Filosofi

Dekat

Rabu, 22 Juni 2022, 08:08 WIB
Dibaca 344
Dekat
Dekat bukan soal fisik semata.

Dekat.

Mendengar patah kata ini. Apakah Anda langsung tertuju pikiran pada jarak? Yakni kedekatan fisik semata-mata, atau proximity?

Dalam kehidupan sehari-hari. Kita kerap berjumpa. Bahkan menggunakan istilah atau terminologi "dekat".

Misalnya saja, "Saya cukup dekat dengannya."

Dekat di sini dapat berarti: ada hubungan kekeluargaan, persahabatan, mengenal luar dalam, kesamaan pemikiran, kesamaan hobi, kesamaan dalam hal tingkah laku, kesamaan dalam hal perguruan, kesamaan dalam hal lain-lain seperti kesamaan dalam asal usul etnis, geografi, primordial, dan sebagainya.

Dari contoh di atas. Kita sepaham. Bahwa "dekat". Bukan semata-mata perkara fisik belaka. Namun, ada dimensi metafisiknya  pula.

Untuk mendeskripsikan "kedekatan" lebih dalam. Perkenankan saya berkisah ihwal kedekatan saya dengan junior saya di Kompas Gramedia. Yang kini sama-sama pensiunan. Dia dikenal sebagai Pepih Nugraha. Atau kawan-rapat biasa menyapanya: Kang Pep.

Sejak lama. Saya telah mengenalnya. Ketika itu dia masih wartawan harian Kompas. Saya editor di penerbitan PT Grasindo, kelompok Kompas Gramedia.

Kedekatan kami juga karena sama-sama sebagai penulis. Saya kolomnis di berbagai media, era 1990-an. Sementara Pep junior menulis sejumlah cerpen dan cerbung yang, antara lain dimuat di majalah berkelas saat itu: Hai.

Kemudian pada tahun 2007. Tatkala saya ditugaskan sebagai salah seorang penyangga pendirian sekaligus dosen di Universitas Multimedia Nusantara yang ketika itu kantornya di bedeng dan kemudian pindah ke gedung BNI 46, Pepih Nugraha sering dipanggil sebagai narasumber terutama terkait jurnalistik sebab dia memang pakar di bidangnya.

Pepih membuka keran ingatan. Sekaligus warning Pak Jakob mengenai salah satu penyakit bangsa kita. Yaitu bangsa yang tidak tulus. Bangsa yang selalu ada pamrihnya. Itulah kerisauan Pak Jakob. Yang nancap di otak kami. Sekaligus menjadi kerisauan Kang Pep dan saya.

Seingat saya, di wisma BNI 46 itulah ketika angkatan pertama, di fakultas ilmu komunikasi untuk mengisi pikiran baru mahasiswa yang akan masuk tahun pertama, Pepih disandingkan dengan Prita Laura sebagai pemateri. Usai acara pembekalan itu, mahasiswa merasa bahwa mereka tepat memilih jurusan.

Para penganjur dan guru kami di Kompas Gramedia, sama. Saya masuk akhir tahun 1989. Pepih dua tahun kemudian.

Untungnya, kami sama-sama dididik oleh para pendiri yang menghidupi sekaligus menanamkan nilai-nilai ugahari, apa adanya, kerja keras, jujur, memuliakan pekerjaan, menjunjung tinggi budi pekerti, sopan santun, menaruh sikap hormat pada yang lebih tua, menggunakan uang dan harta benda sebagai alat dan sarana bukan tujuan.

Usia kami kini pensiunan. Akan tetapi, kami sering kali berjumpa. Literasi membuat kami bersatu kembali untuk bagaimana mengedukasi meliterasi bangsa kita dari berbagai sisi. Terutama literasi dasar baca tulis.  Meski juga tanpa menafikan literasi  bidang lain. Misalnya literasi finansial, literasi politik, dan literasi kebangsaan.

Sembari sarapan pagi di sebuah hotel mewah. Terletak di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat (21 Juni 2022). Arah diskusi. Atau presisinya disebut "nostalgia transedental" kami tiba pada pemikiran sekaligus buah renungan salah satu pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama. Tentang kerisauannya pada bangsa kita.

