Budaya

Resensi Buku Pintar Kebudayaan Tidung

Rabu, 20 Januari 2021, 08:28 WIB
Dibaca 261
Resensi Buku Pintar Kebudayaan Tidung
cover buku Buku Pintar Kebudayaan Tidung

Judul: Buku Pintar Kebudayaan Tidung

Penulis: Muhammad Arbain

Tahun Terbit: 2018

Penerbit: Pustaka Ilmu

Tebal: xvii + 286

ISBN: 978-602-6835-81-9

 

Saya selalu mencari informasi tentang sejarah dan budaya di tempat dimana saya bekerja. Sejak tahun 2017 saya bekerja di Kalimantan Utara. Berbeda dengan provinsi-provinsi tempat kerja saya sebelumnya, di Kaltara ternyata saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan buku-buku tentang sejarah dan budaya provinsi terbaru Indonesia ini. Padahal dari berselancar di dunia maya, saya mendapatkan informasi tentang kekayaan sejarah dan budaya provinsi ini.

Dengan tiga suku asli penghuninya, yaitu Tidung, Bulungan dan Dayak, kekayaan budayanya tentu saja sangat luar biasa. Kesultanan Tidung dan Kesultanan Bulungan begitu berperan di wilayah utara Indonesia di abad 18 dan 19. Tetapi mengapa semua itu belum tertuang dalam buku?

Satu setengah tahun saya berada di Kalimantan Utara, baru beberapa buku yang saya dapat. Di antaranya adalah buku “Islam Dayak,” karya Ahmad Muntohar, “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan” karya Bilfaqih yang hanya 80 halaman saja dan “Dayak Lundayeh Idi Lun Bawang” karya Dr. Yansen TP dan Ricky Yakub Ganang yang separohnya masih ditulis dalam bahasa Lundayeh, yang saya tidak memahaminya.

Buku-buku lain tentang perang di Tarakan juga saya dapatkan. Namun buku-buku tersebut masih sangat sedikit untuk bisa memahami budaya dan sejarah Kalimantan Utara yang sangat kaya.

Suatu hari, melalui group WA, saya mendapatkan informasi tentang buku yang bertema budaya Tidung. Maka saya segera memesannya. Buku tersebut berjudul “Buku Pintar Kebudayaan Tidung.” Buku ini ditulis oleh anak muda lokal bernama Muhammad Arbain.

Baca Juga: Resensi Buku: Dayak Lundayeh Idi Lun Bawang

Melalui buku ini saya mendapatkan informasi tentang asal muasal Suku Tidung. Arbain menelusuri arti kata Tidung supaya bisa mengidentifikasi asal-muasal orang Tidung. Tidung berarti bukit atau gunung. Jika Tidung artinya adalah bukit, mengapa orang Tidung lebih banyak menghuni dataran rendah dan pantai-pantai? Sementara Kayan yang artinya dataran rendah, kok malah sukunya sekarang lebih banyak berada di dataran tinggi?

Arbain menemukan bahwa Islamlah yang menyebabkan pemisahan kedua suku ini. Orang Tidung yang memeluk Islam berangsur menuju pesisir. Sedangkan orang Kayan semakin menuju perbukitan di dalam. Artinya, suku-suku di wilayah utara Kalimantan ini sesungguhnya berasal dari etnis yang sama. Perjumpaan dengan budaya dari luarlah yang ikut berperan dalam menciptakan pemisahan suku.

Selanjutnya Arbain memaparkan tentang Kerajaan Tidung. Ia membagi masa Kerajaan Tidung menjadi Kerajaan Tidung Kuno (abad 8-14) dan Kerajaan Tidung era Dinasti Tidung Tenggara (abad 15-19). Dalam buku ini dipaparkan raja-raja baik di era Kerajaan Tidung Kuno maupun era Dinasti Tenggara. Arbain juga menggambarkan luas wilayah kerajaan dari masa ke masa. Sayang sekali buku ini sangat sedikit membahas bagaimana hubungan Kerajaan Tidung dengan Kerajaan Bulungan yang berjaya di era Belanda.

