Literasi

You Can Sell a Book by Its Cover

Minggu, 8 Mei 2022, 11:20 WIB
Dibaca 91
You Can Sell a Book by Its Cover
caption sama dengan judul narasi.

Don’t Judge a book by It's Cover!

Kita tentu kerap mendengar tamsil itu. Hendak menyatakan orang, atau sesuatu, jangan hanya ditakar dari tampilan luarnya. Sebab, bisa jadi. Faktanya, lain di luar lain di dalam.

Sudah tentu. Tamsil itu berlaku hanya pada sikon tertentu. Untuk kasus khusus.

Namun, khusus dunia perbukuan.  Cover sangat penting perannya. Saya malah sebaliknya: Cover buku amat sangat menentukan.

Dahulu, ketika editor PT Gramedia, saya telah mafhum penting dan peran cover buku. Saya baca itu di buku Kremer, 1001 Ways to Market Your Books (1993, halaman 94) yang menyatakan bahwa “You can sell a book by its cover!”

Tak syak lagi. Penulis dan Penerbit dapat menjual sebuah buku melalui sampulnya. Pengalaman saya selama 7 tahun berkanjang dalam menulis dan menerbitkan buku secara mandiri (self-publisher). Ini bukan sekadar jargon, melainkan adagium.

Saya pernah dari hanya menjual cover, buku belum terbit, inden buku 1.200. Yakni buku 101 Tokoh Dayak, jilid 3. Ini rekor selama karier saya, sebagai penulis. Buku dipesan/ dibeli sebanyak itu, sebelum terbit.

Dan semenjak pengalaman dari hanya menjual cover buku itu. Saya menemukan jalur khusus untuk diri sendiri. Menjual buku bukan setelah buku terbit, melainkan SEBELUM BUKU TERBIT.

Karena itu. Meski banyak pesanan, bukan berarti tidak mau uang. Saya memutuskan tidak mencetak lagi 101 Tokoh Dayak, jilid 3. Namun, makin tidak dicetak, semakin buku itu dicari. Boleh dibilang, ini adalah anti-marketing!

Sejak pengalaman itu. Saya haikul yakin. Kita bisa menjual buku hanya (baru) dari sampulnya saja.

Dengan demikian, cover berkerja sebagai:

1) packaging (bungkusan), melindungi isi buku dan sekaligus membuatnya menjadi indah;

2) space iklan, jadikanlah cover buku sebagai space iklan yang sanggup membuat orang tertarik untuk melihat, kemudian ingin memilikinya.

Karena itu, usahakan kata-kata yang tertulis pada cover bukan saja menggunakan bahasa yang baik dan benar, tetapi juga memikat dan mengandung pesan persuasif;

3) ibarat etalase, cover buku dapat diumpamakan bagai etalase sebuah toko, pajangan yang mencolok mata, dan sekaligus dapat menggoda yang melihatnya;

4) ibarat manusia, cover ialah wajah yang lebih dulu dilihat. Apabila cover buku menarik, maka orang akan terus mengamati dan memperhatikan. Sebaliknya, apabila cover buku jelek, maka orang akan memalingkan muka.

Cover terdiri atas empat bagian pokok, yaitu sebagai berikut.

1) Front cover (sampul depan). Pada sampul depan biasanya terdapat logo penerbit, judul, nama penulis, dan edisi.

2) Punggung buku. Pada punggung buku terdapat judul buku, nama penulis, dan logo penerbit.

3) Back cover, atau sampul luar. Pada sampul luar terdapat sinopsis, komentar (citat) para pakar yang mendukung, logo serta nama dan alamat penerbit, juga barcode.

4) Back cover (cover belakang). Pada back cover terdapat sinopsis (tiga macam sinopsis, yaitu citat seperti kutipan pendapat pakar/ praktisi, ringkasan/intisari buku, dan kombinasi).

 Pendek kata. Cover buku multifungsi. Intinya, selain etalase. Sekaligus juga ia iklan.