Literasi

"L" Itu Bukan "Loser" Alias Pecundang

Minggu, 19 Mei 2024, 12:29 WIB
Dibaca 144
"L" Itu Bukan "Loser" Alias Pecundang
Salam

Pepih Nugraha

Penulis senior

Di foto ini kami mengacungkan jari berbentuk huruf "L". Kalau di luar negeri tanda jari seperti ini diartikan sebagai "Loser" atau orang yang kalah, tetapi "L" di sini adalah literasi, orang-orang yang "Lihai" dalam menulis.

Demikianlah, kami para narasumber, sepanjang empat hari berada di Tanjung Selor, ibukota Kalimantan Utara, mengadakan kegiatan literasi di berbagai tingkatan. Muhibah kami terakhir adalah memberikan pemahaman tentang menulis dan pentingnya orang untuk menulis di SMK 1 Tanjung Selor.

Latihan diikuti oleh siswa-siswa tingkat sekolah menengah atas, namun demikian beberapa guru di antaranya mengikuti kegiatan ini. Baik guru maupun murid sama-sama menyimak materi yang kami sampaikan.

Saya memprovokasi peserta untuk memulai menulis cukup menggunakan kata ganti orang, yaitu "aku", "kamu" dan "dia". Dodi Mawardi menyarankan peserta untuk menulis apa saja seperti hanya "free writing" yang dikenal dalam dunia tulis-menulis atau literasi bekerja.

Arbain Rambey menjelaskan tentang bagaimana sebuah peristiwa bisa diabadikan hanya melalui ponsel sederhana. Menurut fotografer kawakan ini, ponsel untuk memotret peristiwa tidak perlu mahal-mahal, yang penting kemauannya mengabadikan setiap peristiwa. Bahkan dia menyarankan peserta untuk memfoto saja kota Tanjung Selor setiap hari selama 10 tahun berturut-turut.

"Mungkin suatu saat, sepuluh tahun yang akan datang, orang akan menghargai foto yang kalian abadikan saat itu," katanya Sedangkan Rangkaya Bada Masri menjelaskan tentang proses menulis kreatif.

Kembali ke huruf "L" sebagai logo literasi dalam bentuk bahasa jari, seharusnya ini menjadi kegiatan nyata yang dilakukan oleh setiap sekolah atau bahkan lembaga.

Kepala sekolah SMK 1 Tanjung Selor Ibu Fransiska juga sangat antusias mengikuti latihan selama dua jam berbentuk "talk show" Ini. Diam-diam Ibu Kepsek ini sudah menulis satu buku puisi tentang cinta. Memang sangat baik bahasa dan tutur katanya dan layak untuk dibukukan.

Sedangkan Pak Sekretaris Dinas Pariwisata Pak Amat, lebih jauh lagi melangkah dalam hal berliterasi.

Selain telah menghasilkan sebuah novel mengenai perjalanannya ke berbagai wilayah, ia juga menulis sinopsis yang filmnya sudah diangkat ke layar kaca. Bahkan menurut pejabat yang telah mengunjungi 128 negara -suatu pencapaian yang luar biasa- sedang menyiapkan sebuah novel saat dia "tersesat" di Paris, Perancis . Dan, kalau kita berpikir optimistis, maka dari tangannya kelak akan lahir sebanyak 128 buku lagi. Itu minimal.

Adapun saya dan teman-teman merasa senang mendapat kehormatan untuk diundang dan berada di suatu wilayah yang baru kami kenal, tetapi minat masyarakat setempat terhadap literasi demikian tinggi. Sehingga, mengundang kami untuk datang kembali berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Mungkin saja di antara kami belum ada yang menghasilkan karya fenomenal atau monumental, tetapi yang sangat berharga dari kami adalah pengalaman selama kami bekerja di masing-masing lembaga. Pengalaman itulah yang sangat mahal. Tetapi, kami membagikannya secara cuma-cuma apabila berada di sebuah wilayah dengan masyarakat yang antusiasmenya terhadap literasi sedemikian tinggi, sebagaimana yang ditunjukkan warga Kalimantan Utara ini.

Selama empat hari berada di Tanjung Selor, warga masyarakat Kaltara dari empat Kabupaten dan satu kota secara hikmat mengikuti pelatihan ini. Itulah yang membuat kami, para narasumber yang menyampaikan pelatihan ini, tetap bersemangat sampai hari terakhir pelatihan menulis.

Kembali ke simbol jari "L", kami bukan "Loser" atau pecundang, melainkan sebaliknya: pemenang. Setidak-tidaknya pemenang saat sukses "memprovokasi" warga untuk menulis.

Pepih Nugraha