Filosofi

Be A Leader, Do What You Can't

Jumat, 14 April 2023, 23:17 WIB
Dibaca 520
Be A Leader, Do What You Can't
YouTube.com

Pemimpin, muda, dan masa depan. Tiga kata yang jika disusun menjadi satu kalimat yang tepat akan melahirkan sesosok citra manusia ideal: muda, energik, berjiwa pemimpin, dan memiliki masa depan cerah. Sah-sah saja mendeskripsikannya demikian, bukan? Akan tetapi, tidak ada salahnya juga jika kita tahu terlebih dahulu deskripsi ketiga kata di atas. Tujuannya, agar jelas seperti apakah sosok ideal itu? Bagaimanakah wujudnya, dan apa perannya bagi negeri kita tercinta ini?
 
Pemimpin. Sederhananya, pemimpin adalah seseorang yang memimpin. Memimpin bukan hanya mengendalikan pengikut atau bawahannya. Pemimpin yang baik lebih cenderung menginspirasi dan memotivasi para pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama. Ia juga bisa berubah peran menjadi kakak, teman, pelatih, orang tua, komandan, bahkan sekedar seorang pendengar yang setia. Ia lebih berorientasi pada tujuan bersama dan proses pencapaian bersama ketimbang bergerak secara individu.
 
Muda. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dimaksud pemuda adalah mereka yang berusia 15 sampai 24 tahun. Tentu saja definisi ini adalah pengertian secara fisik. Lagi pula, PBB sendiri mengambil rentang usia tersebut untuk tujuan statistik dalam rangka menilai kebutuhan kaum muda serta memberikan pedoman bagi pengembangan kepemudaan secara global. Di sisi lain, muda dapat diartikan jiwanya yang muda, bukan hanya fisiknya.  
 
Masa depan. Pernahkah Anda tahu tentang Tujuh Impian Indonesia 2015-2085 yang digagas oleh Presiden Joko Widodo? Percayalah, ketujuhnya bikin merinding. Namanya juga mimpi. Bagi saya, dari ketujuh impian tersebut, dua yang membuat bulu kuduk saya seketika berdiri saat membacanya. Yang pertama adalah impian nomor 1: “Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia.” Yang kedua, yakni impian terakhir atau nomor 7: “Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.”
 
Itulah masa depan Indonesia yang diimpikan oleh Bapak Jokowi sendiri, yang selanjutnya oleh Bappenas diwujudkan ke dalam Visi Indonesia Tahun 2045. Visi tersebut memiliki empat pilar, yaitu: (1) Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (2) Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, (3) Pemerataan Pembangunan, serta (4) Pemantapan Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Kepemerintahan.
 
Tahun 2045 itu tidak jauh lagi. Hanya 22 tahun dari sekarang. Akankah pada masa itu, Indonesia sanggup menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di dunia? Segalanya mungkin terjadi, dan mungkin pula tidak akan pernah terjadi. Semuanya tergantung para awak yang ada di dalamnya saat itu. Para awak itulah sosok-sosok ideal di atas. Para pemimpin muda masa depan. Pertanyaannya, bagaimana karakter sosok ideal itu?
 
Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah channel YouTube milik Casey Niestat. Judul video di beranda channel itu agak menggelitik: Do what you can’t. Dalam video berdurasi kurang dari 4 menit tersebut, Casey menjelaskan bahwa dunia sekarang ini membutuhkan kreativitas sekaligus orisinalitas. Melakukan hal yang bisa Anda lakukan adalah sesuatu yang biasa, dan itu bukan kreativitas. Kurang greget bahasa gaulnya. Pun biasanya dilakukan oleh safety players, mereka yang nyaman berada di zona nyaman. Yang hanya melakukan hal-hal di dalam jangkaun kemampuannya.
 
Sebaliknya, jika Anda melakukan hal yang sejatinya tidak bisa Anda lakukan, maka dibutuhkan effort yang luar biasa. Anda dipaksa keluar dari zona nyaman, putar otak, trial and error, jatuh bangun dan seterusnya hingga akhirnya berhasil. Sebuah pencapaian yang diraih melalui proses sedemikian hebatnya, biasnya hasilnya tidak biasa, tapi luar biasa.
 
Pun demikian dengan pemimpin muda masa depan. Sosok pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 adalah mereka yang berpikir 'obstacle is the way'. Selalu akan ada jalan dalam sebuah rintangan. Bahkan, rintangan itulah jalan sesungguhnya. Selalu ada solusi dalam setiap persoalan, bukan fokus mencari siapa yang salah.
 
Mereka tidak menuai hasil dengan hanya ongkang-ongkang mengandalkan kerja serta pemikiran bawahannya. Terima beres, masalah kelar, rintangan teratasi. Akan tetapi terbiasa terjun langsung bersama para pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, pemimpin tipe seperti itu tahu betul permasalahan yang dihadapi. Tidak hanya mendengar: “katanya.”
 
Pemimpin seperti itu tentu saja akan membiasakan diri untuk 'do what you can’t'. Artinya mau belajar, tak mudah menyerah, cepat beradaptasi untuk melakukan pekerjaan yang belum terbiasa dilakukannya. Karena hal-hal baru itulah karakter lingkungan saat ini: volatile (kacau), uncertain (tidak pasti), complex (kompleks), dan ambiguous (ambigu). Tentu saja model lingkungan seperti itu membutuhkan karakter pemimpin yang adaptif. Artinya ia selalu mengantisipasi setiap indikasi-indikasi perubahan yang ada di sekitarnya.
 
Sosok ideal itu tidak cepat puas dengan pencapaian, tetapi haus akan prestasi. Ia selalu memikirkan terobosan-terobosan baru, inovasi-inovasi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, bahkan sebelum perubahan-perubahan menampakkan dirinya. Ia suka berdiskusi, terbiasa terlibat dalam perdebatan sengit demi pencapaian tujuan bersama.
 
Dengan memiliki sosok pemimpin muda seperti di atas, niscaya kalimat legendaris yang pernah dipekikkan Bung Karno akan menjadi kenyataan. “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.”
 
Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah langkah nyata untuk menjadi sosok ideal itu? Apa iya, harus menunggu menjadi pemimpin sebuah organisasi terlebih dahulu? Tentu saja tidak. Menjadi pemimpin bukan berarti harus punya pengikut atau bawahan terlebih dahulu. Orang bijak berkata, memimpin diri sendiri adalah hal yang paling sulit. Artinya, agar memiliki karakter sosok ideal di atas, mulailah dari diri sendiri.
 
James Clear dalam bukunya Atomic Habits menjelaskan bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten akan memberikan efek luar biasa. Sebagai contoh, jika Anda melakukan push-up 10 kali dalam sehari, tapi dilakukan secara kontinyu dan konsisten selama tiga tahun, hasilnya akan signifikan terlihat. Tubuh Anda akan menjadi fit dan atletis. Namun jika kebiasaan itu hanya bertahan selama tiga hari saja, lalu putus, tidak akan ada hasil signifikan.
 
Sama halnya dengan kebiasaan-kebiasaan kecil ‘do what you can’t’ untuk menjadi sosok pemimpin muda masa depan di atas. Mulailah dari diri sendiri. Miliki mental itu, tanamkan dalam hati dan pikiran, serta lakukan kebiasaan-kebiasaan kecil itu secara kontinyu dan konsisten. Niscaya 22 tahun dari hari ini, akan terlahir sosok-sosok pemimpin masa depan yang siap mengawaki negeri ini menuju era keemasannya. (RK)