Budaya

Wanita Dayak Iban Mahir Sulap Daun jadi Sabun

Minggu, 21 Februari 2021, 22:24 WIB
Dibaca 355
Wanita Dayak Iban Mahir Sulap Daun jadi Sabun
Wanita Dayak Iban

Dodi Mawardi

Penulis senior

  

Kekayaan alam Kalimantan tak perlu dipertanyakan lagi. Kaya sekali. Terutama hutannya. Suku Dayak yang menempati sebagian besar wilayah hutan tersebut, terbukti mampu menjaga keasriannya. Mereka juga memanfaatkan kekayaan alam itu dengan bijaksana. Beda dibanding orang luar yang cenderung mengeksploitasi hutan. Orang Dayak jutstru menjaga keseimbangan dengan sangat baik.

Suku Iban yang hidup di sekitar sungai Utik kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat misalnya. Mereka tidak menggunakan sabun modern yang mengandung banyak zat kimia utuk membersihkan badan. Deterjen atau bahan-bahan pembuat sabun modern, cenderung punya sifat merusak alam. Suku Iban memanfaatkan kekayaan alamnya untuk membersihkan badan tersebut. Sebagian besar digunakan untuk merawat kehalusan kulit kaum hawa di sana. Yaitu sabun mandi berbahan baku daun pohon Aras.

Mereka menyebutnya pohon Aras. Mungkin saja di tempat lain namanya berbeda. Bahkan ada yang menyebut pohon Aras juga tapi jenisnya berbeda. Ada juga yang menamakannya sebagai pohon Cedar, salah satu pohon terkenal dunia asal Lebanon. Namun, melihat struktur daunnya, pohon Aras di wilayah Dayak Iban ini bukanlah pohon Cedar.

Pohon Aras tumbuh subur di hutan Kalimantan. Mereka dengan mudah mendapatkannya. Daun-daun hijau itu berhasil mereka olah secara sangat sederhana dan menjadi sabun mandi atau sabun kecantikan kaum hawa Dayak Iban.

Media massa sering menyebutnya sebagai rahasia kecantikan wanita Dayak Iban. Laiknya sabun kecantikan, sabun berbahan daun Aras ini memang berkhasiat melembutkan kulit. Tentu saja aromanya juga wangi.

Meski memiliki manfaat yang besar untuk kecantikan wanita di sana, warga Dayak Iban tak pernah mengekspoitasi daun pohon Aras. Mereka memanfaatkannya sesuai kebutuhan saja. Itulah mengapa, pohon Aras tetap tumbuh subur dan tak pernah gundul apalagi punah.

Seperti orang Dayak lainnya, warga Dayak Iban sangat berhati-hati dalam memperlakukan alam, termasuk hutan dan pepohonan di dalamnya. Bahkan ada beberapa jenis pohon yang sama sekali tak boleh disentuh. Apalagi dipotong, seperti kelakuan para pencari uang dari hutan, yang tak peduli dengan kelestarian hutan.

Baca Juga: Entayot, Folklor Dayak Jangkang

Para wanita Dayak Iban tidak perlu repot-repot mengimpor sabun dari luar daerahnya. Mereka sudah sangat mahir ‘menyulap’ daun-daun hijau segar pohon Aras menjadi sabun. Prosesnya sangat sederhana tanpa campuran zat-zat kimia yang berbahaya. Tetap bisa cantik meski hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Begini seharusnya hidup berdampingan dengan alam!

***