Literasi

Panggilan Literasi

Kamis, 24 November 2022, 09:35 WIB
Dibaca 46
Panggilan Literasi
Empat Sekawan Literasi (Foto: Yansen TP)

Pepih Nugraha

Penulis senior

"Besok saya ke Jakarta"

Demikian tertulis di WAG literasi. Penyampai pesan Yansen Tp , admin sekaligus pembuat grup di aplikasi percakapan ini. Biasanya disematkan pula foto "cargo" yang dibawa ke Jakarta sebagai buah tangan, yang membuat kami bergairah.

Pesan itu semacam tanda bahwa kami berempat -dikenal sebagai "Empat Sekawan"- harus berkumpul di sebuah tempat di tengah-tengah belantara Jakarta. Artinya saat sedang berada di luar kota pun saya usahakan untuk hadir berempat, tidak menyia-nyiakan momen kebersamaan ini. 

Saya bersyukur membaca pesan berbunyi "Besok saya ke Jakarta", yang berarti ada waktu sekitar 24 jam untuk mempersiapkan diri, mana tahu saya sedang berada di Tasikmalaya, kota kelahiran dimana saya biasa berlama-lama menikmati tarikan demi tarikan nafas yang masih tersisa.

Jika pesan itu berbunyi "Saya sedang di Jakarta", dipastikan saya tidak bisa berlari secepat Gundala ke arah Jakarta saat saya sedang berada di Tasikmalaya. Saya paling memberi respons, "maaf saya tidak gabung, selamat berkumpul!" Tetapi itu jarang terjadi.

Sebagai misal, saya merespons bahwa saya baru bisa bergabung berempat Selasa petang. Jawaban Pak Yansen tentang hal ini, "Atur saja waktunya." Itu berarti saya masih memungkinkan untuk menyusul, kemudian bergabung bersama.

Apa yang kami berempat bicarakan saat "hang out" sambil ngopi dan makan enak? Banyak hal. Tetapi tidak jauh-jauh dari dunia Literasi. Kami berempat memang punya latar belakang berbeda, juga pengalaman menulis dan menjalani kehidupan yang berbeda, tetapi niscaya saling melengkapi.

Dodi Mawardi, anggota terculun -maksudnya paling muda dari sisi usia- sarat dengan berbagai keterampilan terkait dunia tulis menulis, bahkan sampai ke pembuatan desain buku dan menjual e-book di Google. 

Masri Sareb Putra adalah kamus berjalan Dayak, dia seorang "filsuf" karena mendalami filsafat. Pernah saya menggodanya kalau dia sedang berfilsafat, "Ah bapak terlalu banyak menelan pilsyahwat!"

Sedang Pak Yansen -demikian saya biasa memanggil wakil gubernur Kaltara itu- sering lebih banyak mendengar dan mencerna ocehan kami bertiga. Tetapi sekali dia bicara, giliran kami mendengar, mencerna dan mencermati apa yang diucapkannya dengan khusuk.

Adapun saya karena dilatarbelakangi profesi jurnalis yang pernah saya lakoni selama 26 tahun, saya terbiasa berpikir bebas (free thinking) tanpa rasa takut atau sungkan, tetapi tentu saya sampaikan dengan sopan.

"Apa yang Bapak lakukan dengan terjun langsung ke dunia literasi, memprakarsai kemah literasi di Krayan, itu sudah sangat pas," demikian kemarin saya sampaikan hal ini.

"Mengapa?" Pak Yansen balik bertanya.

"Sebab nafas literasi itu panjang, bahkan tidak pernah mati," jawab saya. Pak Yansen diam mencerna, saya melanjutkan, "Benar bahwa politik telah memberi Bapak kekuasaan, tetapi adakah kekuasaan yang berumur panjang?"

Mulailah ilmu retorika saya manfaatkan. Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, tetapi saya memperkuat benteng argumen itu dengan mengatakan, "Apa yang bapak lakukan dengan dunia literasi senafas dengan pencapaian '8th Habit'-nya Steven Covey, itu pencapaian adiluhung setelah kebutuhan (need) lain tercapai."

Masuk ini barang! 

Ya, diskusi semacam saling menguatkan itu saja yang kami lakukan, tetapi saya masih biasa menggelitik Pak Yansen dengan isu politik kekinian, berhubung kuping saya ada dimana-mana saat berbicara politik. Pak Yansen biasa meladeni dengan kalem. Ada yang diresponnya, ada juga yang tidak. Itu biasa.

Saat kami berempat berkumpul, kami biasa bicara masa lalu sebagai refleksi, tetapi lebih banyak menatap masa depan, semacam "what next" setelah kita melakukan ini-itu di dunia literasi tentu saja.

Sapaan apa kabar sering diganti dengan "Buku tentang apa yang sedang Bapak tulis?" Atau saya ambil inisiatif dengan mengungkapkan apa yang sedang saya tulis atau buku apa yang sedang saya baca. 

"Saya sedang membaca buku 'Conscious Capitalism', buku yang inspiratif tentang semangat berbisnis, bagaimana mungkin kapitalisme punya kesadaran untuk lebih memandang sisi kemanusiaan di saat kredo kapitalisme menghalalkan segala cara, bila perlu 'homo monini lupus'," kata saya mengompori.

"Menyombongkan diri" dengan mengatakan sedang menulis ini-itu atau membaca buku ini-itu tidak lain untuk saling merangsang berdenyutnya literasi itu sendiri, minimal ada yang menjadi bahan pembicaraan saat berdiskusi dari hati ke hati. Tidak asal MEOK alias Makan Enak Omong Kosong. Omongan kami sungguh berisi.

Demikianlah cara "Empat Sekawan" biasa berinteraksi tentang dunia literasi.

***