Budaya

Filosofi Rumah Panjai (Betang) #1

Rabu, 10 Agustus 2022, 18:45 WIB
Dibaca 272
Filosofi Rumah Panjai (Betang) #1
Panjai atau Betang

“MANUSIA DAYAK”
Asal-muasal suku Dayak dapat ditelusuri melewati dua cara, yakni melalui: (1) mitos tentang manusia Dayak, dan melalui: (2) temuan atau hasil penelitian ilmiah tentang Suku Dayak itu sendiri. Ketika membahas mitos dalam Suku Dayak, khususnya tentang asal-muasal manusia Dayak, kita akan mengalami kesulitan pada saat menemui keberagamnya mitos yang ada. Bahkan, setiap sub-suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan memiliki mitos tersendiri tentang asal-muasal manusia.

Mitos tentang asal-muasal manusia Dayak masih dapat diketemukan melalui pencerita mitos. Sebagai contoh, mitos tentang permulaan manusia menurut Suku Dayak Iban (Ibanic Group), dapat ditelusuri melalui sebuah nyanyian yang disebut Buah Kana. Dalam Buah Kana diceritakan bahwa manusia adalah keturunan para dewata, yang disebut Petara Langit (Tuhan Langit, berjenis kelamin laki-laki) dengan Petara Bumi (Tuhan Bumi, berjenis kelamin perempuan).

Namun, pertemuan kedua dewa ini, dipresentasikan diri dengan peristiwa alam yang disebut Ambun Menurun (embun turun) dan Pukat Mengawan(pukat membentang), yang kemudian dari keturunan mereka lahir anak-anak manusia dengan kekhasannya masing-masing.

Berdasarkan mitos-mitos tentang asal-muasal Suku Dayak di Kalimantan memiliki kesamaan prinsip, yakni manusia berasal dari peristiwa perkawinan atau hubungan alam di atas dengan alam di bawah, yang disimbolkan sebagai lelaki dan perempuan.

Manusia diciptakan oleh Tuhan yang utama, yang merupakan keturunan para dewa untuk memelihara bumi.

Dengan demikian, manusia Dayak dalam tataran mitos itu adalah gambaran atau titisan dari kekuatan Tuhan di atas yang memiliki sifat daya atau kesaktian.Suku Dayak, kendati dengan sub-sub sukunya masing-masing, tetap memiliki sifat dan perilaku yang khas dan cenderung sama.

Bersambung.....