Filosofi

Pemimpin yang Melayani

Selasa, 20 Juni 2023, 20:00 WIB
Dibaca 509
Pemimpin yang Melayani
SUMBER: cukup jelas

Sekilat, terasa Contradictio in terminis  - bertentangan dari sisi terminologi. Masa' ya, pemimpin melayani. Bukannya seorang pemimpin dilayani? 

Itu konsep kita, yang hidup di dunia kolonial dan paternalistik. Di alam zaman kerajaan, pemimpin memang wajib dilayani. Bukan sebaliknya!

Ketika kita sedang dihadapkan pada pemilihan kepemimpinan nasional, saat ini, tipe pemimpin menjadi yang diinginkan, menjadi nomor wahid. Ia harus seperi judul narasi ini. Bukan semata-mata membasuh kaki, ia juga --pemimpin yang melayani itu-- membuka jalan. Dan menjadikan pengikutnya mampu.

Jika kita membuka laman https://www.greenleaf.org/what-is-servant-leadership/ maka terdefinisikan hal yang demikian ini:

A servant-leader focuses primarily on the growth and well-being of people and the communities to which they belong. While traditional leadership generally involves the accumulation and exercise of power by one at the “top of the pyramid,” servant leadership is different.

Robert K. Greenleaf (1970) dianggap sebagai pelopor pendekatan servant leadership modern. Menurutnya, seorang pemimpin adalah pelayan terlebih dahulu. Hal itu karena pada galibnya setiap orang suka dilayani. Karena itu, layanilah terlebih dahulu pengikutmu, niscaya engkau akan menjadi besar. Sebab, siapakah yang menang dalam suatu permainan tenis? Apakah yang banyak smash, atau yang melakukan service? Yang melakukan service!

Bapak servant leadership itu membuat definisi luas dan menyatakan cara terbaik mengukur fenomena pemimpin yang melayani.

Dalam Sendjaya (2015: 45) ia menegaskan hal demikian ini,
“The difference manifests itself in the care taken by the servant—first to make sure that other people’s highest priority needs are being served. The best test, and difficult to administer, is: Do those served grow as persons? Do they, while being served, become healthier, wiser, freer, more autonomous, more likely themselves to become servants? And, what is the effect on the least privileged in society; will they benefit, or, at least, not be further deprived?”

Perbedaannya memanifestasikan bahwa peran seorang pemimpin adalah melayani— hal yang pertama adalah memastikan bahwa kebutuhan orang yang dilayani adalah yang utama. Tes terbaik, dan sulit untuk dilakukan adalah: Apakah orang yang dilayani tumbuh sebagai pribadi? Apakah mereka, saat dilayani, menjadi lebih sehat, lebih bijaksana, lebih bebas, lebih mandiri, lebih menjadi pelayan? Dan, apa efeknya bagi orang yang kurang beruntung dalam masyarakat; apakah mereka akan mendapat manfaat, atau, setidaknya, tidak semakin disudutkan.

Dua kata kunci agaknya penting diperhatikan, yakni: melayani (serve) dan kebutuhan orang yang dilayani (followers). Greenleaf menegaskan bahwa seorang servant leader melayani terlebih dahulu dengan pilihan-sadar (by conscious choice) baru yang lain.

Agaknya, pilihan-sadar ini menjadi titik berangkat untuk menelusuri lebih jauh motivasi dalam diri sang pemimpin yang men-drive dirinya . Elemen motivasi kepemimpinan yang melayani (melayani terlebih dahulu) menggambarkan mengenai konsep dasar yang membedakannya dari pemikiran kepemimpinan lainnya.

Asumsi ini membentuk model mental pemimpin yang melayani, yaitu "Saya melayani" sebagai lawan dari mentalitas "Saya memimpin". Alasan utama mengapa para pemimpin ada adalah untuk melayani terlebih dahulu, bukan untuk memimpin terlebih dahulu.

Itu sebabnya, servant leadership bekerja dalam bangun asumsi bahwa “Saya pemimpin, karena itu, saya melayani” bukan “Saya pemimpin, karena itu, saya memimpin.” Memimpin, dalam servant leadership, adalah melayani; sebaliknya melayani adalah memimpin. Seperti yang dipraktikkan dan dijelaskan De Pree, CEO Herman Miller, Inc., bahwa ciri utama kepemimpinan yang melayani teletak pada kata kerjanya “melayani” bukan memimpin.

Kepemimpinan adalah posisi pelayanan. Kepemimpinan adalah posisi kepercayaan. Ia tentang hak yang yang diserahkan kepada seseorang untuk diamanahkan demi orang-orang yang menyerahkan hak dan yang kemudian menaruh harapan dan menumpukan hidupnya pada si pemegang amanah.

Oleh karena dalam servant leader pemimpin melayani terlebih dahulu, maka karakteristik ini berkaitan dengan layanan ditetapkan sebagai karakteristik utama dari seorang pemimpin yang melayani. Ia harus terlebih dahulu memenuhi kriteria seorang pelayan sebelum dapat memenuhi kriteria sebagai seorang pemimpin. 

Tags : filosofi