Sosok

Cornelis: Pemimpin & Penggerak Perubahan di Kalimantan Barat

Jumat, 1 April 2022, 20:16 WIB
Dibaca 247
Cornelis: Pemimpin & Penggerak Perubahan di Kalimantan Barat
Foto: LLD

“Jika Berani-Berani, Jangan Takut-Takut. Jika Takut-Takut, Jangan Berani-Berani”. 

Dari tagline tersebut, pembaca mafhum siapa sosok yang dimaksud. Saya ingat. Saat membaca 101 Tokoh Dayak I, tagline tersebut menjadi judul profilnya. Siapa lagi kalau bukan Drs. Cornelis, M.H. 

Biografi ini mengisahkan dedikasi Cornelis sebagai pemimpin dan motivator. Juga inspirator. Seperti yang tergambar dalam puisi “Inspiratorku” oleh Alexius Akim, M.M. Biografi dibuka dengan sekelumit teori kepemimpinan. Tidak ada satupun tipe kepemimpinan yang pas dengan Cornelis. Tapi ada satu yang mendekati. Semua tipe mengerucut menjadi satu gaya. Kepemimpinan Cornelis, yang dalam khasanah ilmu kepempimpinan masa kini disebut servant leader, atau pemimpin yang melayani (hlm. 69). Gaya kepemimpinan Cornelis sangat demokratis. Saat menyusun kebijakan, beliau selalu mendengarkan aspirasi dari rakyatnya. Tidak menjadi pendengar saja. Ia juga memahami persoalan rakyatnya (hlm. 76).

            Judul Buku                  : Drs. Cornelis, M.H. Motivator & Pemimpin

            Penulis                         : R. Masri Sareb Putra, M.A.

            Penerbit                       : Lembaga Literasi Dayak, Tangerang, 2022

            Tebal                           : xxi -410 hlm.

            Harga                          : Rp125.000 (versi e-Book)

Setelah melewati perjalanan panjang, ia berkiprah di Senayan. Kini menjadi anggota DPR RI Dapil I Kalbar, anggota Komisi II. Suara pendukungnya tercatat nomor 2 terbanyak dari 10 daftar nama besar di Indonesia. Bukan hal yang mudah. Ia meniti karier dari bawah sekali. Pernah menjadi juru antar surat, Kaur Bangdes Kecamatan Mandor. Bupati Landak. Hingga Gubernur Kalimantan Barat. Dua periode semua!  

Dengan kepiawaian kepemimpinannya, Cornelis membangun paradigma dan peradaban baru di Kalimantan Barat. Menyatukan masyarakat Dayak sekaligus penggerak perubahan. Daftar panjang legacy yang ditinggalkannya memperkuat personal branding Cornelis. Di Badau dan Entikong, ada PLBN. Katedral di Pontianak. Ada Mesjid Mujahidin. Semua itu ujud loyalitas pada tanah leluhurnya. Ia peduli dengan adat-budaya dari semua masyarakatnya. Salah satunya pekan Gawai Dayak (PGD), kini bukan lagi milik masyarakat Dayak, tetapi milik Indonesia.

Sebagai Putra Dayak. Berbekal keberaniannya, Cornelis memupus labeling bangsa Dayak yang peyoratif. Terbelakang. Sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) periode 2015-2021, tugasnya menjaga martabat bangsa Dayak. Masri Sareb Putra menyebutnya pemimpin berkharisma. Ia orator ulung yang penuh semangat membangun kesadaran identitas Dayak. Cornelis membuat Dayak semakin dihormati. Siapapun yang bermaksud merendahkan Dayak, maka akan diadili di peradilan Dayak. Cornelis pemimpin semua. Semua suku bangsa diperhatikannya. Demikian juga Madura yang menyebutnya: Kolis. Mereka memberi suara karena merasa terwakili dan terlindungi (hlm. 138). Buah pengabdian menjadikannya figur, yang namanya terukir di hati rakyatnya.

Kepemimpinan Cornelis di Kabupaten Landak tergolong sukses. Infrastruktur dibangun secara merata. Dari sisi budaya, Cornelis mampu menyatukan masyarakat Dayak yang menetap di Kabupaten Landak. Saat itu, di tanah Landaklah pertama kali gawai Dayak digelar. Naik Dango. Di akhir jabatan Bupatinya, Cornelis mencalonkan diri untuk KB 1. Menggandeng Christiandy Sanjaya, diusung PDI-P.

Banyak yang mengatakan Cornelis ini berwatak keras. Lagi disiplinnya tinggi. Buah didikan sang ayah, yang merupakan anggota Polisi. Namun, menurutnya, jiwa pemimpin pada dirinya didapat dari pendidikan. Dibentuk saat mengenyam pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Begitu juga dengan lingkungannya. Cornelis kecil mukim di tengah masyarakat Melayu di Sukadana, Ketapang. 

Kini wajah Kalimantan Barat secara luas berubah. Cornelis mulai memperkenalkan dan mencanangkan nama jalan, bandara, dan jembatan dengan nama setempat. Seperti Taman Bukit Cornelis. Jembatan Tayan, dinamainya Jembatan Pak Kasih. Ia mengajar dengan contoh. Cornelis adalah potret pemimpin yang baik, motivasi, lagi menginspirasi. Ia memulai perubahan dari dirinya sendiri (hlm. 116).  

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, menemukan mode kepemimpinan yang pas untuk membawa puak Dayak maju. Hasil olahan dan pengalaman itu, akan ditularkan dan dibagikan kepada pemimpin berikutnya (hlm. 14). Kesuksesannya memimpin diabadikan oleh Masri Sareb Putra (MSP) dalam biografi ini. Faedah membaca biografi: Bertemu langsung dua peubah, ke arah good, better, best: manusia dan buku. Sekaligus memotong kurva belajar. 

Agaknya seluruh masyarakat. Tidak hanya Dayak, perlu sejenak meluangkan waktu untuk membaca biografi ini. Buku biografi ke-15 yang ditulis oleh Masri Sareb Putra, setelah biografi Norhayati Andris. Full color. Desain sampul didominasi merah, senyawa dengan lembaran demi lembaran di dalamnya. Merah melambangkan keberanian. Dari foto-foto, kita bisa melihat langsung keseharian. Juga mahakarya Cornelis. Kian terasa istimewa dan sempurna. Sempurna-nya takaran manusia. Dalam buku setebal 414 ini, pembaca bisa mempelajari sejarah Dayak. Khususnya, Pertemuan Tumbang Anoi 1894 yang mahapenting itu. Sekaligus membaca kisah pemimpin Dayak masa kini: Cornelis.   

Mengutip kata-kata biografer, yang masuk dalam senarai Sastrawan Dayak: Jika Anda ingin sukses, lakukan apa yang orang sukses lakukan. Petik dan belajarlah melalui sang tokoh. Legasi yang telah ditoreh dan ditinggalkannya, untuk generasi selanjutnya. 

 

(Maria Fransiska)