Filosofi

Serial Kebangsaan (18) Drama Manipulatif Demi Menghindari Jerat Hukum

Selasa, 2 Agustus 2022, 07:35 WIB
Dibaca 33
Serial Kebangsaan (18) Drama Manipulatif Demi Menghindari Jerat Hukum
Ilustrasi panggung (Foto: Aliexpress)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Dunia ini panggung sandiwara, kata Ahmad Albar. Panggung sandiwara tak ubahnya teater yang setidak-tidaknya mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia, kata Erving Goffman tentang dramaturgi.

Drama adalah pura-pura, bukan yang sesungguhnya. Maka dari itulah ada aktor yang memainkan setiap drama. Ia bertindak sebagai pemeran. Peran apa saja.

Dalam drama, Anda bisa menjadi orang paling baik atau orang paling bajingan. Anda bisa jadi orang sekaya Sultan atau miskin semelarat kaum Sudra.

Di balik sebuah drama selalu ada sutradara. Dialah yang mengatur Anda sebagai pemenang atau pecundang. Jalannya cerita mengikuti skrip atau skenario yang sudah dipersiapkan. Sebagai pemeran, Anda harus tunduk pada sang sutradara 

Penonton dalam sebuah drama umumnya orang-orang dengan hati dan pikiran berada di titik nol saat memasuk ruang teater. Dia netral, meski mungkin sudah membaca sekilas tentang resensi pementasan drama itu. Tetapi penonton yang baik adalah yang memulai takaran hatinya dari nol, seperti teriakan petugas pom bensin.

Pemeran adalah tokoh sentral hidup-matinya sebuah lakon atau drama. Tanpa para pemeran itu, Anda tidak menonton pementasan dan hanya membaca skrip kaku tanpa aksi teatrikal yang dimainkan mereka.

Sebaliknya, pemeran bisa memainkan drama apa saja meski tanpa skenario.

Properti atau alat kelengkapan drama adalah segala peralatan yang melekat yang digunakan para pemeran, utama maupun sampiran, sesuai setting waktu dan tempat yang ditentukan. Apa pun bisa dijadikan properti. Rumah, mobil, kursi roda, ember sampai alat penyangga leher.

Kalau akhir-akhir ini Anda disuguhi pementasan teatrikal dramatis yang diperankan seorang pesohor bersuara lantang dengan derai tawanya yang membahana, sesungguhnya itu bukan drama. Melainkan kenyataan. Itu bukan ilusi, tetapi benar-benar terjadi.

Bahwa ternyata nyali si pesohor itu ibarat tissue terkena air basah di depan aparat hukum padahal sebelumnya terkesan gagah perkasa, itu adalah kenyataan, bukan drama, bukan ilusi. Itu benar-benar terjadi.

Bahwa ternyata untuk mengelabui aparat hukum sang sutradara dalam hal ini pengacara memintanya berpura-pura sakit, stress, depresi dan semacamnya, itu juga kenyataan, bukan drama, bukan ilusi. Itu benar-benar nyata.

Jangan anggap aparat hukum sedang bermain drama seolah-olah berhasil dikibuli sehingga meloloskan si pesohor dari keharusan ditahan, itu memang kenyataan, bukan drama, bukan ilusi. Itu benar-benar fakta.

Namun ada satu hal penting yang terlupakan...

Benar bahwa aparat hukum bisa dikibuli atau pura-pura menutup mata, tetapi mata publik itu sejatinya sangat terbuka, melotot terus bahkan, khususnya menyangkut kejanggalan yang melibatkan pesohor sekaligus penanganan hukum oleh aparat.

Celakanya, publik adalah penonton drama yang sangat kritis. Mereka skeptis, cenderung tidak percaya begitu saja atas pementasan dan jalannya cerita yang berkembang di ruang teater publik. Mereka bisa tertawa terbahak-bahak meski tidak ada unsur kelucuan dalam drama itu. Mereka adalah penonton yang bebas.

Satu hal lagi, mereka sesungguhnya sedang menantikan satu adegan klimaks, yaitu sang pemeran utama berpura-pura gila atau bahkan koma demi menghindari penjara.

Semua peran dan adegan apa saja akan dilakukan demi terhindar dari jerat hukum.

***