Sastra

Refleksi Laku Hidup Joko Pinurbo

Senin, 26 April 2021, 15:24 WIB
Dibaca 316
Refleksi Laku Hidup Joko Pinurbo
Dua buku puisi Joko Pinurbo

Masa pandemi Covid-19 tahun 2020 yang melanda dunia rupanya tak melulu berisi cerita sedih dan pedih. Di dalamnya tak jarang ditemukan juga cerita-cerita gembira, mengejutkan, bahkan tak terbayangkan sebelumnya. Salah satu contohnya adalah cerita yang dialami oleh penyair terkemuka Joko Pinurbo atau akrab disapa Jokpin.

Selama pandemi, Jokpin justru merasakan banyak peristiwa di luar dugaan dan terjadi dalam suasana berbeda, yang pada akhirnya mengubah rencananya. Ia yang semula berencana menyusun buku kumpulan cerita pendek, terpaksa menundanya dan beralih menerbitkan buku puisi sebagai respons atas situasi pandemi yang kita hadapi.

Di mata penyair ini ada banyak hal yang harus direfleksikan karena ini peristiwa langka dan belum tentu mengalaminya lagi kelak. Untuk itu, ia mengerjakan secara paralel dua file naskah buku puisi untuk dua penerbit yang berbeda. Tak dinyana, jelang akhir 2020 keduanya selesai dan siap terbit.

Buku Salah Piknik diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama (Jakarta), sedangkan buku Sepotong Hati di Angkringan diterbitkan oleh Penerbit DIVA Press (Yogyakarta). Spirit utama dari kedua buku puisi itu kurang lebih sama, merespons situasi pandemi yang terjadi berikut gejala sosial di masyarakat, di tengah era digital yang serba cepat dan bergegas ini. Kedua buku ditulis dengan gaya dan warnanya tersendiri.

Dalam buku Sepotong Hati di Angkringan, Jokpin menempatkan puisi-puisinya ke dalam dua bagian. Bagian pertama, berisi puisi yang memberi ruang kangen bagi mereka yang pernah hidup di kota Yogyakarta. Di bagian ini ada sejumlah ikon dan peristiwa yang sering ditemui di sana, maka tak heran bila saya langsung tertarik pada puisi “Suara Drumben Dini Hari”.

Dengan apa kau merindukan Yogya?// Dengan suara drumben yang muncul dini hari.// Yang dimainkan entah oleh siapa. Yang tak jelas di mana.// Yang bila aku ke barat, ia di timur;// bila aku di selatan, ia di utara. Yang aku datangi// dan aku cari, tapi tak ada. Seperti perasaan// yang tak memerlukan bukti. Seperti cinta// yang tak mau ditangkap dan dimiliki.

Siapa pun yang pernah tinggal di Yogyakarta, pasti mengalami di saat dingin udara pagi masih menggigit, sayup-sayup telinga menangkap suara drumben. Setidaknya saya mengalaminya sehingga puisi ini meluapkan ulang kenangan masa kecil saya, yang setiap mendengar suara drumben tersebut, saya membayangkan diri menjadi tentara. Konon cerita, drumben itu dimainkan oleh para taruna angkatan udara di lanud Adisucipto.

Sementara, dalam puisi “Sepotong Hati di Angkringan”, penyair menghadirkan sensasi-nostalgik nikmatnya malam hari duduk berlama-lama mengerubuti gerobak angkringan, ditemani sajian teh panas-manis-kental, kopi, atau minuman lainnya, berikut aneka jajanan sederhana serta nasi kucing.

Angkringan menjadi sebuah misteri yang asyik, di sana kita tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa, tapi di sana kita bebas bercerita, curhat, menikmati suasana, atau sekadar melambatkan ritme hidup.

Ketika kita suntuk di rumah, kosan, atau kontrakan, atau jenuh dengan berbagai rutinitas, maka menyambangi angkringan adalah sebuah peristiwa pembebasan bagi jiwa. Bukan hanya itu, di sini dengan jenial Jokpin melakukan twist, membebaskan angkringan bukan lagi berasosiasi dengan gerobak dorong tetapi menjadi nama apa saja. Berikut puisinya.

