Literasi

Perjalanan Data Dian (10) Aman Tapi Kurang Nyaman

Senin, 19 September 2022, 04:42 WIB
Dibaca 50
Perjalanan Data Dian (10) Aman Tapi Kurang Nyaman
Saya di depan pesawat MAF Quest Kodiak 100 (Foto: dok. Pribadi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Kami berenam naik ke ruang tunggu di lantai dua menggunakan eskalator, sarana modern yang sebelumnya belum kami temui. Ruang tunggu pun dibuat nyaman dengan pandangan ke landasan pacu. Pergerakan pesawat yang "take off" maupun "landing" terlihat jelas. Luar biasa kemajuan fisik Bandara Kol. RA Bessing Malinau ini. 

Dua tahun lalu sebelum pandemi menerjang, bandara ini masih sangat sederhana dengan tampilan bandara perintis tingkat kabupaten pada umumnya. Akan tetapi, bandara ini sudah tampil "seksi" dan menawan hati.

Tentu saja ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bupati Malinau sebelumnya, Yansen Tipa Padan dan bupati penerusnya, Wempi, yang memungkinkan Bandara Malinau saat ini tampil jauh lebih modern. 

Tidak menunggu waktu lama, kami melihat pesawat MAF yang terbang dari Tarakan sudah mendarat. Kami diminta bersiap-siap dan dari ruang tunggu lantai dua bandara Malinau, kami melihat barang-barang yang tidak begitu banyak dimasukkan ke dalam perut pesawat. Kopor hijau daun milik saya terlihat mencolok di antara muatan lainnya. 

Kami segera turun, menggunakan deskalator berbeda yang langsung ke area bandara, berjalan menuju pesawat MAF. Jeremy, pilot berkebangsaan Amerika Serikat, adalah kapten atau pilot tunggal yang akan membawa kami berenam ke Data Dian. Dia menyapa sekaligus memperkenalkan diri dengan sopan dalam bahasa Indonesia yang baik.

Kami segera memasuki kabin pesawat Quest Kodiak 100 berkapasitas 10 penumpang, termasuk pilot dan co-pilot. Namun saat itu Jeremy bekerja sendiri, tanpa didampingi co-pilot. Ada dua kursi kosong tersisa dan satu tempat duduk untuk co-pilot yang seharusnya diisi Ulfah, Arisa dan Joshua. "Selamat datang di Kalimantan!" sapa Jeremy.

Petugas di belakang memberi tahu kami tatacara menggunakan sabuk pengamanan yang berbeda dari sabuk pengaman pesawat komersial pada umumnya. Bahkan si petugas membantu mengenakannya.

Sebelum menghidupkan mesin pesawat, Jeremy mengabarkan bahwa cuaca di sepanjang perjalanan udara yang akan kami lewati dalam keadaan baik. Tepatnya membaik, sebab sebelumnya cuaca tidak bersahabat. Itulah sebabnya Jeremy membawa avtur yang banyak.  

"Mohon tidak melepas sabuk saat pesawat mendarat," titah Jeremy. "Jika telah sampai di tujuan tetap berada di kursi sampai ada petugas datang mengganjal pesawat menggunakan tongkat."

Kami menyimak. "Apakah sudah terbiasa naik pesawat kecil?' tanya Jeremy kemudian. Saya menjawab, "Ya," karena pernah dua kali menggunakan pesawat MAF jenis yang sama. 

"Baiklah. Mari kita berangkat," kata Jeremy menghidupkan pesawat. Mula-mula terdengar bising, namun lama-lama terasa pelan juga.

Sebagai pilot, Jeremy menjelaskan bahwa meski cuaca baik tetapi banyak gumpalan awan di dwpan. "Kita akan cari jalan di awan, jangan khawatir ketika memasuki awan, meski goyang-goyang kurang nyaman, tapi masih aman."

Pesawat Quest Kodiak 100 dengan kapasitas 10 seat itu pun mengudara pukul 09.09 WITA. Kami akan mengudara selama kurang lebih satu jam terbang di antara awan menuju Data Dian.

(Bersambung)