Ekonomi

Beras Adan & Kopi Kapten: Cintailah Produk Indonesia dan Bencilah Produk Asing

Kamis, 29 April 2021, 15:40 WIB
Dibaca 536
Beras Adan & Kopi Kapten: Cintailah Produk Indonesia dan Bencilah Produk Asing
dokpri

"Kita makan nasi Adan. Saya hanya bawa sekilo saja."

“Bro besok ketemu di rumah”. “Kita makan nasi Adan. Sy hanya bawa sekilo sj”. Pesan WhatsApp dari Master.

Besoknya menjelang petang saya meluncur memenuhi undangan Master. Master adalah penulis senior, Direktur LLD (Lembaga Literasi Dayak). R. Masri Sareb Putra nama terkenalnya dalam dunia literasi. Tetapi saya biasa memanggilnya Master. Guru dan mentor dalam literasi. Lain kesempatan saya akan kisahkan perjumpaan kami. Uniknya kami memiliki tanggal lahir yang sama, 23 Januari.

Tak sendiri saya datang, kawan seperguruan dalam literasi Paran Sakiu juga hadir. Malahan beliau punya tugas khusus dari Master, maklum beliau tinggal di Jakarta sementara kediaman Master di Tangerang. Pak Paran harus mengambil dan membawa buku yang telah di cetak.

Saya datang 15 menit lebih awal.

“Masuk saja bro”, serunya.

Nampak Master masih nampak sibuk dengan laptopnya di ruang tamu.

“Nasi sudah siap sebentar tunggu Pak paran, saya beli sate untuk lauk”, tambah Master.

Master masuk ke dapur, tak lama, keluar sudah membawa 4 bungkus Kopi Kapten.

“Ini untuk kalian dua, dua bungkus satu orang” ucapnya.

“Terima kasih master”, jawabku.

Tak berselang lama, Pak Paran datang. Kami pun terlibat perbincangan tentang perjalanan kami. Master Masri memecah perbincangan kami.

 “ini nasi Adan-nya sudah matang, sebentar saya ke depan beli sate.”

“Mau di antara master” sergah pak Paran.

“Tak usah saya jalan saja, kalian istirahatlah”, jawab Master.

“O ya bro Matius bikin kopi ya, sebentar saya siapkan air, gelas, gula, dan kopi. Kalau air sudah masak kamu bikin ya. Saya jalan beli sate dulu.”, tambah master.

Tapi itulah master selalu menjamu dan melayani kami bak saudara. Beliau melayani dengan senang hati. Bahkan masak nasi sendiri dengan teknik yang didapat dari leluhurnya.

Kira-kira 15 menit kemudian Master datang dengan tiga bungkus sate.

“Saya suka yang bumbu kecap, kalian dua bumbu kacang,” kata Master.

Nasi Adan sudah tersedia, kopi juga sudah disedu. Tentu saja kopi Kapten khas Kaltara.

“Ayo, saatnya makan, sebelumnya menikmati pak Matius pimpin doa”, kata Master.

… Amin”, seruku mengakihiri doa.

“Sebelum makan foto dulu,” kata Pak Paran. Kali ini Master jadi juru kameranya.

Setelah beberapa sesi foto, kami kembali ke hidangan nasi Adan lauk sate. Disela-sela makan kami berbincang, dan mendengarkan kisahan Master selama di Kaltara. Dalam kisahan itu beliau juga menyebut dua sahabat dan patnernya dalam literasi pak Dodi Mawardi dan Pepih Nugara. Dan tak ketinggalan tentang sosok pak Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Dr. Yansen TP.

Nasi Adan dan Kopi Kapten sengaja Master suguhkan untuk kami. Tak sekedar menu jamuan. Tentu ada pesan tersirat. Dua produk asli bumi pertiwi. Harus dikembangkan, diperkenalkan, dan jadi konsumsi masyarakat Indonesia.

Cintailah produk Indonesia. Kekhasan tak akan didapat di mana pun, satu alasan yang jelas.

Kalau sudah begitu, kembali teringat pesan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, “Cintailah produk dalam negeri (Indonesia) dan ‘bencilah’ produk asing.” Namun sayang yang viral di sosial media malah kata ‘bencilah’ bukannya menilik tentang produk-produk Indonesia yang tak kalah kualitas dan mungkin lebih unggul. Seperti beras Adan dan kopi Kapten yang tak mungkin terkalah. Kedua produk bahan bakunya hanya ada di Kaltara, Indonesia.

Bagaimanapun produk makanan terkait cita rasa. Dalam ilmu pertanian bahan baku makanan akan menghasilkan cita rasa yang khas karena faktor geografis. Jadi tak mungkin ada ditempat lain. Mungkin tanaman akan tumbuh di tempat lain tapi tidak soal cita rasanya.

Memperkenalkan produk hasil bumi dan kekayaan nusantara termasuk dari produk tanah Kalimantan adalah misi yang harus direspon positif. Bukankah ini tanggung jawab kita bersama. Nusantara kaya akan sumber alam dan cukup untuk membuat manusia Indonesia bahagia dan sejahtera.

Cintailah produk Indonesia. Kekhasan tak akan didapat di mana pun, satu alasan yang jelas.