kamu bangun dan kembangkan diterima khalayak di depanmu. Jangan sekali-kali memakai rumus kuno bahwa kalau mau bicara lancar "anggaplah khalayak sekumpulan monyet!" Itu sama saja menganggap kamu babon atau rajanya simpanse. 

Sudah, benamkan saja rumus kuno itu, tapi jangan terlau sadis juga seperti orang-orang Saudi membunuh jurnalis Jamal Khashoggi!

Jadi apa yang biasa saya lakukan saat saya membuka percakapan apalagi saat harus berbicara di depan umum? Itu tadi; BERCERITA.

Dalam cerita ada DRAMA, dalam drama ada KONFLIK. Maka, kata-kata kunci itulah yang saya gunakan saat saya mulai berbicara di depan publik, di depan khalayak. Kuncinya tidak lain "mengganggu" pikiran publik untuk berkonsentrasi menyatukan pikiran dan perhatian kepada apa yang akan saya katakan kemudian.

Contoh sederhana saat saya menyampaikan materi "Melawan Hoax dengan Menulis/Membuat Konten Bermanfaat di Medsos" di depan siswa, remaja dan orangtua dalam acara "Dekalarasi Damai Umat Paroki Ciputat St. Nikodemus, Bijak dan Cerdas Menggunakan Media Sosial", beberapa hari lalu.

Jauh-jauh hari sebelum acara itu dimulai saya cerewet bertanya kepada panitia siapa audiences yang bakal saya hadapi, siapa saja mereka. Ini upaya PROFILLING, meminjam istilah ilmu Intelijen, saya harus men-scan publik yang akan saya hadapi. Dari jawaban panitia itu saya mendapat satu kata kunci penting: KATOLIK.

Jadi saat saya berbicara mengenai tema "Melawan Hoax dengan Menulis/Membuat Konten Bermanfaat di Medsos", saya menghantam kesadaran publik dengan CERITA KATOLIK.

Kamu tahu apa kalimat pertama yang saya lontarkan?

Begini; "Jangan-jangan JESUS yang dalam keyakinan saya disebut Nabi Isa itu KORBAN HOAX." 

Dan, kamu mau tahu reaksi khalayak di depan saya? Diam seribu bahasa!

Dari sana saya memandang wajah-wajah rasa ingin tahu dan ingin segera saya melanjutkan cerita mengenai kemungkinan Jesus korban hoax. Tentu saja saya sampaikan "sosok kontroversi" (setidak-tidaknya masih dianggap kontroversial apakah dia pengkhianat atau bukan) bernama Yudas Iskariot. Akibat "ulah" sosok inilah Jesus disalib di Bukit Golgota.

Tetapi, jangan benturkan keyakinan dalam agama yang saya anut bahwa sosok inilah yang sebenarnya menggantikan Nabi Isa saat mengalami penyaliban, sehingga sampai kini dalam keyakinan Islam sosok yang disalib itu adalah Yudas, bukan Isa. Biarkan ini urusan keimanan masing-masing saja!

Kembali ke khalayak di depan saya yang sudah saya perkirakan semuanya beragama Katolik, saya melihat reaksi yang berbeda; ada yang mengangguk-angguk, ada yang melempar senyum kecut, ada juga yang masih melongo. 

Saya ga peduli, yang penting; inilah cara saya membuka kesadaran publik agar di awal penyampaian materi bisa memusatkan pikiran kepada diri saya. Toh apa yang saya sampaikan relevan dengan pancingan yang saya umpankan, yaitu tentang hoax.

Nah, kunci pentingnya bagaimana saya menempatkan diri saya sendiri sebagai publik yang ada di depan saya. Saya seolah-olah berada di antara kerumunan itu. Selain memainkan emosi, saya memainkan empati sekaligus. 

Saya bisa saja berbusa-busa mengungkap kehebatan saya (kalau iya hebat) sebagai penulis atau pembicara, sebagai jurnalis Harian Kompas yang berpengalaman 26 tahun kerja, atau sebagai penulis yang sudah memulai karier sejak sekolah dasar di tahun 1977, pendiri blog keroyokan terbesar se Asia bernama Kompasiana blablabla... Itu tidak saya lakukan, sebab bagi mereka semua itu TIDAK PENTING!

Terlalu banyak bercerita tentang kehebatan diri si pembicara hanya akan terjebak "onani qua intelektual" saja. Lebih baik "merendahkan" diri setara dengan publik di depan saya, publik yang ingin tahu cerita saya karena kerangka berpikir sudah saya bentuk sejak awal, kemudian NARASI saya tembakkan dengan sendirinya. 

Jadi ketika tanggapan publik menunjukkan antusiasme sepanjang saya berbicara, tidak henti-hentinya bertanya karena ingin memuaskan rasa ingin tahunya, ketika suasana hening saat saya berbicara tanpa ada yang memainkan gawai, maka saya pikir teknik sederhana membuka pembicaraan dengan NARASI atau STORYTELLING ini sudah berhasil.

Kamu bisa lakukan cara saya, dengan catatan isi kepala kamu penuh dengan pengatahuan mutakhir tentang kepakaranmu dan informasi terkini tentang segala hal yang sedang jadi pembicaraan umum (trending topic), yang sekiranya bakal membantu omonganmu didengar khalayak di depanmu. Saya tidak mau tau bagaimana caramu memenuhi isi kepalamu.

Soal isi materi mengenai "Melawan Hoax dengan Menulis/Membuat Konten Bermanfaat di Media Sosial", itu sepenuhnya rahasia perusahaan diri saya.

***