Filosofi

Yansen TP: Pancasila di Baju Lun Dayeh

Kamis, 1 Juni 2023, 08:47 WIB
Dibaca 458
Yansen TP: Pancasila di Baju Lun Dayeh
Pancasila di baju baju Lun Dayeh

1 Juni tanggal merah. Hari libur nasional. Baru teringat, tepatnya diingatkan, kepada saya kemarin, pas tutup bulan Mei.

"Besok kafe kita buka, atau tutup?" tanya putra saya.

"O ya ya....," sela saya. "Tanggal merah. 1 Juni. Hari Kelahiran Pancasila!"

Kami pun berdiskusi tentang buka, atau tutup, kafe pada hari libur nasional 1 Juni 2023. Saya mengusulkan tutup.

"Saya harus makan dari mana?" tanya sang putra. Ia mulai kritis. Mencerna setiap peristiwa. Lalu mengolahnya secara nalar menjadi bagian dari tindakan.

Berbeda dengan kantor, kafe atau resto, biasanya di hari libur atau week-end malah rame. Maka kami memutuskan kafe buka.

Diskusi sampai pada mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Bahwa bekerja dengan sungguh, seakan-akan bukan untuk manusia melainkan untuk Tuhan, itu ujud nilai Pancasila. Bahwa melayani dengan sungguh (to serve), amalan Pancasila pula. Mencari nafkah dengan bekerja bagian dari mengamalkan Pancasila juga.

Homo faber. Manusia makhluk yang bekerja untuk hidup. Yang memenuhi keperluan hidup sehari-hari, makan minum, dengan berusaha dan bekerja sungguh; itu pengamalan Pancasila.

Saya pun teringat ketika sekolah SMP dan SMA dulu. Sekian butir yang harus dihafal terkait dengan Pancasila dalam pelajaran PMP dengan P-4nya itu.

Kini setelah "lulus sekolah" formal. Mengapa saya jadi rindu dengan pelajaran, yang ketika sekolah dulu, terasa membosankan? Setelah terjun di masyarakat, saya baru mafhum. Dan ngeh. Bahwa sungguh brilian konseptor Pancasila kita ini.

Dalam olah pikir yang demikian itu, sungguh layak dan pantas memang jika ada satu hari khusus kita diingatkan untuk memperingati Pancasila. Kita ini manusia. Yang  jika tidak diingatkan, kadang lupa. Sering bukan sengaja. Namun, rutinitas kita yang membuat kita lupa.

Pancasila di bahu baju Lun Dayeh, karya Dr. Yansen TP, ini telah ke mana-mana. Yansen cerita bahwa baju ini sampai di Malaysia dan Brunei, di mana banyak orang Lun Dayeh (Lun Bawang) di sana juga. Ketika kunjungan muhibah ke Kaltara, mereka dihadiahi Yansen baju kebesaran ini.

Mari kita merenung. Dan coba berbuat sesuatu. Mengamalkan Pancasila dalam pikiran, perkataan, perbuatan, dan belarasa hari ini.

Tanggal dan bulan saat ini (1 Juni) kalender kita merah. Hari libur nasional. Sejak 2016, 1 Juni menjadi peringatan Hari Lahir Pancasila seiring dengan terbit dan diundangkannya  Keputusan Presiden RI No. 24 Tahun 2016.

Saya lalu teringat sahabat, kawan-rapat, serta teman diskusi Dr. Yansen TP, M.Si. Ia memberi saya 2 helai baju hasil ciptakarsanya. Yang satu, karena ukuran LL, untuk adik kandung saya, seorang kepala SMP Negeri pedalaman Kalimantan Barat. Yang satu pas buat saya: ukuran M.

Baju Lun Dayeh ini selain ada lambang Pancasila, ada tulisan NKRI-nya. Menurut saya, inilah salah satu ujud mengamalkan Pancasila. Menyematkan baju kepada setiap orang agar ingat berbuat seperti yang disimbolkan. Baju kebesaran Dayak-Indonesia ini, saya kenakan hanya pada event tertentu saja. Jika naik pesawat Garuda saja saya kenakan.

Baju ini saya pernah kenakan waktu acara pernikahan ponakan di sebuah hotel *** di Pontianak. Orang-orang melihatnya. Berdecak. Bahkan ada ibu-ibu mengelusnya. Luar biasa!

Saya pun pernah mengenakan baju kebesaran ini pada Misa Malam Natal di sebuah paroki di Jakarta. Ekor mata saya sepat menangkap banyak mata bukan menandang saya (grrrr kale?), melainkan mengamati baju yang saya kenakan. Keluar Misa, beberapa orang bertanya. "Dari mana dapat baju ini?"

"Diberi Pak Yansen," jawab saya.

Di bandara, atau di pesawat, sering orang, atau penumpang, bertanya, "Dari mana dapat baju ini?"

"Pak Yansen. Seorang Lun Dayeh. Ia birokrat, tapi sebenarnya seniman dan budayawan," jawab saya.

Sekadar untuk diketahui. Di kalangan Dayak Lun Dayeh, saya diberi gelar kehormatan "Derayeh Lingu Tawak Lengilo". Seorang yang menggaungkan Lengilo'. Tawak adalah gong yang mesti dibunyikan. Baju Dayak-Indonesia ciptakarsa Yansen ini sungguh alat promosi sekaligus komunikasi yang mustajab.

Saya tak tahu persis, sudah berapa Yansen merogoh dari saku pribadinya buat mencetak baju ini. Ia tak peduli. Yang penting baginya, baju ini disukai, dan dikenakan, dengan suka dan sadar! (Ya kan, Pak?)

Pancasila di bahu baju Lun Dayeh, karya Dr. Yansen TP, ini telah ke mana-mana. Yansen cerita bahwa baju ini sampai di Malaysia dan Brunei, di mana banyak orang Lun Dayeh (Lun Bawang) di sana juga. Ketika kunjungan muhibah ke Kaltara, mereka dihadiahi Yansen baju kebesaran ini.

Apa yang terjadi? Mereka sungguh bangga mengenakannya. Hanya saja, baru sadar, setelah ramai dilihat orang: Kok ada NKRI-nya?

Ah, ya!

Tapi di atas semua itu, saya sungguh mencernai kata-kata Yansen ini. Katanya, "Lambang  burung garuda bagi orang mungkin simbol mati, tapi bagi saya: hidup."

Sembari mengatakan dengan gesture lima jari terbuka terbentang di dada, Yansen seakan mengingatkan. Pancasila itu hidup dalam diri-kita. Bukan hanya simbol. Melainkan memancarkan buah-buahnya dalam setiap helaan napas, pikiran, tindakan, dan perbuatan nyata kita sehari-hari.

Jika 1 Juni, hari ini, kita libur nasional. Ayo bawa Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan "hidup" seperti dikatakan Yansen.

Tags : filosofi