Budaya

Warna Kulit

Minggu, 31 Oktober 2021, 08:59 WIB
Dibaca 46
Warna Kulit
Wisatawan di Bali (Foto: RRI.co.id)

Pepih Nugraha

Penulis senior

"Ngomong 'bule' ke orang kulit putih itu rasis," teman saya mengingatkan di suatu senja. "Sama saja kalo kamu bilang 'negro' ke orang-orang berkulit item!"

"Kalo bilang 'sawo matang' buat kita-kita, apa juga rasis?" tanya saya iseng-iseng berhadiah. Ia tercenung sejenak sebelum melapas tawanya, "Hahaha iya ya..."

Warna sering jadi penyekat, sering juga menjadi penghambat. Padahal, warna itu sifat. Ada di kamus dan karenanya netral. Tidak memihak. Tapi warna sering menjadi bencana di wilayah konflik.

Dulu orang kulit putih (bule) di Amerika memperlakukan orang kulit hitam (negro) seperti memperlakukan hewan liar. Hewan piaraan malah lebih disayang ketimbang manusia. Pun dalam memperlakukan kulit merah (Indian), sama buruknya.

Di daratan lain Eropa, bule berekspansi ke berbagai wilayah untuk menjajah. Dalihnya sih berdagang, lama-lama tergiur kekayaan alam, lalu jatuh cinta dan ujung-ujungnya menjajah. Cinta dan penjajahan jadi sepeti dua perkara dalam satu mata uang.

Sampai sekarang, orang diidentifikasi berdasarkan warna, warna kulit. Orang-orang Tiongkok dan Jepang disebut berkulit kuning. Mau tidak mau ada pengkastaan tersendiri, misal kulit putih alias bule itu kasta paling tinggi. Jadi, warna pun punya gradasi jika dilekatkan pada kulit.

Tapi di Indonesia, khususnya Bali, bule tidaklah setinggi kasta yang digembar-gemborkan.

Ada istilah 'bule miskin', 'bule kere', 'bule nyeker' untuk menggambarkan pelancong asing yang memenuhi pantai Kuta dengan bekal seadanya. Tapi kalo bule yang sudah menginap di Ubud, ga ada lagi 'bule miskin', mereka 'bule tajir'.

Kemakmuran membawa mereka menikmati dunia lain yang sebelumnya tak ternikmati. Ketenangan menjadi komoditas berharga yang mereka kejar dengan harga mahal, bukan lagi kesenangan di keramaian. Mungkin mereka membeli ketenangan buat kesenangan.

Kesejahteraan Rusia, India dan Tiongkok membuat marak ekspansi mereka sebagai pelancong. Tiga bahasa ini: rusia, hindi dan mandarin sering terdengar di hotel-hotel berbintang di Tanah Air. Yang berbahasa Indonesia cuma segelintir saja, itupun para pegawai hotel.

Berharap suatu waktu bahasa Indonesia pun bisa terdengar ramai di hotel-hotel berbintang di luar negeri sana. Penuturnya bukan lagi 'sawo matang kere', tapi 'sawo matang tajir'.

Tapi kapan, ya?

***