Literasi

Catatan Ringan tentang Buku

Jumat, 23 April 2021, 23:20 WIB
Dibaca 227
Catatan Ringan tentang Buku
buku dodi mawardi

Dodi Mawardi

Penulis senior

 Tajuk Catatan Ringan ini saya ambil dari judul kolom Sumohadi Marsis wartawan senior di Tabloid Bola. Dua-duanya sudah meninggal dunia. Sumohadi meninggal beberapa tahun lebih dulu. Setelahnya barulah tabloid Bola yang lenyap karena tekanan krisis keuangan. Padahal, tabloid Bola itu salah satu media cetak terkemuka di bidang olahraga sejak 1980-an sampai 2010-an.

 Saya hobi membaca sejak kecil. Selain baca buku (khususnya buku pelajaran dan HPU/RPU - buku Pintar), juga hobi baca media cetak. Tabloid Bola salah satu favorit selain Kompas yang menjadi induknya, yang saya baca hanya setiap Jumat. Bola jadi sisipan Kompas setiap Jumat itu. Saat itu juga ada tabloid olahraga Tribun, cikal bakal media cetak nasional yang kini jadi bagian dari grup Kompas.

Menikmati bacaan berupa huruf dan foto/gambar dalam bentuk kertas punya sensasi berbeda dibanding melalui layar Smartphone. Amat berbeda. Saya sungguh berterima kasih kepada Cai Lun, tokoh China yang pada tahun 200 Masehi menemukan teknologi pembuatan kertas. Sejak itulah, kertas menjadi bahan baku buku. China mendahului negeri mana pun. Mesir yang sejak 2.400 SM mengenal buku, hanya meninggalkan jejak kertas papirus yang sangat sederhana dalam bentuk gulungan. Atau melalui dinding-dinding gua dengan huruf hyroglifnya. Bangsa Eropa diwakili peradaban Yunani dan Romawi memang meninggalkan jejak karya tulis. Namun belum dalam bentuk buku seperti sekarang.

 

Pada Hari Buku international ini (yang digagas Unesco sejak 1995) tentu sebagai pegiat literasi dan penulis, saya wajib berterima kasih kepada para pemula bidang ini di seantero jagat. Termasuk kepada pemerintahan Hindia Belanda yang membentuk Komisi Bacaan Rakyat pada tahun 1908, yang kemudian menjadi cikal bakal Penerbit Balai Pustaka. Mereka meletakkan dasar budaya baca melalui buku.

Kalau sekarang kita tak lebih maju dari mereka para leluhur itu dalam ber-BUKU, sungguh keterlaluan. Teknologi era sekarang memungkinkan dan memudahkan kita ber-BUKU ria. Kertas masih ada. Digital pun tersedia. Lengkap. Tinggal pilih saja mana yang lebih nyaman. Ber-BUKU ria bukan hanya membaca tapi juga mengabadikan hasil membaca dan pengalaman hidup dalam bentuk buku. Menuliskan. Tanpa penulis tidak ada buku. Tanpa pembaca, buku akan sia-sia.

Foto-foto dalam artikel ini adalah buku karya saya bersama sejumlah kolega yang sudah melek literasi. Bolehlah saya mengajukan pertanyaan kepada Anda pada Hari Buku ini: Ini Bukuku, Mana Bukumu?

Selamat Hari Buku Sedunia, 23 April 2021.

 ***