Literasi

Honor

Senin, 13 Juni 2022, 08:36 WIB
Dibaca 501
Honor
senarai honor yang saya terima 1995

Honor.
Etimologinya dipetik dari kata Latin yang harfiahnya berarti: penghormatan, kemuliaan, martabat, penghargaan (Prent, dkk. Kamus Latin-Indonesia, 1969: 387-388).

Toh demikian, dalam dunia tulis-menulis atau karang-mengarang atau dunia entertainment. Honor berarti: sejumlah uang yang diberikan kepada seseorang atas jasa-jasanya melakukan atau mengerjakan sesuatu secara profesional yang diberikan pihak penerima jasa.

Hal itu berarti sekaligus penghargaan kepada seseorang yang menuntas suatu pekerjaan secara profesional. Di mana si pemberi pekerjaan (juga) mendapatkan manfaat.

Bukan riya, atau sok pamer. Tapi ini fakta. Malang melintang di dunia tulis-menulis nasional dan internasional. Semenjak tahun 1984.

Tatkala pertama kali saya menembus harian Kompas yang ketika  itu honornya Rp 25.000, telah kurang lebih 4. 000 artikel yang saya tulis dan hasilkan diterbitkan di media massa. Baik regional, nasional, maupun internasional. Kelas lokal/ regional, saya nulis di Bali Pos, Analisa (Medan), Kemudi (Pontianak), dan Sriwijaya Post (Palembang). Saya pernah menembus majalah di Jepang, yang honornya Rp 1.750.000.

Arsip-arsip artikel 60% masih ada. Terkumpul dalam 7 clear holder. Siapa lagi yang memuji jika bukan diri sendiri, saya termasuk pengarsip yang lumayan telaten.

Potongan-potongan wesel pos atas honor itu pun, masih saya simpan - seperti ternyata pada ilustrasi potongan wesel pos di bawah ini. Bahkan, slip gaji pertama saya pun (26/12-1990), 32 tahun lalu, masih saya simpan arsipnya. Apakah Anda punya arsip serupa?

Ilustrasi pada tulisan ini adalah rekap antara lain tulisan saya sepanjang tahun 1995. Pernah total honor sebulan mencapai Rp1. 269.000. Suatu jumlah yang jauh lebih banyak daripada gaji saya.

Terakhir, honor untuk penulis (sekelas) saya di Kompas Rp3.750.000 dan Suara Pembaruan Rp 1 juta. Akan tetapi, sejak 2005, saya memutuskan "gantung artikel", tidak akan menulis tulisan pendek pagi. Bukan tidak mau honor. Terlalu mudah. Tidak ada tantangan. Lebih baik menulis buku saja di mana menulis panjang punya "kenikmatan" sendiri. Honornya pun tidak ketengan!

Sejak 1984. Ketika menerima honor dari Kompas yang "wah!" waktu itu. Saya telah berpikir: bisa hidup layak sebagai penulis pro.

Dan memang demikianlah. Fiat voluntas tua. Kun fa yakun. Terjadilah!

Sejak 2013. Saya murni menggantungkan asap dapur dari (hanya) menulis.