Literasi

Pastori Gereja: Gebrakan Rumah Baca Tingkatkan Literasi Pedalaman Kalimantan Utara

Senin, 3 Mei 2021, 19:25 WIB
Dibaca 591
Pastori Gereja: Gebrakan Rumah Baca Tingkatkan Literasi Pedalaman Kalimantan Utara
Foto: Rumah Baca Butterflay di Ba'Liku

“Buku adalah sahabat yang paling tenang dan setia; pembimbing yang paling bijak dan terbuka; dan guru yang paling sabar. ”- Charles W. Eliot

Kita sepakat bahwa membaca merupakan jembatan untuk menambah wawasan menjadi luas, pengetahuan menjadi bertambah, dan dapat menjadi kritis terhadap apa yang berada disekitar. Kepedulian terhadap literasi kita dengar dari beberapa daerah yang peduli akan pentingnya literasi bagi masyarakat saat ini. Termasuk sosok-sosok literasi di Kalimantan Utara, mereka yang peduli terhadap perkembangan pengetahuan serta kualitas sumber daya manusianya. Kali ini, saya mengulas tentang perjuangan dan dedikasi seorang teman dan sahabat-sahabatnya yang mewujudkan impiannya mempersiapkan Rumah Baca di pastori gereja di pedalaman utara Indonesia.

Awal mula impian itu terwujud, memang tak ada yang bisa dibangun semalam, “Saya pribadi bersyukur mulai keluar dari zona nyaman saya, sejak tahun 1999 awal mula menempuh pendidikan S1 di Kota Medan, tepatnya Universitas Sumatra Utara. Lalu kemudian, saya kembali pergi menimba ilmu ke Kota Yogyakarta tahun 2013 mulai menempuh pendidikan S-2 Magister Of Divinity di Universitas Kristen Duta Wacana. Singkat cerita, perjuangan-demi perjuangan telah saya lalui, dengan hasil terbaik yang dapat saya upayakan,"

Mulai tahun berapa kakak melayani di Kalimantan Utara? 

Tepat pada, bulan maret tahun 2018, saya mulai melayani di Kaminatan Utara, tepatnya Kabupaten Malinau. Di jemaat Maranata, Kuala Lapang saya ditugaskan melayani jemaat dan beberapa tahun saya ditugaskan pelayanan di Ba 'Liku, Krayan Tengah, Kalimantan Utara. tempat berbeda dengan suasana yang nyaman untuk belajar, ” ucapnya

Lebih lanjut ia mengatakan, “ Dulu saat saya ngekos, di kos saya koleksi buku-buku bacaan. Yang saya beli dengan uang sendiri. saat ada teman-teman yang berkunjung, mereka sanggat betah membaca buku-buku yang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Meskipun mereka punya kamar sendiri, katanya lebih banyak ilmu di kamar saya.heheh… ”

Ada kerinduanku melihat anak-anak cinta dan gemar membaca, kata Vikaris Lisdawati Pasaribu, lalu ia berinisiatif membuka tempat membaca di pastori gembala di Gereja Kristen Pemancar Injil (GKPI) tepatnya Ba'Liku. Ia dan sahabat-sahabat kemudian bersama mewujudkan dan menamai “Rumah Baca Butterfly” di Ba 'Liku, Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tepat diujung utara Indonesia.

Melihat aktivitas sehari-hari di pastori atau rumah pendeta, “Pastori gereja menjadi tempat anak-anak senang berkumpul dan bermain. Terbesitlah dipikiran saya kala itu, bagaimana kalau ada tersedia tempat bagi mereka bermain sekaligus belajar, ”katanya

Melihat anak-anak yang diberkati Tuhan bertumbuh, berkembang, dan menjadi seseorang yang berperan dikemudian hari. Merupakan kerinduan yang terus-menurus bersuara dari hati saya untuk melayani mereka dengan cinta kasih.

Dalam percakapan saya, dengan Vikaris Lisdawati, “Ba'Liku ada rumah baca sejak tanggal 3 Oktober 2019. Jika suatu waktu aku gak melayani disana, ada hal lain yang bisa aku tinggalkan untuk anak-anak disana. Buku-bukunya bagus, tapi awal-awalnya peminatnya hanya hitungan jari. Sampai-sampai aku ngomong ke anak-anak, kalau gak rajin dan serius membaca buku itu akan aku sumbangkan ke resort Krayan. Tapi sampai hari ini masih ada yang duduk di kursi itu untuk membaca. Sambungnya, 

Ketika mendengar informasi rumah baca tersebut, saya sangat mengapresiasi keteguhan dan semangat Kakak Vik Lisdawati dan teman-teman atas gagasanya. Saya katakan kepada beliau, "Ini merupakan langkah awal yang sangat baik. Kadang-kadang kita fokus pada pembangunan lupa membangun intelektual sumber daya manusianya."

