Filosofi

Pikiran Tertutup, Sikap Pasrah Adalah Hambatan Utama Seseorang untuk Maju

Minggu, 19 Februari 2023, 05:47 WIB
Dibaca 121
Pikiran Tertutup, Sikap Pasrah Adalah Hambatan Utama Seseorang untuk Maju
Foto : Canva berpikir

Pikiran atau mindset adalah salah satu hambatan utama seseorang untuk maju. Pikiran yang tertutup, tidak kreatif akan memagari atau menghambat diri sendiri untuk melangkah maju untuk melakukan sesuatu. Katakanlah perubahan (pembaharuan) atau pembangunan.

Cara pandang orang yang demikian (tertutup) umumnya apatis. Menyerah duluan. Cara pandang mulai dari tantangan. Setiap kesempatan atau peluang, dicari hambatan terlebih dahulu. Bukan baik sebuah kemajuan.

Dalam hal mempersepsi (memandang) seseorang yang maju, cara melihatnya demikian;

Pertama, dia khan bisa begitu karena dia begini, karena dia begitu. Karena dia punya ini, punya itu, dst. Saya khan tidak punya seperti itu, dst.

Kedua, kalau saya buat ini, nanti hambatan akan begini, masalah akan begitu, dst. Ya, memang tidak ada pembangunan atau perbuatan melakukan kebaikan tanpa tantangan. Selalu ada di setiap masa dan tempat. Ada di mana² pokoknya. Tdk ada tempat bebas dari tantangan.

Ketiga, kalau dulu biasanya begini, dulu biasanya begitu, dst. Tentu saja. Ya, biasa dulu, belum tentu biasa jaman sekarang. Masa dan lingkungan sudah berubah. Cara kerja jaman dulu beda jauh dgn jaman sekarang.

Contoh sederhana saja. Dulu ketik pakai mesin tik. Kalau salah, pakai tip ex. Pakai carbon utk memperbanyak hasil ketikan. Juga dulu kirim surat pakai pos dan waktu sampai hari bahkan minggu. Tergantung jauh atau jarak. Sekarang pakai email. Tdk butuh lama, diterima hitungan detik.

Dalam hal pertanian, dulu tebas pakai parang, tebang pakai kampak. Sekarang pakai mesin rumput dan tebang pakai sinso. Panen manual pakai pisau arit, sekarang bahkan sebagian pakai mesin. Ada banyak hal atau dimensi kehidupan manusia berubah.

Contoh lain atau praktek yg berlaku selama ini yg mudah dipahami. Dalam banyak kesempatan saya mengusulkan perubahan pola pelaksanaan Perayaan 17 Agustus di Krayan. Pola yg ada sekarang saya nilai menguras energi (pikiran, waktu dan dana) masyarakat sangat besar. Pola yg ada sekarang, sudah dipakai paska kemerdekaan sampai hari ini. Sudah berlangsung 50-an tahun. Apakah masih bermanfaat dan relevan? Saya sendiri tdk yakin.

Tahun 2004, sebagai Ketua Panitia HUT 17 Agustus saat itu, paradigma sudah saya geser jauh. Sekalipun pola masih sama. Item kegiatan sudah byk berubah. Campur olah raga dan budaya. Seimbang. Tapi tidak berlanjut setelah itu. Kembali ke pola lama (paradigma lama).

Contoh saja. Pertandingan olah raga (devisi utama, divisi I, devisi II, anak², ibu² dan angkatan 45) menghabiskan waktu lebih dari 2 minggu dgn dana habis ratusan juta. Andai kata waktu yg terpakai oleh setiap org (masyarakat satu per satu) dihargai dengan uang, mungkin milyaran rupiah hitungannya dana yg terpakai atau habis.

Hemat saya (maaf saja), ini cara kerja yg sudah tidak sesuai dgn jaman. Tidak efisien dan efektif. Kuras waktu, tenaga dan biaya yg sangat besar utk ukuran di Krayan, hasil dan manfaat tidak sepadan.

Pertanyaannya, apakah polanya tidak bisa dievaluasi? Tentu bisa asal semua pihak berangkat dengan pikiran terbuka dan kreatif atau inovatif. Semua berpikir baru. Berpikir berubah. Tidak pakai pembenaran dulu begini, dulu begitu, dst. Soal polanya seperti apa, itu soal mudah saja.

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan, setiap jaman punya peluang, kesempatannya sendiri, juga tantangannya sendiri. Tidak ada yg sama persis. Oleh karenanya untuk melangkah, berbuat sesuatu, cara kerja harus disesuaikan dgn peluangan dan tantangan yg ada. Harus dinamis dan akselerasi pikiran dan kaki atau tangan harus sesuai keadaan dan tantanganšŸŒ¾šŸŒ¾

#selamatnikmatikopisiangšŸŒ¾šŸ™šŸ’Ŗ