Filosofi

Cinta Nusa Bangsa dan Bahasa Mulai dari Guru

Sabtu, 23 Januari 2021, 13:07 WIB
Dibaca 227
Cinta Nusa Bangsa dan Bahasa Mulai dari Guru
Cinta Nusa Bangsa dan Bahasa berawal dari Guru.

Kadang, "pelajaran" setelah kita tamat sekolah, baru paham.

Setidaknya, itu menurut saya. Kini saya telah bekerja. Dan telah belasan tahun lalu, tamat SMA.

Tapi hingga hari ini, saya masih menyimpan berkas-berkas "pelajaran" masa SMA. Saya SMA Tarakanita, sebuah sekolah favorit dan unggulan. Letaknya di bilangan Gading Serpong, Tangerang. Itu berlangsung sudah lama. Tahun 2000-an sekian.

Ah, jangan sebut angka itu! Sebut saja NILAI yang saya dapat dari pelajaran dan pendidikan, semasa SMA.

Yang penting, kami mengingat guru kami Ny. agustina (yang betul: Ny. Agustina, ya?)

Dari guru semasa SMA lah kami diajarkan nilai-nilai. 

Kami berkelompok ditugaskan guru untuk membaca sejarah dan fakta tentang pendiri Republik ini, Ir. Soekarno. Kami ringkas semua bacaan yang kami baca. Inilah, di ilustrasi itu, judulnya. Tebalnya: 32 halaman. Tentu, untuk ukuran baju anak SMA, berat lho!

Tapi kami bisa!

Dari situ, saya lalu mengenal siapa Bung Karno. Juga gagasannya. Serta pemikirannya tentang Nusa dan Bangsa, serta bahasa. Kita wajib bela bersama!

Lihatlah! Judulnya saja lucu. Maklum, anak-anak SMA belum mahir berbahasa Indonesia. 

"Di susun" seharusnya penulisannya dirangkai.  "Di" dirangkai dengan kata kerja, tapi cara penulisan kami, dipisah. Malu jadinya. Tapi itulah sejarah!

Baca juga: Keajaiban Bahasa Indonesia untuk Bangsa

Di Kata Pengantar, halaman 2:

Kami membuat Biografi ini berasal dengan fakta yang terjadi saat itu atas anugrah Tuhan yang Maha Esa, kami juga ingin mengucapkan terimakasih pda semua orang yang membantu kami.

Akhir kata kami ucapkan kepada guru kami Ny. agustina yang telah mengajarkan kami cara membuat biografi ini. Terimakasih untuk semua perhatiannya. Terima kasih banyak.

Duh, aduh! Napas rasanya tersengal, mau putus oksigen, membaca kalimat itu. Kalimat panjang bukan main. Lagi pula, nama Ibu Guru kok ditulius dengan huruf kecil, sih? Malu jadinya! Tapi itu fakta!

Yang penting, kami tetap mengingat guru kami, Ny. agustina (yang betul: Ny. Agustina, ya?)

Dari guru semasa SMA lah kami diajarkan nilai-nilai. 

Seperti judul tulisan singkat ini!

***

Benarlah ungkapan, "Non scholae sed vitae discimus!" 

Kita sekolah bukan semata-mata untuk mendapatkan nilai agar lulus, melainkan yang pertama-tama, sekolah untuk hidup. Banyak orang bagus nilainya waktu sekolah/ kuliah, tapi gagal dalam hidup. Kita tidak ingin seperti itu!

Di balik guru memberi kami tugas meringkas Biografi Bung Karno, nilai berikut ini yang kami dapat.

1. Memahami dan semakin menghargai pendiri negara Indonesia.

2. Memiliki semangat patriotisme: cinta nusa bangsa dan bahasa.

3. Banyak membaca dan belajar melalui melakukan (learning by doing).

4. Literasi. Kami "dipaksa" membaca. Mulanya, aduh, apa ini? Guru kok enak saja nyuruh-nyuruh. Namun kemudian, kami memahami maksudnya.

5. Sekolah bisa tamat. Tapi belajar sepanjang hayat.

Baca juga: Trik Menulis Objek di Sekitar Kita

Saya masih menyimpan berkas-berkas tugas semasa SMA. 

Lalu Bu guru kami, Ny. Agustina? (saya sudah tahu, nama orang mesti ditulis dengan huruf kapital).

Di mana, ya, beliau sekarang? Setelah tidak berjumpa belasan tahun?

Murid tetap ingat guru. Meski guru bisa jadi lupa muridnya.

Itulah, menurut saya, salah satu kriteria: murid baik dan berbakti!

***