“Di pastori saya juga berperan mengajari anak-anak belajar baca, berhitung, keberadaan Rumah Baca Butterfly di Ba'Liku ini sangat berarti bagi anak-anak, menumbuhkan cinta membaca mereka,” tegasnya lagi.

Saya teringat semboyan Ki Hadjar Dewantara, " Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani. " yang artinya Di depan harus memberi contoh yang baik, di tengah-tengah harus menciptakan ide dan prakarsa, di belakang harus bisa memberi dorongan dan arahan.  Demikian juga hal yang dilakukan oleh teman-teman tersebut untuk kemajuan literasi.

Dalam beberapa penelitian, menyebutkan salah satu faktor rendahnya literasi di suatu tempat masih merupakan fasilitas bagi masyarakat untuk membaca, menulis, dan mengembangkan diri. Adanya rumah baca atau taman baca dapat meningkatkan pengetahuan anak-anak. Juga, melalui membaca buku juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di suatu daerah.

Gagasa mendirikan rumah baca ini berangkat dari “kegelisahan”, “Saya gelisah dan sedih ketika menemukan banyak anak-anak muda daerah yang memilih putus sekolah, padahal meraka adalah pemuda yang harus siap memimpin dimasa depan, atau lebih tepat menciptakan penerus yang hadir di masyarakat juga gereja. Akibat putus sekolah bisa menyumbat pengetahuannya (dalam kreativitas), hidup hanya sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari dan uang, ”  katanya

Melihat fenomena yang terjadi di daerah pedalaman Kalimantan, semakin memacu diri untuk mempersiapkan rumah baca. Sekalipun dalam keterbatasan. Sayang sekali hari-hari anak-anak yang punya waktu bermain yang sangat banyak, kurangwaktu belajar. Sekalipun ke sekolah, hanya sekedar 'rutinitas' tak ada keseriusan untuk belajar dan berprestasi. pungkasnya

Lebih lanjut ia berujar “Selain itu, hadirnya Rumah Baca Butterfly kami akan mendorong anak-anak lebih mencintai pengetahuan, 

Bertumbuh dalam pengetahuan melalui membaca. Terbang kesana-sini bagai kupu-kupu, dengan banyak hal, akhirnya melek dunia karean membaca buku. ” 

Sekalipun menghadapi perjuangan sampai berdirinya Rumah Baca Butterfly ini, terutama persoalan akses transportasi seperti pengiriman buku-buku, juga akses minimnya internet mencari buku-buku bagus. Masalah masalah itu, Tuhan punya banyak cara jawaban di setiap masalah yang masalah.

“Puji syukur, Rumah Baca Butterfly masih eksis sampai sekarang, sekalipun saya tidak melayani di sana lagi. Kerinduan saya, lebih banyak lagi anak-anak yang cinta dan membaca membaca. Termasuk Ba'Liku, Krayan Tengah memiliki potensi sumber daya manusia yang terus dikembangkan. Pungkasnya kakak Lisdawati

Asal ada kesunguhan hati untuk memulai, apapun kreativitas kita pasti terwujud. Kata Bapak Yansen TP, Wakil Gubernur Kaltara, “Tahu, Lakukan, dan Jadikan” prinsip yang bisa diterapkan oleh siap saja, asal yang memiliki daya juang yang tinggi. Seperti yang dilakukan kakak Lisdawati dan sahabat-sahabatnya mewujudkan Rumah Baca Butterfly. Dengan ragam bantuan, baik sumbang buku-buku, tenanga, maupun doa. Itu sangatlah berarti.

Jika sumber daya manusia bangsa ini suka membaca, seharusnya orang-orangnya tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita bohong (hoaks), isu-isu gak penting, karena lewat membaca membuat diri mampu menagkal hal-hal tersebut karena memiliki pengetahuan yang banyak.

“Jikalau bacaan kita bermutu dan mendidik, pasti kita jadi pribadi terdidik dan akhirnya mendidik orang lain.” - Lisdawati Pasaribu

Pada akhirnya, diperlukan gebrakan seperti ini di daerah-daerah perbatasan, bisa dimulai dari rumah-rumah, RT, Desa, dan Geraja sampai pada tingkat pendidikan. Yang paling penting juga peran serta keterlibatan pemerintah. Ambil peran penting untuk membangun kualitas sumber daya manusianya. Hadirnya Rumah Baca Butterfly membuktikan kita mampu, demikian juga daerah-daerah lainnya, terutama perbatasan di ujung utara Indonesia.

***