Filosofi

Perempuan Dayak Lengilo, Jaga Tradisi, dan Menjunjung Kebersamaan

Jumat, 9 Juli 2021, 21:53 WIB
Dibaca 678
Perempuan Dayak Lengilo, Jaga Tradisi, dan Menjunjung Kebersamaan
Foto Diono: Aktivitas di kampung halaman ku

Tampak semerbak matahari mulai menyibak kampung halamanku. Pagi itu, terlihat ibu-ibu mulai beraktivitas dirumah masing-masing. Di sini hawanya sejuk, sejauh mata memandang, kita pasti melihat gumpalan awan putih berlomba-lomba keluar dari rimbunya pepohonan yang masih alami, pohon-pohon tumbuh terawat dan menghijau kokoh di sepanjang pundak penggunungan. Desa ku Long Padi, yang permai berada di ujung utara pulau Kalimantan.

Biasanya, para wanita lebih awal bangun pagi. Sepanjang pengamatan saya, dan itu terjadi di beberapa tempat. Menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka lebih awal bangun dan melakukan banyak aktivitas? Bukan karena menyetel alaram, tetapi karena sudah terbangun kebiasaan, pada prinsipnya tidur lebih awal dan bangun lebih cepat. Begitu yang saya dengar dari pembicaraan ibu-ibu di kampung halamanku.

Menarik untuk dapat dicontohkan, bahwa kebiasaan yang berulang mereka lakukan tidak mengurangi semangat dan energi mereka. Dalam melakukan aktivitas mereka sepanjang hari.

Perempuan Dayak Lengilo' di tempat saya, masih akrab dengan tunggku. Memasak menggunakan tunggu tanah liat, dan menggunakan bara kayu api untuk memasak. Masih digunakan dengan baik.

Dalam percakapan, mereka selalu menceritakan seperti apa mereka mengerjakan pekerjaan mereka dengan tidak banyak mengeluh. Seperti Ibu Elsa, misalnya, pagi-pagi ia harus beraktivitas mengerjakan urusan dapur. Bagaimana ia mengerjakan pekerjaan dapurnya, sebelum matahari menyinari bumi.

Salah satu kebiasaan di desa kami, setiap pagi dan malam selalu ada Doa yang disampaikan oleh Gembala Jemaat, biasanya Doa pagi hari pukul 06.00 WITA dan malam hari jam 19.00. WITA. Semua masyarakat ikut berdoa bersama, ditempat masing-masing. Ada ibu muda lain seperti ibu Fini,  juga semangatnya tidak kalah dengan yang lainnya, sebelum matahari bersinar sempurna, pekerjaan dapur sudah selesai dikerjakannya.

**

Setelah selesai urusan dapur, menyiapkan makan pagi, perempuan-perempuan Dayak di tempat saya tidak serta merta duduk santai di rumah. Apalagi bulan, persiapan menanam padi. Pasti banyak aktivitas di sawah atau ladang.

Kebetulan, pada hari itu ibu-ibu muda ini mengerjakan sawah milik ibu Loli, hari itu mereka ngekem perongoi artinya bekerja bersama-sama meratakan bagian yang dalam di sawah, agar semua kedalaman airnya merata. Saat waktu menanam padi nanti tidak kerepotan.

Sebagai suami, saya harus ikut membantu juga. Saya sempat mendengar perbincangan mereka disela mereka beristirahat, menikmati kue dan air yang disiapkan tuan rumah.

Mereka sangat menikmati, apa yang mereka kerjakan sepanjang hari itu, tidak ada terlihat rasa lelah pada diri mereka, yang ada hanyalah kegembiraan.

Saya ikut gembira, walapun hanya menguping. Heheh…

Saya mencari tau, berapa upah kerja ketika mereka mengerjakan suatu pekerjaan. Bagi setiap tenaga kerja mereka, satu orang hitungannya perjam kerja, satu jam empat ribu rupiah satu orang. Anggap saja satu orang dalam satu hari bekerja tujuh jam, dikali empat ribu, jadi upah kerja satu orang dalam satu hari yaitu dua puluh delapan ribu rupiah. Tentu angka ini jauh dari standar pekerjaan pegawai di pemerintahan atau swasta.

Bukan mereka tidak paham dengan upah kerja dari pemerintah sebenarnya, karena mereka melakukan pekerjaan, penekanannya memupuk pekerjaan gotong-royong yang ada di desa dan saling menolong sesama ngekem perongoi sebagai budaya bersama.

Mungkin banyak yang bertanya, apakah ibu-ibu muda ini tidak takut terbakar kulitnya karena bekerja dibawah teriknya matahari? Ya, ada rahasianya loh!

Suku Dayak Lengilo', mukimnya di sepanjang sungai kerayan, mayoritas mereka yang hidup berdampingan dengan alam dan bekerja ditengah terik matahari, tidak mempengaruhi warna kulit mereka yang putih seperti buah langsat dan bekerja dengan gembira adalah rahasia dibalik kecantikan ibu-ibu muda ini.

Selain suku Dayak Lengilo' ada juga suku Dayak Kenyah dan Suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah bersama mereka ini, menambah keberagaman dan dengan satu tujuan yaitu berkembang dan maju bersama.

Pada awal mereka melakukan pekerjaan di sawah, saya sempat terpikirkan tidak mungkin dapat selesai apa yang mereka kerjakan. Itu kan pekerjaan berat. Lambat tapi pasti, apa yang mereka kerjakan dapat selesai dengan baik pada sore itu, saya menarik suatu kesimpulan akan pekerjaan wanita-wanita-wanita hebat ini,

Seberat apapun pekerjaan itu, kalau dikerjakan bersama seraya dilakukan dengan hati senang pasti selesai.

***

Ibu-ibu muda ini tidak hanya lihai dalam mengerjakan pekerjaan dapur dan pekerjaan disawah. Namun, mereka juga memiliki suara yang sangat merdu dalam melantunkan lagu, mereka manamai group nya, "Vokal Group Syalom".

Saya mempunyai kerinduan Vokal Group Syalom ini mempunyai potensi besar, kalau dilihat mereka berbeda-beda latar belakang, dengan suara emas mereka bisa jadi kelak rekaman lagu. Keren. Itu doa saya.

Hasil upah kerja yang mereka di sawah mereka gunakan untuk membeli baju seragam, saat mereka tampil di Gereja, menyanyikan bersama lagu-lagu rohani. Sungguh merdu dan indah suara-suara emas Vokal Group Syalom. Akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan kutipan Cecil Williams, pendeta, “ Kita semua membutuhkan sentuhan di bagian terdalam kehidupan, agar semangat kita tidak kurang. Bila kita membuka penutupnya, semangat kita akan menjangkau ke mana-mana. Untuk itulah kita berada di dunia.”

****