Filosofi

Jalan Pulang [1] Ketika Ibu Sakit

Senin, 19 April 2021, 22:36 WIB
Dibaca 127
Jalan Pulang [1] Ketika Ibu Sakit

Bermula pada suatu siang di awal November 2020, saat saya sedang memimpin sebuah rapat kecil di kantor, anak saya yang kuliah di kota Yogyakarta menelepon.

“Sedang sibuk, Pak? Bisa diganggu?” begitu selalu awalannya setiap kali menelepon saya.

“Oh, ada apa, Nak?” saya sudah hafal, bila ia sampai menelepon, pasti ada sesuatu yang teramat penting untuk disampaikan sehingga saya pun pamit keluar dari ruang rapat.

Singkat cerita, ia lalu menyampaikan kabar bahwa neneknya (ibu saya) tiba-tiba saja tidak bisa diajak bicara, tidak mau makan. Padahal, pagi harinya—menurut cerita anak saya—mereka masih bercanda dan nenek masih bercerita panjang lebar. Ya, Ibu adalah mantan guru sehingga ia selalu punya segudang cerita untuk dibagikan.

Meski bicaranya tenang, saya menangkap getar kekhawatiran dari anak saya. Ia minta advis apa yang harus dilakukannya. Maklum, di rumah itu ia hanya tinggal dengan neneknya dan seorang asisten rumah tangga. Tak ada pengalaman sedikit pun untuk menghadapi situasi seperti ini.

Saya bukan seorang dokter atau ahli kesehatan sehingga saya juga tidak punya gambaran sama sekali tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin, bila saya ada di sana, saya juga akan panik menghadapi situasi yang mendadak seperti itu. Oleh karena itu, saran yang saya sampaikan pun hanyalah instruksi sekadarnya: mengukur suhu tubuh, menawari minum, dan agar Sang Nenek tetap terjaga. Entah ilmu apa dan dari mana instruksi spontan itu berasal. Dalam hati, saya hanya membatin bahwa kami sedang bermain dengan waktu.

Tempori parce, berhematlah dengan waktu, begitu pesan filsuf Seneca. Sehebat-hebatnya manusia, tak seorang pun mampu mengatur-atur gerak Sang Waktu. Ia akan terus bergerak maju dan manusia hanya bisa berdamai dengannya.

Memaksa hari itu juga hadir ke sana bukanlah pilihan bijak. Saya justru akan memboroskan banyak waktu untuk keperluan diri sendiri, mulai dari mencari tiket pesawat, perjalanan ke dan dari bandara, durasi penerbangan, belum lagi ditambah menyiapkan sejumlah persyaratan perjalanan antarkota di masa pandemi Covid-19, lagi pula saat itu separuh hari sudah terlewatkan.

Maka, berbekal sebuah ponsel, mulailah saya berhemat waktu. Saya hubungi salah seorang tetangga yang sudah cukup matang usianya, berharap darinya ada pengetahuan kearifan lokal yang dapat ia tularkan kepada anak saya untuk mengatasi kondisi seperti ini.

Berikutnya, saya hubungi keponakan yang terdekat lokasinya untuk segera merapat sembari saya bekali kewenangan untuk merujuk Ibu ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) sekiranya kondisi memang mengharuskan. Membawa Ibu ke rumah sakit memang bukan opsi pertama saya kala itu, mengingat usianya yang sudah di atas 80 tahun dan menyimpan sejumlah riwayat penyakit dalam. Kondisi semacam ini tentu menjadikannya sangat rentan bila sampai terpapar virus Covid-19.

Namun, situasi di lapangan berkata lain. Segala usaha sudah diupayakan, tetapi Ibu tak jua kunjung mau bicara dan hanya tergolek lemas di ranjang. Maka, tak ada kata lain selain membolehkan merujuk Ibu ke IGD rumah sakit, dengan catatan semua harus tetap ketat protokol kesehatan. Jangan ada seorang pun yang lengah.

Situasi memang menjadi lebih tenang setelah Ibu dirujuk ke IGD. Hanya, saya tak mungkin berlama-lama menahan tetangga dan keponakan untuk tetap berada di sana. Jadilah, kembali anak saya seorang diri menunggui proses observasi hingga mencarikan kamar inap untuk neneknya. Saya pun berjanji akan sesegera mungkin datang agar ia tak sendirian menghadapi situasi seperti ini.

Tiket pesawat untuk keesokan hari akhirnya bisa saya peroleh, dengan konsekuensi  melengkapinya dengan hasil rapid test—kala itu. Artinya, bisa saja keberangkatan saya batal seandainya hasil rapid test saya positif. Beruntunglah kemungkinan itu tidak terjadi. Mengingat saat itu kebijakan pemerintah dan perusahaan yang membolehkan karyawannya untuk bekerja dari rumah (work from home = wfh) maka kepada teman kantor saya sampaikan bahwa untuk sementara waktu saya akan mengambil posisi wfh, dalam hal ini berarti work from hospital—untuk waktu yang belum bisa saya tentukan hingga kapan. Sejumlah tugas dan wewenang pun saya delegasikan kepada tim, bilamana diperlukan.

Dalam penerbangan saya menghela nafas lega karena untuk sementara semua telah tertangani baik. Benarlah kata pepatah Latin nil volentibus arduum, bagi mereka yang sungguh berusaha tidak ada yang terlalu sulit. Meski, saya sadar bahwa setidaknya selama satu jam ke depan saya tidak akan bisa berbuat apa-apa bila terjadi sesuatu pada Ibu. Pasrah saja.

(Bersambung)

***