Selain memberikan informasi tentang asal muasal suku Tidung dan Kerajaan Tidung, buku ini juga memuat berbagai budaya orang Tidung. Diantaranya adalah agama orang Tidung pra Islam, adat istiadat kelahiran, perkawinan dan kematian yang berakar kuat dari budaya pra Islam dan sistem pengobatan. Arbain juga memuat kearifan lokal masyarakat Tidung dalam menjaga alam, bahasa, pantangan, hikayat, teknologi yang pernah digunakan di masa lalu, kuliner dan permainan-permainan anak-anak.

Informasi-informasi tentang budaya yang dimuat dalam buku ini bisa memicu studi lebih lanjut tentang bagaimana orang Tidung menerima budaya dari luar, khususnya agama Islam.

Sebagai anak negeri, Arbain sangat risau dengan surutnya kebudayaan Tidung dari gerusan budaya modern. Ia menyarankan upaya revitalisasi budaya Tidung sehingga bisa bersaing dan bersanding dengan budaya modern yang kian masif. Upaya revitalisasi yang diusulkan adalah mulai dari keluarga. Hendaknya keluarga-keluarga Tidung menggunakan (kembali) bahasa Tidung untuk percakapan sehari-hari di rumah. Selain digunakan di rumah, hendaknya bahasa Tidung juga dijadikan muatan lokal untuk proses pembelajaran di sekolah. Arbain juga mengusulkan penampilan kembali kesenian-kesenian Tidung dan memperkenalkan kebudayaan Tidung ke ranah dunia.

Harus diakui mempertahankan budaya, khususnya kesenian adalah sesuatu yang sangat berat. Kesenian yang dulu berkembang sebagai bagian dari budaya masyarakat, mungkin saat ini sudah hanya menjadi sebuah pertunjukan. Namun dengan upaya revitalisasi dan pengemasan yang sesuai dengan selera masyarakat modern, kesenian tradisional bisa tetap lestari di panggung modern.

Buku ini adalah sumbangan yang luar biasa bagi masyarakat Kalimantan Utara dan orang Tidung khususnya. Sebab buku ini mendokumentasikan banyak aspek dari masyarakat Tidung.

Baca Juga: Buku sebagai Kado

Meski demikian, sebagai sebuah karya akademik awal, tentu masih banyak hal perlu dikaji lebih dalam. Studi lebih lanjut tentu saja masih sangat dibutuhkan. Dalam hal sejarah misalnya, sebagian besar rujukan (kalau tidak bisa dibilang semua) adalah dari tutur lisan. Memang harus diakui bahwa peninggalan sejarah di wilayah Kalimantan tidak sebanyak yang ada di Jawa. Sebab prasasti-prasasti di Jawa kebanyakan berbahan baku batu sehingga bisa bertahan dari gerusan jaman. Hal ini jarang ditemukan di Kalimantan karena budaya prasasti batu memang jarang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan lama di Kalimantan.

Satu lagi yang mungkin menarik untuk dikaji adalah banyaknya jenis gelar dari para pemuka masyarakat Tidung. Raja-raja Tidung ada yang bergelar Aji, Datu, Amiril, Sultan, Tumenggung dan sebagainya. Gelar-gelar ini sudah pasti berasal dari serapan budaya lain yang berjumpa dengan Tidung. Aji adalah gelar yang berasal dari India. Gelar ini pernah menjadi gelar para bangsawan di Nusantara.

Demikian juga dengan Datu yang banyak digunakan dari era Sriwijaya. Sedangkan Amiril dan Sultan tentu adopsi dari gelar-gelar bangsawan Islam. Tumenggung mungkin dari era perjumpaan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Meneliti jenis gelar yang digunakan oleh bangsawan Tidung akan membuka tabir hubungan Kerajaan Tidung dengan dunia luar.

Semoga Arbain atau sejarahwan muda Tidung tertarik untuk terus melanjutkan upayanya menyingkap sejarah dan budaya Tidung.

***