Literasi

Menjelajahi Misteri Perbatasan (1) Harus Selalu Berdamai dengan Ketidakpastian  

Kamis, 10 November 2022, 06:52 WIB
Dibaca 47
Menjelajahi Misteri Perbatasan (1)  Harus Selalu Berdamai dengan Ketidakpastian  
Bersama penggagas Batu Ruyud Writing Camp Yansen TP (Foto: dok. Pribadi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Misteri itu dimulai. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Itu terjadi ketika pesawat Wings yang akan membawa 13 rombongan peserta Batu Ruyud Writing Camp I (BRWC Ke-1) yang transit di Sepinggan Balikpapan, mengalami penundaan (delay) pesawat dengan alasan tidak jelas.

Monurut Dodi Mawardi yang merupakan kepala suku rombongan BRWC, penundaan tidak bisa diprediksi kapan berakhir dan kapan pesawat akan diberangkatkan, sementara rombongan pendahulu, saya bersama Pak Yansen, dua Agus, Nyonta Tantri dan David sudah mendarat di Ba' Binuang, persisnya di Bandara S. Tipa Padan.

Reiner, adalah pilot berkebangsaan Afrika Selatan yang membawa kami ke Ba' Binuang dengan pesawat SmartAviation jenis Cessna 6 penumpang, plus satu pilot. Kami berlima duduk di bangku kedua dan ketiga, sementara Pak Yansen menjadi "co-pilot", duduk di samping kanan Reiner.

Di Ba Binuang kami mendapat informasi bahwa Wings baru diterbangkan pukul 13.00 WITA yang berarti mendarat di Malinau pukul 14.30 WITA. Sedangkan Pak Yansen yang menghubungi langsung pilot MAF, Jeremy, mendapat informasi penerbangan Wings dari Balikpapan pukul 15.00.

Saya mendengar percakapan langsung Pak Yansen Tipa Padan dengan Jeremy bahwa dia harus menerbangkan orang sakit pada pukul 13.00 WITA sehingga tidak memungkinkan mengantar rombongan kami ke Batu Ruyud.

Sedangkan MAF prioritas penerbangan utama pada pelayanan orang sakit dan Ibu melahirkan. Meskipun kami sudah menyewa pesawat MAF untuk terbang dua rit, tetapi Tuhan menentukan lain. Bahkan satu rit pun tidak bisa diterbangkan dan Jeremy bergeming.

"The show must go on", Yansen sendiri terlihat bisa menerima kenyataan, meski tidak dipungkiri bahwa saya kecewa juga. "Inilah kenyataan perbatasan, bahkan ini misteri pertama yang kita temukan saat kita sudah berada tepat di wilayah perbatasan," katanya.

Menurut Yansen, kita tidak bisa marah, murang-maring atau mengutuki keadaan, melainkan kenyataan yang dihadapi. Dia mengatakan, nanti teman-teman peserta BRWC akan semakin menghadapi dan menemukan kenyataan misteri perbatasan ini.

"Ketika bapak dan Ibu terbiasa menghadapi kepastian, maka di daerah perbatasan mereka biasa menghadapi ketidakpastian. Orang kota yang berperadaban marah dan kecewa dengan ketidakpastian, warga di sini malah terbiasa hidup dengan ketidakpastian. Nyaman saja. Ini yang saya katakan sebagai misteri pertama," kata Yansen.

Saya akhirnya mencoba menerima kenyataan, karena sesungguhnya kami inginnya bersama rombongan bertemu di Batu Ruyud, di mana di sana sudah banyak warga yang akan menyambut kedatangan kami.

Konsekuensi dari ketidakpastian ini adalah mundurnya jadwal BRWC selama sehari. Semula akan dibuka pada Kamis 27 Oktober 2022 petang, namun baru akan dimulai bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober besok.

Bagi saya dan rombongan pertama tiba, tidak ada waktu yang terbuang percuma di saat banyak cerita di depan mata di Ba' Binuang. Untuk menangkap sinyal Internet, misalnya, saya bersama Pak Yoseph Murang dari Nunukan yang juga akan bersama-sama kami ke Batu Ruyud, berburu sinyal di dekat SMPN 1 Krayan Selatan. 

Lewat bantuan wi-fi gratisan Bakti- Aksi, kami memungkinan berinternet dan menjangkau dunia sebelum ke Batu Ruyud yang tidak dilengkapi sinyal Internet (kecuali sinyal 2G dengan berlari ke atas bukit). Kami akan terputus dengan dunia luar selama seminggu, khusus hanya untuk menulis.

(Bersambung)