Budaya

Ritual Budaya: Interaksi Manusia Dengan Leluhur dan "Penguasa" Alam Lain

Jumat, 7 Mei 2021, 13:45 WIB
Dibaca 172
Ritual Budaya: Interaksi Manusia Dengan Leluhur dan "Penguasa" Alam Lain
Ritual budaya

Interaksi Manusia Dengan Leluhur dan "Penguasa" Alam Lain sebagai "Ceremonial" Budaya

Sejak malam hingga pagi kemarin hp saya agak "traffic jam." Banyak yang telp. Tanya ini, tanya itu. Minta saran ini dan saran itu.

Kemarin adalah jadwal sidang ke 4 warga Sebuku yang dilaporkan oleh PT. KHL dengan delik pencurian buah sawit. Duduk perkara: saling klaim lahan. Ini punya kami, kata KHL. Ini punya kami, kata MHA.

Tiga hari sebelumnya, ada beberapa orang datang ke Kantor dan minta saran soal demo. Saya, pak Lewi dan pak Hendrawan terima mereka. Kami sarankan, agar ikut aturan. Sampaikan saja pemberitahuan ke Polres. Ini pandemi C-19, kita harus taat, dll.

Saat itu, kami pikir hanya keluarga2 dekat saja yang datang. Kami salah. Ada ratusan orang yang datang. Datang sama istri dan anak.

Ynlang lebih kaget lagi. Mereka bergerak jalan kaki dari alun2 ke PN. Jarak sekitar 15 KM. Semua pakai atribut warna merah. Pasukan merah, demikian mereka sebut. TBBR, nama organisasinya.

Mendengar mereka turun lengkap dengan mandau, dll., saya telp pak Lewi: kita harus dampingi! Jangan sampai saudara2 kita buat keributan atau anarkis di jalan. Tambah masalah baru, pikir saya saat itu.

Saya dan pak Lewi dampingi mereka sampai di PN. Sesaat sampai di PN dan setelah 2 orang orasi, saudara2 saya ini langsung mengadakan ritual, potong babi, dan darahnya diambil kemudian diusap2 antara kedua atau di atas sedikit kelopak mata.

Apa itu, apa itu... saya bertanya ketika mendengar ada suara babi. Ritual pak, jawab salah satu anak muda. Saya mendekat. Penasaran ingin tahu datang.

Ada beras kuning dalam toples, ada kemenyan, dll. Kemudian ada darah babi tentunya. Saat mengajukan beberapa pertanyaan, ingin tahu lebih lanjut. Salah seorang anak muda bisik saya, hujan ini nanti pak! Ya kah, saya jawab ragu2.

Benar si anak muda! Tidak sampai 30 menit hujan lebat turun. Awalnya sangat panas. Terik atas Nunukan.

Ritual minta kebebasan, komitmen akan terus berjuang dan akan turun dengan masa lebih besar apabila saudara2 kami tidak dibebaskan. Saya dengar ada juga sumpah lain2 untuk kebebasan saudara-saudara kami yang dipenjara.

Kembali soal ritual dan hujan. Hujan sejak sekitar jam 1 siang sampai sore. Saya hampir tidak bisa pulang karena terlalu lebat. Saya parkir jauh dari kantor PN.

Malam hujan tidak berhenti. Saat kami ngobrol2 di rumah, saya penasaran dengan bisikan anak muda saat di PN. Saya bertanya, ingin tahu: ini hujan tidak berhenti2 sejak siang tadi ya?

"Ini tidak berhenti pak. Kecuali kami habis pulang nanti," sahut salah satu pasukan merah.

Jujur, pikiran saya saat itu antara yakin dan tidak. Tapi ada fakta sejak siang hingga subuh jam 2 saat saya bertanya. Kami bubar sekitar jam 2 lewat. Masih hujan saat itu. Lihat bukti besok pikir saya.

Sekarang pukul 12.44. Masih hujan atas Nunukan. Benar ini, pikir saya. Saya WA adik helmi dan adik Hendra. Saya katakan, rupanya masih terjalin "komunikasi yang baik" sebagian kita warga dayak dengan alam. Adik Hendra menjawab, "Bagus itu ditulis kk sebagai pengetahuan!"

Nah.... saya tambah yakin menulis!

Saya memang sejak malam mau tulis. Tapi masih ragu ada yang protes. Kemudian saya renung ulang. Ahh... tulis saja pikir saya. Ini bukan soal iman tapi ini soal ritual budaya. Soal pengetahuan budaya. Toh iman saya tidak hilang kalau saya tulis. Saya masih kokoh yakin dan percaya Yesus adalah pemilik semesta alam, pikir saya saat itu.

Saya bukan Kadrun atau ikut2an para Kadrun yang mengkafirkan Ustad Miftah ceramah di GBI Jakarta. Masuk gereja bagi Ustad Miftah, bukan pergi ibadah tapi ceramah. Kebenaran agama ada pada pemeluk masing2. Dan semua bilang, agama kami paling benar. Selesai. Tidak perlu diperdebatkan. Pasti tidak ada akhir!

Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhamadyah beberapa kali masuk gereja untuk berdiskusi dengan Romo Van Lith soal model pendidikan bagi warga pribumi. Toh, iman sang Kyai tidak goyah. Tetap Kyai besar sampai akhir hayat.

Jadi iman tidak bicara atribut dan ceremonial. Tapi bicara hati! Orang Kristen masuk Masjid tidak berarti dia percaya. Demikian halnya pandangan dan cara kita menempatkan ritual-budaya.

Menurut hemat saya (pasti ada yang tidak sependapat), menghakimi dan memvonis ritual budaya yang beraroma klenik sebagai dosa, perlu dipilah2.

*Perlu diperhatikan, tempatnya di mana dan siapa yang melakukan, dalam rangka apa, dst.*

Dengan demikian kita akan tahu, ini bentuk pemujaan atau ceremonial budaya semata. Adakah hubungannya dengan iman atau hanya sekadar prosesi ceremonial budaya saja.

Budaya adalah identitas diri. Budaya adalah kesatuan seluruh atribut yang mendiskripsikan suatu kelompok bisa disebut suku bangsa. Ada bahasa, ada adat-istiadat, ada sistim kekerabatan, ada kesamaan asal tempat, dll.

Yg ingin saya garis bawahi adalah tidak semua ritual budaya itu dosa. Mari kita pilah2, klasifikasi!

Demikianlah upaya mendapat makna dengan merangkai kata menjadi kalimat dari Sudut Mata GK!

#SM-GK/7/5/21🌱🙏