Pada suatu malam yang nyamnyam// kau menemukan sepotong hati yang lezat// dalam sebungkus nasi kucing. Kau mengira// itu hati ibumu atau hati kekasihmu. Namun,// bisa saja itu hati orang yang pernah kausakiti// atau menyakitimu. Angkringan adalah nama// sebuah sunyi, tempat kau melerai hati,// lebih-lebih saat hatimu disakiti sepi.

Dalam Salah Piknik pembaca dibebaskan berselancar dari satu puisi ke puisi berikutnya, merespons situasi pandemi dan gejala sosial di masyarakat, termasuk menguak bagaimana manusia mengaktualisasikan penghayatan religiusitas di tengah era digital.

Hujan turun di atas instagram, mengguyur foto// keluarga kami yang bahagia: kakek nenek, ayah ibu,// kakak adik—nyengir semua. Tambah kucing kami// yang angop saat dibidik kamera.

Ternyata dulu saya pernah ganteng: bercelana pendek// bermimpi panjang, bersekolah secukupnya bermain// sepuasnya. Kini mental saya drop: saya merasa// ganteng jika rekening saya sehat sejahtera.

“Nanti Mama kirim hujan yang lebih romantis,”// sayup suara Ibu dari celah cakrawala.

Bila besok hujan berderai lagi di atas instagram, saya// mungkin sudah jadi orang saleh yang mudah pusing// dan masuk angin—duduk gelisah di kursi goyang,// tidak berani memandang mata kucing yang sinis// dan tajam. Semoga instagram dapat membuat// saya tampak setrong dan baik-baik saja.

Pandemi Covid-19 punya andil dalam melejitkan kepopuleran instagram semasa orang harus di rumah saja. Apa saja diunggah orang ke instagram, memberitakan eksistensinya kepada dunia maya. Itulah olahan puisi “Hujan di Atas Instagram” ini, tempat Jokpin bermain-main kata dengan liar dan kreatif, memancing pembaca untuk menemukan pesan yang dikirimkannya.

Masa pandemi Covid-19 tahun 2020 diakuinya sebagai masa untuk merenungkan dan merefleksikan kembali laku hidup dengan lebih jernih dan tenang. Bahkan ia menyebutkan bahwa masa itu merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan kepenyairannya, karena ia justru dapat mengerjakan dua buku puisi sekaligus. Ia melakukan permenungan atas hidup yang mulai berubah dan berbeda, yang antara lain diwakili oleh sajak “Siti Rezeki” yang memuat semangat solidaritas manusiawi.

Malam// Lembur// Hujan// Dingin// Covid// Mager// Lapar// Berilah kami rezeki pada hari ini...

Saya pesan makanan lewat ojol.// Bang ojol bilang siap dan minta saya// sabar menunggu.

Bang ojol tidak juga nongol. Asu.

Bang, kok lama. Perut saya nagih.// Maaf, Mbak Siti, makanan yang Mbak// pesan barusan saya santap. Enak.// Saya lapar. Seharian sepi. Lemas.

Ya sudah, saya beri dia terima kasih,// jempol dua, bintang lima.

Setiap orang tentu punya getar yang berbeda dalam menangkap isyarat sebuah sajak. “Siti Rezeki” menghadirkan nuansa getir bagi saya, meski Jokpin mencoba membalutnya dengan gaya canda. Tetapi, di sisi lain ada semangat mengajak dan menguatkan kita untuk mengikis egoisme, memperkuat solidaritas, dan menyadari bahwa kita masih punya semangat keterhubungan manusia satu dengan yang lain.

Salah Piknik merupakan refleksi kritis, ironi, dan satire sosial yang digali dari hidup kekinian, terlebih ketika manusia semakin dicengkeram oleh berbagai kemajuan teknologi dan informasi. Dan, melalui kedua buku puisinya, Jokpin seolah hendak menyuarakan bahwa sastrawan harus mampu beradaptasi dengan perubahan, bukan menghindarinya.

Membaca refleksi Joko Pinurbo tak cukup hanya sekali untuk larut ke dalam ruh puisinya. Oleh karenanya, sembari menanti pandemi berlalu, kedua buku puisi ini sayang bila lepas dari koleksi kita. Seperti yang ia suarakan, “...ini peristiwa langka dan belum tentu mengalaminya lagi kelak”.

***