Literasi

ULAT, Novel Perdana yang Mengantar Dodi Mawardi ke Puncak Karier Kepenulisan

Rabu, 15 Juli 2026, 18:46 WIB
Dibaca 5
ULAT, Novel Perdana yang Mengantar Dodi Mawardi ke Puncak Karier Kepenulisan
Novel adalah puncak tertinggi karya seorang penulis.

Setiap penulis memiliki gunungnya sendiri. Ada yang berhenti di kaki gunung, ada yang puas di lereng, dan ada yang terus mendaki hingga mencapai puncak.

Bagi banyak pakar dan praktisi kepenulisan, salah satu puncak itu bernama novel. Sebab, novel bukan sekadar rangkaian kata. Di dalamnya berhimpun gagasan, daya cipta, imajinasi, pengalaman hidup, kecerdasan, kesabaran, hingga keteguhan seorang penulis menghadapi kesunyian proses kreatif.

Hari ini saya menyaksikan satu puncak itu.

Apakah ULAT sesungguhnya autobiografi Dodi yang disajikan dalam bentuk novel: sebuah faksi, perpaduan fakta dan fiksi? Saya berani bertaruh: ya. Tidak seluruhnya, tentu, tetapi ruhnya terasa kuat.

Dodi Mawardi, sahabat sekaligus sesama pegiat literasi, tampaknya telah sampai pada salah satu pencapaian terpenting dalam perjalanan kepenulisannya. Novel terbarunya, "ULAT – Sebuah Novel", yang menjadi pembuka Trilogi Metamorfosis, sedang memasuki proses cetak.

***

Siang tadi, 17 Juli 2026, saya melihat langsung lembar demi lembar novel itu keluar dari mesin percetakan. Rasanya selalu ada getaran tersendiri ketika menyaksikan sebuah naskah berubah menjadi buku. Kebetulan, di tempat yang sama, saya pun sedang mencetak buku. Dua buku, dua penulis, tetapi satu kebahagiaan: melihat gagasan yang selama ini hidup di kepala akhirnya menjelma menjadi karya yang dapat disentuh banyak orang.

Novel ini mengangkat kisah Jajang, seorang pemuda dari pelosok Cianjur Selatan. Lahir dari keluarga sederhana, Jajang tumbuh dengan segala keterbatasan. Ayahnya seorang penjahit kampung yang baru kebanjiran pesanan ketika Lebaran tiba. Selebihnya, kehidupan berjalan apa adanya. Namun, kemiskinan tidak pernah berhasil memiskinkan cita-cita.

Jajang memperoleh kesempatan belajar di sebuah sekolah gratis berasrama di Magelang, sekolah yang dibangun dengan misi mencetak pemimpin-pemimpin masa depan. Di sanalah perjuangan hidupnya dimulai. Ia harus membuktikan bahwa asal-usul bukanlah takdir. "Masa sih anak kampung tidak boleh berhasil?" Kalimat itu sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan manifesto perjuangan. Sebuah perlawanan terhadap nasib yang seolah telah ditentukan.

Perjalanan Jajang tidak mulus. Ia jatuh, bangkit, diuji, lalu belajar lagi. Seperti seekor ulat yang harus merayap jauh sebelum berhak menjadi kupu-kupu. Barangkali karena itulah Dodi memilih judul ULAT. Metamorfosis selalu dimulai dari fase yang sering dianggap paling tidak menarik.

***

Saya mengenal Dodi cukup dekat. Bukan hanya sebagai sesama pegiat literasi, tetapi juga sebagai sahabat seperjalanan. Saya tahu sebagian besar kisah masa kecilnya, lingkungan tempat ia bertumbuh, perjuangan keluarganya, hingga jalan berliku yang membentuk dirinya menjadi seperti sekarang.

Karena itu, ketika membaca premis novel ULAT, saya seperti menemukan serpihan-serpihan kehidupan yang tidak asing. Nama tokohnya memang Jajang, latarnya pun telah diolah menjadi dunia fiksi, tetapi denyut emosinya terasa begitu nyata.

Apakah ULAT sesungguhnya autobiografi Dodi yang disajikan dalam bentuk novel: sebuah faksi, perpaduan fakta dan fiksi?

Saya berani bertaruh: ya. Tidak seluruhnya, tentu, tetapi ruhnya terasa kuat.

Di titik inilah Dodi seperti menggenapi petuah magis peraih Nobel Sastra, Toni Morrison: "Setiap orang memiliki satu buku yang belum ditulis, yakni kisah hidupnya sendiri."

