Sosok

Munaldus: Insentif Sayembara Dibelikan 2 Radio

Minggu, 11 Juli 2021, 13:24 WIB
Dibaca 84
Munaldus: Insentif Sayembara Dibelikan 2 Radio
Insentif Sayembara dibelikan 2 buah radio.

Munaldus Nerang asli namanya.

Dunia literasi mengenalnya sebagai Liu Ban Fo. Ihwal nama keCina-cinaan ini, ada asal muasalnya.

Saya dengan Munaldus bukan orang lain. Di Gerakan Ekonomi Kerakyatan CU Keling Kumang, kami mitra. Kawan. Sekaligus lawan diskusi.

Di Yayasan Pemberdayaan Ibanik, Munal Ketuanya. Saya salah satu pendiri dan Pembina. Kami rapat kecil, berempat saja waktu akan didirikan. Di sebuah ruang apik yang tertata lagi bersih. Kantor Pusat CU Keling Kumang, Tapang Sambas, Kalimantan Barat. Kalender di dinding waktu itu bertahun 2017. Kami rapat dekat tangga sempana.

Kemiskinan seperti pendarahan. Harus dihentikan. Katanya. Yang nancap di kepala saya.

Kata Munaldus ke saya, suatu ketika. "Bung!" --dia biasa manggil saya demikian. "Saya perhatikan. Orang yang dihormati itu, kalau bukan kaya, ya pintar. Atau pejabat. Kita tidak mungkin bisa semua. Cukup dua hebat saja, yang pertama dan kedua. Seperti kau dan aku!"

Munal dikenal sebagai seorang intelektual Dayak. Ia dosen di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjung Pura, Pontianak. Gelar akademiknya Master Pendidikan Matematika dari Amerika. Bayangkan dari sini saja kualitas akal budinya. Sudah jurusan susah. Lulusan Amrik lagi! Klop.

Kata dia ke saya. Suatu ketika. "Bung!" --dia biasa manggil saya demikian. "Saya perhatikan. Orang yang dihormati itu, kalau bukan kaya, ya pintar. Atau pejabat. Kita tidak mungkin bisa semua. Cukup dua hebat saja, yang pertama dan kedua. Seperti kau dan aku!"

Saya tercenung!

Ia malang melintang di gerakan literasi finansial Kalimantan. Namanya beken sekali. Dunia literasi mengenalnya alias. Dia ini salah satu pemenang Sayembara Mengarang Cerpen KeBorneoan yang salah satu penyelenggara: PepPews!

Yang bikin saya terkesan beranda FB-nya.

Kini dia punya dua radio. Satunya, bisa menangkap siaran. Yang dipancarkan langsung dari Kuching. Maklum, di sana, Dayak mayoritas Iban. Sama dengan sukunya.

Saya tak usah berpanjang kata. Saya muat saja utuh arsip, dalam MS-Words, naskah orinya. Yang saya riset dan muat di Wikipedia. Tentang tokoh kita ini.

***

Munaldus Nerang salah satu munsyi Dayak yang dilahirkan pada 12 Maret 1963 di Tapang Sambas, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.  Nama penanya adalah Lui Ban Fo [1]. Kekuatan gaya penulisannya terletak pada kemampuannya meramu kisah nyata ke dalam sebuah sajian seperti fiksi, seperti tampak dalam kisah hidupnya yang ditulis sebagai novel, Mimpi Dunia Lain [2].

Ia menitis darah Dayak Desa, Ibanik Grup, dari ayahnya Markus Nerang dan ibu Theresia In’a sebagai anak ke-3. Sejak belia, Munaldus bersaudara dididik orang tua dengan disiplin dan hidup ugahari agar berguna dan berbuat sesuatu untuk Dayak.

Kemiskinan ibarat pendarahan. Harus dihentikan. Ini kata saktinya. Yang nancap di kepala saya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1976 di kampungnya Tapang Sambas, Munaldus meneruskan SMPK St. Gabriel, Sekadau. Ia menuntaskan pendidikan menengah ini dengan susah payah, maklum ketika itu kondisi sosial ekonomi keluarga sedang dalam masa perjuangan, dan lulus pada 1980.

Perjuangan Munaldus bersaudara menuntut ilmu ini sungguh luar biasa. Mereka rela berjalan kaki, atau menggenjot sepeda berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk bisa sekolah lanjut di Sekadau yang ketika itu minim sarana transportasi. Usai menamatkan SMP di Sekadau, ia melanjutkan pendidikan di SMAN I Sintang dan tamat pada 1983.

Kemudian, meneruskan pendidikan tinggi dan meraih gelar S-1 jurusan Matematika pada 1987, Pra S-2 Kimia ITB, 1989-1990, dan menuntaskan pendidikan S-2 di Ohio State University, USA pada 1996 dengan spesialisasi bidang matematika. Seusai meraih gelar master, ia kembali ke kampung halaman. Terpanggil memberdayakan masyarakat lokal, Munaldus yang dilahirkan sebagai anak desa, berbela rasa dengan warganya [3].

