Literasi

Wartawan yang Bukan Hartawan

Rabu, 19 Agustus 2020, 07:32 WIB
Dibaca 61
Wartawan yang Bukan Hartawan
Kartu pers lama (Foto: Dok. pribadi)

Bisakah SK Hartawan Abang Dipindah?

Dahulu kala, profesi saya memang seorang wartawan, alias jurnalis. Hingga kini, press card masih saya simpan. Maka tak heran, warga kampung mengenal saya sebagai juru-warta, namun mereka menyebut profesi saya itu: hartawan.

Ketika pulkam beberapa waktu lalu, jadi sudah lamaaa sekali, baru bertemu dengan kawan yang zaman baheula teman sepermainan di SD.

+ Masihkah abang jadi hartawan?
Saya, yang merasa disebut sebagai orang kaya harta, mau saja dan mengangguk.
- Masih!
+ Bisakah SK abang dipindah dari Jakarta ke Pontianak?
Saya bingung, mencoba memahami jalan pikirannya. Mungkin dipikirnya, kayak PNS yang SK bisa dipindah. Lha, ini swasta, kan beda. Lagi pula, mana ada biro, atau kantor perwakilan di Pontianak?
- Lha, memang kenapa kalau saya pindah ke Pontianak?
+ Kan enak kami. Kalau ke Pontianak, bisa nginap di rumah Abang dengan gratis.

Sesimpel itu ternyata ide si kawan-masa kecil agar SK Hartawan saya dipindah dari Jakarta ke Pontianak, agar bisa nginap gratis.

Tapi tentang beda wartawan dan hartawan, sungguh mati, sampai hari ini orang-orang kampungku sulit untuk membedakannya. Maka ketika ditanya: masih hartawan? Meski kini sudah bukan lagi jurnalis, saya tetap mengangguk saja. Lagi pula, siapa tidak mau dipaksa mengaku kaya raya? Ya ngaku saja.

Telah lama saya "pensiun" jadi hartawan --dalam istilah orang kampungku. Berikut ini karierku sebagai jurnalis, penulis, dan penerbit.

1) 1986-1988 hartawan harian Suara Indonesia, Malang, desk berita kota dengan inisial (kode nama: X-5).
2) 1985-1988 koresponden majalah Mingguan Hidup, Jakarta. Kemudian Redaktur (1989-1990).
3) 1990-1991 hartawan UCAN, berkantor pusat di Hongkong.
--kemudian pensiun jadi jurnalis. Memutuskan hanya jadi penulis buku saja. Lalu mengajar mata kuliah Teknik Menulis Berita dan Feature dan kemudian Jurnalistik Sastrawi (buku terbit di Indeks dan Salemba Empat).
4) 1990-1985 kolomnis di Media Indonesia, Suara Merdeka, Surya, Wawasan, Kompas, Bisnis Indonesia. Terbit: 4-12 artikel opini setiap bulan.
5) 1985-2007 Managing Editor PT Gramedia.
- 2007-2013 profesi utama: dosen Creative Writing.
- 2013 - kini: Publisher/ Direktur Utama Penerbit CV Lembaga Literasi Dayak. Telah terbit sejak November 2015: 142 buku berISBN, beberapa di Amazon dan Google.

Telah terbit di berbagai media sebanyak: 4.000 artikel opini. yang dimuat media lokal, nasional, dan internasional 91 buku ber-ISBN, ada beberapa yang menang hibah/ sayembara.

Saya kini sudah "pensiun" untuk nulis artikel, tulisan pendek-pendek atau berita/ feature. Terlalu simpel! Harus naik kelas.

Hanya fokus nulis buku saja.

***