Pepih membuka keran ingatan. Sekaligus warning Pak Jakob mengenai salah satu penyakit bangsa kita. Yaitu bangsa yang tidak tulus bangsa yang selalu ada pamrihnya. Contoh paling jelas adalah bagaimana pak ogah di prapatan jalan selalu ada pamrih, menolong orang selalu tidak dengan tulus. Seakan-akan ciri khas gotong royong dan bela rasa yang menjadi kekhasan warisan nenek moyang bangsa kita dari zaman dahulu kala telah mulai sirna di abad modern.  Itulah kerisauan Pak Jakob. Yang nancap di otak kami. Sekaligus menjadi kerisauan Kang Pep dan saya.

Sementara itu. Saya pun mengimbuhi. Seakan-akan tidak mau kalah ingatan dari Pepih. Segar dalam ingat saya. Pak Jakob mengajar dengan contoh. Katanya, "Tujuan kita mendirikan Kompas Gramedia bukan untuk menjadi konglomerasi ekonomi. Akan tetapi, menjadi contoh hidup bahwa kita bekerja untuk memuliakan manusia itu sendiri. Bahwa hasil, keuntungan yang kita dapatkan dari masyarakat bukanlah semata-mata transaksi jual beli, akan tetapi merupakan bukti pengakuan masyarakat pada kualitas dari karya produk dan pelayanan kita yang prima."

Pembicaraan kami bukan hanya tentang Pak Jakob semata.  Yang hanya beliau, di  lingkungan Kompas-Gramdia, boleh disapa dengan "Pak". Yang lain, setinggi apa pun jabatan dipangkunya, cukup disapa: Mas.

Kami menyebut pula segelintir sosok. Yang niscaya Anda semua tidak familiar dengan nama itu. Misalnya, P. Swantoro, Marcel Beding, Parakitri, Alfons Taryadi, J. Adisubrata. Dan masih banyak lagi.

Itulah para guru kami. Sedemikian rupa, sehingga membuat kami dekat. Baik dalam arti kiasan maupun dalam arti harfiah.

Saya masih ingat. Ketika itu 2015. Saya telah pensiun dini dari KKG. Suatu hari, saya ke Palmerah. Kami tak sengaja, berjumpa di parkiran  Saya infokan, sebagai pensiunan yang telah memiliki penerbitan sendiri, asyik juga. 

"Ayo, pensiun!' kata saya. "You pasti menjadi!"

Beberapa tahun kemudian. Saya mendengar kabar. Pepih benar-benar pensiun dini.

Entah koinsidensia, atau memang rencana-Nya. Kami dipertemukan kembali dalam satu meja-kerja dalam berbagai kegiatan, terutama literasi. Dan juga media sosial serta berbagai kursus menulis dan pelatihan.

Inilah hidup kedua bagi kami. Kami sungguh menikmati kehidupan baru yang amat menggairahkan ini.

Kami kerap berkelakar. Terutama generasi kedua. Bila bertemu sering bilang satu alumni UGM: Universitas Gramedia.

Tentu suatu berkat. Dan kesempatan tersendiri. Kami telah menjadi insan Kompas Gramedia selama puluhan tahun. Beberapa warisan nilai budaya teristimewa karakter para pendiri setidak-tidaknya mengucur pada kami. Yang konon katanya seperti aliran kran: makin ke ujung, kian sedikit tetesannya. Akan tetapi, benarkah demikian?

Apa pun kondisinya. Dosa jika memungkirinya. Kompas Gramedia adalah University of Life!

***

Maka orang dekat. Saudara. Karib. Dan handai tolan sejati kita. Bukan semata dan pertama-tama terkait hubungan darah. Atau berdasarkan kepada relasi fisik.

Kesamaan, atau kemiripan dalam hal tertentu --hal-hal baik dan nilai-nilai tentu saja-- membuat kita dekat satu sama lain.

Jadi, apakah yang membuat manusia (merasa) dekat satu sama lain? Duduk perkara yang menjadikan manusia merasa aman dan nyaman?

Tak bisa lain. Kesamaan dalam hal kebaikan, nilai, dan kemanusiaan. Ton agathon, kebaikan. Itulah garansi dunia ini damai.

Kejahatan, iri hati, dengki, dan hal-hal buruk lainnya. Boro-boro mendekatkan. In potentia, dari sononya, ketidakbaikan menjauhkan manusia dari manusia. Sekaligus, menjauhkan manusia dari Sang Pencipta, asal mula segala Yang Baik.

Tags : filosofi