Tak ingin menghabiskan energi dan pikiran berkelahi dengan kapitalisme yang menyerang warga dengan perkebunan sawit dan merusak tata kelola dan tata nilai seni budaya lokal, ia bersama saudaranya menginisiasi mendirikan credit union (CU). Ketika studi di Amerika, puluhan referensi dibacanya bagaimana mulai dan menjalankan pilar ekonomi yang berpihak pada rakyat itu.

Munaldus mengutarakan maksud itu pada orang tuanya. Mereka merstui. Bahkan, nama CU Keling Kumang murni datang dari idenya. Sebagaimana diketahui, Keling dan Kumang adalah legenda di kalangan Ibanik. Sepasang suami istri teladan, yang menyejahterakan dan memakmurkan warga kerajaan Buah Main. Maka berdirilah CU Keling Kumang pada 25 Maret 1993[4] yang tercatat sebagai yang terbesar ketiga di Indonesia itu. Kini anggotanya lebih dari 150 ribu, dengan aset 1,5 T rupiah, dibaiat sebagai salah satu dari 100 koperasi besar di Indonesia[5].

Selain CUKK yang besar ini, Kelompok Keling Kumang menggeliat sebagai sebuah pilar ekonomi kerakyatan yang kehadirannya benar-benar dirasakan masyarakat kecil.  Kini Keling Kumang Group (KKG) memiliki 5 outlet minimarket dan outlet toko pertanian.

Pada Juli 2015, berdiri SMK Keling Kumang. Total siswanya lebih 1.000.  Pada Agustus 2020, berdiri sebuah Institut Teknologi. Bahkan, KKG juga punya hutan primer 48 ha untuk perlindungan satwa dan flora. Hal yang menarik, kantor pusat CUKK Tapang Sambas dibangun berbentuk rumah betang dan didesain sebagai representasi untuk Keling. Sedangkan kantor CUKK Sintang, juga rumah betang, representasi Kumang.

Munaldus telah menulis dan menerbitkan 13 buku, yakni:

1. CU: Kendaraan Menuju Kemakmuran, PT. Elexmedia, Jakarta, 2012.

2. Hidup Berkelimpahan Bersama Credit Union, PT. Elexmedia, Jakarta, 2013.

3. Kiat Mengelola Credit Union, PT. Elexmedia, Jakarta, 2014.

4. Exciting Journey, Essence, Jakarta, 2015.

5. Optimze People, PT. Elexmedia, 2015.

6. Revolusi Mental, 2015 (Bersama 19 pengarang lain, termasuk Joko Widodo).

7. Beware The Beast Within, PT. Gramedia, Jakarta 2016.

8. Simphoni Di Tanah Dayak (Novel CU), PT. Elexmedia, Jakarta, 2016.

9. Koperasi: How To Grow and Sustain, PT. Elexmedia, Jakarta, 2017.

10. Kidung Di Tampun Juah (Novel CU), PT. Elexemdia, Jakarta, 2017.

11. Mimpi Dunia Lain (Novel CU), PT. Elexmedia, Jakarta, 2018.

12. Yo Te Amo (Novel CU), PT. Elexmedia, Jakarta, 2018.

13. Metodologi Kredit Usaha Produktif, PT. Elexmedia, Jakarta, 2019.

 

Referensi

Muchtar, Irsyad. (2015 ). 100 Koperasi Besar Indonesia. Jakarta: Peluang. ISBN 9786027351301.

Munaldus, Yuspita Karlena, dan Yohanes RJ. (2015). The Exciting Journey: Kisah Perjalanan 3 Aktivis CU ke Kathmandu, Nepal. Jakarta: Essence. ISBN 9781517504168.

SarebPutra, Masri. (2015). 101 Tokoh Dayak jilid 2. Jakarta: Essence. ISBN9781517617936.

----------------------- (2018). 25 Tahun Cu Keling Kumang. Jakarta: Lembaga Literasi Dayak. ISBN 9786026381408.

----------------------- (2019.  Sastrawan Dayak: Karya& Dunianya. Jakarta: Lembaga Literasi Dayak. ISBN 9786027358614.

Liu Ban Fo. (2018). Mimpi Dunia Lain. Jakarta: PT Elexmedia Komputindo. ISBN 9786020455426.

Catatan:
[1] Sareb, 2019, hlmn. 321-322.
[2] Liu, 2018. Dalam aliran sastra dan jurnalistik, dikenal sebagai “literary of fact” seperti dikemukakan dan dibahas Blair (2005). Disebut juga Faksi (fakta yang dikemas dengan kaidah fiksi).
[3] Sareb, 101 Tokoh Dayak jilid 2 (2015), hlmn. 107-109.
[4] Sareb, 25 Tahun Cu Keling Kumang (2018), hlmn. 149.
[5] Muchtar, 2015, hlm. 58.

Tags : sosok