Saya kira, Dodi telah menuliskan buku itu. Bukan sebagai catatan autobiografi yang kaku, melainkan sebagai novel yang memberi ruang bagi fakta untuk berdialog dengan imajinasi.

***

Tiga tahun lalu, saya bersama Pepih Nugraha pernah "mengompori" Dodi. Kami berdua mengatakan, "Puncak menulis itu novel. Bukan menurut kami, tetapi menurut banyak pakar dan praktisi." Kami bukan sedang meremehkan bentuk tulisan lain. Artikel, esai, kolom, bahkan karya akademik memiliki kemuliaannya masing-masing. Namun, novel menguji hampir seluruh kemampuan seorang penulis sekaligus. Di dalamnya berpadu logika dan rasa, fakta dan imajinasi, disiplin dan kebebasan. Menulis novel bukan perlombaan lari cepat. Ia lebih menyerupai maraton.

Saat mendengar tantangan itu, Dodi hanya tersenyum. "Baiklah. Tunggu waktunya," katanya.

Jawaban yang pendek. Tetapi saya tahu, jawaban itu lahir dari keyakinan bahwa setiap karya memiliki musimnya sendiri. Tidak semua benih harus tumbuh hari ini. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama agar akarnya benar-benar kuat.

Dan benar saja. Hari ini, musim itu tiba.

Saya tahu, perjalanan menuju titik ini tidak pendek. Dodi terus mengasah dirinya di berbagai ruang belajar. Ia mengikuti Batu Ruyud Writing Camp 2022, sebuah ruang perjumpaan para penulis yang saling menguatkan. Ia juga menjadi saksi Deklarasi Literasi Dayak di Krayan, Kalimantan Utara. Perjalanan-perjalanan semacam itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi penulis, setiap perjalanan adalah gudang pengalaman. Setiap perjumpaan adalah bahan bakar kreativitas. Setiap percakapan adalah benih cerita.

Dodi juga bukan pejuang yang berjalan sendirian. Ia adalah bagian dari "4 Sekawan" yang oleh Yansen TP diberi nama Espelindo—Empat Sekawan Pegiat Literasi Indonesia. Anggotanya hanya empat orang: Yansen TP, Masri, Pepih Nugraha, dan Dodi Mawardi.

Nama itu lahir bukan sekadar untuk bergaya. Ia lahir dari perjalanan yang panjang. Kami berkali-kali bertemu di berbagai kota, berdiskusi hingga larut malam, berbagi panggung literasi, menyusuri daerah-daerah perbatasan, dan menyaksikan bagaimana membaca serta menulis mampu mengubah cara orang memandang masa depan. Dalam persahabatan seperti itulah, saling mengingatkan menjadi kebiasaan, saling mengkritik menjadi vitamin, dan saling mendorong untuk terus berkarya menjadi komitmen yang tak pernah putus.

Karena itu, keberhasilan Dodi bukan hanya kebahagiaannya sendiri. Kami semua ikut bersukacita. Bukan semata karena seorang sahabat menerbitkan novel, melainkan karena kami menyaksikan sebuah janji yang akhirnya ditepati. Tantangan yang dahulu hanya menjadi obrolan kini menjelma menjadi kenyataan.

Selamat, Kang Dod!

Namun, ada hal yang membuat saya lebih bahagia daripada terbitnya novel ini. Saya melihat Dodi berubah. Ia semakin tenang, semakin matang, dan semakin rendah hati. Ilmu padi benar-benar ia jalankan: semakin berisi, semakin merunduk. Padahal, tidak sedikit orang yang justru semakin tinggi suaranya ketika karya mulai mendapat perhatian. Dodi memilih jalan yang berbeda. Ia membiarkan karyanya berbicara, sementara dirinya tetap bersahaja.

Mungkin, di situlah letak metamorfosis yang sesungguhnya.

Bukan hanya Jajang yang sedang bermetamorfosis dalam novel ULAT. Penulisnya pun sedang mengalami proses yang sama. Dari seorang penulis yang tekun menjadi novelis yang matang. Dari seorang pegiat literasi menjadi pencipta dunia-dunia baru melalui fiksi. Dan saya percaya, ULAT bukanlah garis akhir. Ia adalah pintu masuk menuju pendakian berikutnya, sebagaimana judul besarnya: Trilogi Metamorfosis.

Selamat menapaki puncak baru, Kang Dod. Setelah sampai di satu puncak, selalu ada puncak lain yang menunggu untuk didaki. Begitulah nasib seorang penulis. Ia tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya terus bertumbuh, berkarya, dan bermetamorfosis.

Jakarta, 15 Juli 2026