Literasi

Menyoal Peran PT Pos untuk Dunia Tulis Indonesia

Jumat, 29 Januari 2021, 15:22 WIB
Dibaca 521
Menyoal Peran PT Pos untuk Dunia Tulis Indonesia
Ilustrasi: Menulis sebuah surat (Sumber: sunshinehouse.com)

Menulis dalam arti luas [KBBI: melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan] merupakan bagian dari kehidupan berpikir setelah melewati kemampuan membaca [KBBI: melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati)].

Membaca dan menulis serta menonton merupakan media habit. Di masyarakat modern, seperti di Eropa dan Amerika serta beberapa negara Asia media habit bermula dari masyarakat membaca (reading society). Ini ditandai dengan kegemaran membaca, seperti media cetak dan majalah, novel, dan buku (fiksi dan nonfiksi).

Ada lelucon terkait dengan gaya turis bule dan wisatawan nusantara ketika wisata ke pantai. Kalau bule akan cari tempat sepi gelar tikar baca buku, bisa novel atau nonfiksi. Sedangan wisatawan nusantara justu cari tempat ramai, ada yang bawa radio atau pemutar musik dengan volume yang keras sambil berjingkrak-jingkrak dan berteriak.

Di akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an ada manajer hotel di Carita, Banten, WN Jerman, Dr Axel Ridder. Hotelnya ketika itu, Carita Beach Krakatau Hotel, model rumah panggung Badui tapi kamar mandinya seperti hotel bintang 4. Tamunya hanya ‘orang bule’. Beberapa kali saya diajak menginap sambil diskusi sepanjang malam.

Yang unik di hotel itu adalah di restoran ada ‘perpustakaan’ yang menyediakan buku fiksi (novel) dan nonfiksi yang bisa disewa. Menurut Dr Ridder turis bule itu justru gemar membaca sehingga hotel menyediakan bahan bacaan. Sayang, karena kondisi kesehatan Dr Ridder menjual hotel dan dia kembali ke negaranya.

Setelah reading society kegemaran meningkat ke menulis. Ketika di SMP, tahun 1960-an, dulu ada pelajaran menulis cerita, tapi sekarang tidak ada lagi.

Semula di segelintir penduduk negeri ini ada kegemaran menulis, terutama surat baik untuk teman, sahabat dan keluarga. Yang paling seru adalah menulis surat dalam kegiatan ‘sahabat pena’ (pen pals) sebagai korespondensi. Bahkan, dulu ada majalah “Sahabat Pena” yang diterbitkan Pos.

Menulis cerita, berkirim surat (dengan surat biasa, warkat pos dan kartu pos) merupakan bagian dari writing society. Celakanya, PT Pos Indonesia tidak aktif dalam mendorong warga untuk menulis, dalam hal ini surat.

Ada beberapa faktor yang tidak mendukung warga untuk gemar menulis surat, berkirim warkat pos dan kartu pos yaitu kesulitan mencari kertas, amplop, prangko untuk surat, warkat pos dan kartu pos. Dengan warkat pos dan kartu pos tidak perlu lagi repot cari kertas dan amplop.

Prangko untuk surat memang harus berdasarkan berat surat. Tapi, untuk warkat pos dan kartu pos bisa dipukul rata untuk nasional dan regional negara di dunia sehingga warkat pos dan kartu pos sudah ada prangko yang tercetak langsung.

Warkat pos dan kartu pos bisa juga jadi media promosi, seperti destinasi wisata, kebudayaan atau program pemerintah.

Berkirim surat merupakan salah satu bagian dari filateli (mengoleksi benda-benda pos), tapi ada beberapa hal yang tidak mendukung, yaitu cap pos. Cap pos hanya berdasarkan daerah, seperti kota. Sedangkan di beberapa negara cap pos bisa berdasarkan nama pelabuhan, bandara, destinasi wisata, dll.

Soalnya, cap pos merupakan salah satu yang dikoleksi filatelis (penggemar filteli). Misalnya, seseorang ingin mengirim surat dari Stasiun KA Gambar, Jakarta Pusat. Cap pos di surat yang dikirim hanya menunjukkan wilayah yaitu Jakarta Pusat.

Tentu saja tidak menarik karena tidak ada bukti surat itu dikirim dari Gambar walaupun surat bercerita tentang Gambir. Kalau di warkat pos dan kartu pos ada pula gambar Gambir ditambah cap pos Gambir tentulah nilai filateli benda itu lebih tinggi.

***