Budaya

Mari Hidup Bersama dengan Berlandaskan Pancasila

Senin, 31 Mei 2021, 22:26 WIB
Dibaca 170
Mari Hidup Bersama dengan Berlandaskan Pancasila
Tanda Tangan Kardinal Stanisław Dziwisz. Sumber: Dokumen pribadi.

Sebagai seorang pengagum St. Paus Yohanes Paulus II (Karol Wojtya), saya selalu berusaha mengumpulkan buku-buku maupun artikel-artikel yang membahas kepribadian dan pemikiran beliau. Di laptop saya sendiri, ada satu folder khusus untuk menyimpan ajaran-ajaran yang pernah beliau sampaikan selama masa kepausannya (1978-2005).

Paus yang pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 1989 ini memang sungguh merupakan pribadi yang luar biasa. Sosok yang rendah hati, sederhana dan penuh kasih. Tidak heran kemudian beliau dijuluki sebagai "Paus Perdamaian". Karena melalui tindakan, tutur kata dan ajaran-ajarannya, beliau selalu menyuarakan pesan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

Tulisan ini sendiri tidak hendak mengulik lebih dalam kepribadian dan ajaran-ajaran Bapa Suci yang sudah digelari sebagai orang kudus (Santo) oleh Paus Fransiskus pada 27 April 2014.

Adalah tanda tangan di atas yang menjadi sumber inspirasi saya menuliskan artikel ini. Tanda tangan di atas merupakan tanda tangan Kardinal Stanisław Dziwisz. Beliau pernah menjadi sekretaris pribadi Paus Yohanes Paulus II hampir selama 40 tahun.

Nah. Suatu kali di kampus kami diadakan sebuah acara khusus dalam rangka mengenang mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II sebagai pelindung kampus. Salah satu tamu yang diundang ialah Kardinal Stanisław Dziwisz.

Saya sangat senang mendengar kabar kalau beliau akan hadir. Kebetulan saya ada menyimpan satu buku yang ditulis oleh beliau dan sudah dialihbahasakan oleh Sr. Paula, CPLebih Jauh Bersama Karol Wojtya. Saya berpikir momen indah ini menjadi kesempatan yang baik untuk meminta beliau membubuhkan tanda tangannya pada buku tersebut.

Setelah acara selesai, saya pun berusaha menghampiri beliau agar berkenan membubuhkan tanda tangannya. Dengan ramah beliau menerima kehadiran saya dan dengan senang hati menyematkan tanda tangan pada buku yang saya sodorkan. Namun, ada satu hal yang membuat saya kaget bercampur bangga. Mengetahui bahwa saya berasal dari Indonesia, sambil tersenyum beliau hanya mengucapkan satu kata, "Pancasila".

Rasa bangga dan bahagia pun tak tertahankan mengetahui sesuatu yang menjadi identitas bangsa sendiri diketahui oleh orang asing. Hanya sayang rasa bahagia dan bangga itu berbalut rasa sedih karena teringat akan konflik dan ketegangan yang sering terjadi di tanah air akibat belum bisa menerima perbedaan satu sama lain.

Perbedaan merupakan realitas yang tak dapat kita sangkal. Karena itu, perbedaan sekali lagi patut kita syukuri, kita banggakan dan kita pelihara. Pertanyaan yang lebih penting kemudian ialah bukan tentang mengapa kita berbeda, melainkan tentang bagaimana kita menyikapi dan memaknai perbedaan tersebut.

Pertanyaan 'bagaimana' menyiratkan sebuah panggilan kepada semua pihak untuk terlibat secara penuh dalam merawat perbedaan. Konflik terjadi karena masing-masing pihak mengklaim kebenaran sebagai milik pribadi atau golongannya sendiri. Kalaupun mereka mengakui adanya kebenaran di pihak lain, pengakuan tersebut hanya sebatas sebagai sebuah pengakuan tanpa ada niat memahami dan berdialog dengan mereka yang berbeda.

Perbedaan akan menjadi sumber kekuatan bila kita mau memahami kebenaran yang terdapat dalam kelompok atau golongan yang lain. Namun syarat untuk bisa memahami kebenaran tersebut, kita harus rela membuka diri berkomunikasi dengan sesama. Itu artinya kita diajak untuk berbicara dengan dan mendengarkan mereka yang sama sekali berbeda dengan kita.

Karena itu, dalam konteks bangsa kita yang plural ini tak ada jalan lain selain belajar memahami orang lain, berbicara dengan mereka serta mendengarkan pergulatan mereka dalam menjalani hidup. 

Segala hal baik yang kita dengar dari orang lain tidak hanya akan menambah wawasan kita, tapi juga sedikit banyak dapat mempertebal keimanan kita. Bila semua pihak sudah mampu sampai pada taraf ini, maka sekat-sekat yang ada tidak lagi akan menjadi penghalang dalam menciptakan kebaikan bersama serta dalam berbela rasa dengan sesama meskipun berbeda.

Kita merindukan hidup yang penuh damai. Hidup yang saling menerima dan menghargai satu sama lain tanpa membedakan suku dan warna kulit. Namun, hidup yang penuh damai itu hanya akan bisa tercipta bila kita memiliki pedoman dan landasan yang bisa menjadi pijakan kita bersama.

Menemukan pedoman dan landasan bersama menjadi penting sebab bila kita berbicara tentang Indonesia, kita berbicara tentang keragaman suku, bahasa dan agama yang menjadi ciri khas bangsa kita. Menjadikan seperangkat aturan atau dogma dari suku, agama atau golongan tertentu sebagai pedoman hidup bersama menjadi satu hal yang mustahil.

Jika itu yang terjadi, hidup rukun dan damai yang menjadi cita-cita kita bersama tidak akan tercapai. Sebab, masing-masing suku, agama atau golongan akan saling mengklaim bahwa norma atau ajaran merekalah yang paling benar dan patut dijadikan pedoman.

Menjadikan Pancasila sebagai pedoman dan landasan hidup bersama, dengan demikian, adalah sebuah keharusan agar hidup rukun dan damai serta kemajuan yang kita impikan bersama bisa terwujud.

***

Bila orang asing saja menghargai identitas bangsa kita, mengapa kita sesama anak bangsa begitu sulit untuk hidup rukun dan damai sebagai satu saudara?