Filosofi

Revitalisasi Wawasan Nusantara (2)

Senin, 10 Mei 2021, 11:39 WIB
Dibaca 898
Revitalisasi Wawasan Nusantara (2)
wawasan nusantara

Dodi Mawardi

Penulis senior

--------------------------------------------

Ketemu Saudara Baru dari 27 Provinsi

--------------------------------------------

 

Babak baru dalam kehidupan saya ketika memasuki masa SMA. Benar-benar baru. Saya beruntung mendapatkan beasiswa penuh bersekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang pada tahun 1990. Di sana, saya berjumpa, bergaul, dan hidup selama 3 tahun penuh berasrama, dengan kawan, sahabat, dan saudara sebangsa setanah air dari 27 provinsi, dari puluhan suku bangsa berbeda, dan beragam latar agama.

 

Sungguh, saya terkaget-kaget ketika pertama kali berjumpa dengan kawan baru asal Papua, Timor, dan NTT. Ketika bersalaman dan berkenalan, tangannya kekar dan intonasi bicaranya pun berbeda. Terdengar unik. Begitu banyak perbedaan antara kami. Saya orang Sunda yang cenderung lembut. Dia orang Indonesia timur yang sekilas berkarakter kokoh dan ‘serem’ hehe.

 

Eh ternyata setelah beberapa hari bergaul, teman ini hatinya jauh lebih lembut dibanding saya dan kebanyakan kami. Ramah dan sopannya pun minta ampun. Tapi memang, urusan fisik dia kuat sekali. Di atas rata-rata. Sekian lama bergaul, justru perbedaan itu menjadi pelangi yang indah. Kami dapat hidup harmonis sebagai saudara. Sampai detik ini.

 

Begitu pun ketika berjumpa dengan orang Batak dan Makassar. Perbedaan budaya membuat awalnya saya terkejut. Pada saat berkenalan, suaranya keras sekali. Hampir saya tutup kuping. Saya baru tahu kalau sebagian orang Batak kalau bicara sangat keras. Meski jarak kami berdekatan. Sementara saya, orang Sunda… ya itu tadi cenderung halus dan pelan. Terjadilah konflik kecil antara kami. Walaupun akhirnya, kami tertawa-tawa kemudian.

 

Tak cukup satu buku untuk mengungkapkan betapa serunya pertemuan pertama saya dengan saudara baru yang berasal dari Aceh, Batak, Karo, Melayu, Minang, Bengkulu, Lampung, Jawa, Betawi, Tionghoa, Dayak, Banjar, Madura, Bali, Sasak, Timor, Alor, Solor, Bugis, Makassar, Manado, Minahasa, Ambon, Maluku, Papua, dan lain-lain. Pertama kali pula berjumpa dan bergaul secara dekat dengan mereka yang beragama Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha.

Betapa membuka mata dan telinga saya yang saat itu baru berusia 15 tahun, tentang Indonesia. Indonesia yang sangat beragam. Indonesia yang benar-benar Bhineka Tunggal Ika. Bukan katanya, bukan menurut buku, bukan cerita guru. Saya mengalami dengan mata, telinga, seluruh panca indera dan hati, serta sekujur tubuh, bergaul, berinteraksi, dan hidup selama lebih dari 1.000 hari dalam kebhinekaan itu.

 

Saya makan bersama mereka. Saya belajar bersama mereka. Saya tidur dalam satu atap bersama mereka. Bahkan saya mandi di tempat dan waktu yang sama dengan mereka. Kami berjuang bersama, senang dan sedih bersama. Segala hal kami lakukan bersama. Bisa, memang bisa seperti keyakinan para pendiri bangsa, meski kami berbeda asal dan latar, ternyata bisa hidup bersama secara harmonis.

 

Cara pandang saya terhadap Indonesia, berubah 180 derajat. Saya yang awalnya memandang Indonesia sebagai Sunda dan Muslim, saat itu mengakui dan mengubah secara sadar, bahwa Indonesia itu milik beragam suku bangsa, ras, agama, dan berbagai latar belakang yang berbeda lainnya. Indonesia juga mulai dari Aceh sampai Papua, Talaud sampai pulau Rote. Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika. Indonesia itu bukan hanya milik satu dua kelompok atau golongan saja.

 

Selama tiga tahun pula, saya dan 280 kawan seangkatan mendapatkan mata pelajaran khusus yang tidak diperoleh siswa SMA lain: Wawasan Nusantara. Pengajarnya seorang kolonel angkatan udara dan seorang guru senior Taman Siswa. Kami dijejali dengan teori Wawasan Nusantara; wawasan kebangsaan, wawasan kejuangan, dan wawasan kebudayaan. Bayangkan, tiga tahun secara terus menerus. Dan bukan hanya teori, karena dalam kehidupan sehari-hari saya langsung mempraktikannya bersama siswa yang berasal dari 27 provinsi, dari beragam suku bangsa, beraneka agama, dan 1001 perbedaan lainnya.. Praktik secara langsung dalam kehidupan nyata untuk saling menghormati, menghargai, toleransi, empati, solidaritas, kebersamaan, dan lain sebagainya.

 

Cara pandang Indonesia adalah Sunda dan Muslim, tinggal kenangan.

Berganti menjadi Indonesia adalah benar-benar Bhineka Tunggal Ika, seperti kalimat yang tergantung di kaki lambang negara burung Garuda.

 

Hal yang masih membekas dan menempel kuat dalam diri sampai sekarang, sampai nanti...

  

(Bersambung…)

 

Baca juga: 

Revitalisasi Wawasan Nusantara (1) Sunda dan Muslim