Budaya

Baju Lundayeh sebagai Nilai dan Ciri Dayak

Minggu, 2 Mei 2021, 11:09 WIB
Dibaca 1.078
Baju Lundayeh sebagai Nilai dan Ciri Dayak
Pakaian adat Lundayeh (Foto: dok.pribadi)

Perbedaan itu hakiki!

Di saat perbedaan itu diperdebatkan, yang muncul adalah eksistensi substansi perdebatannya itu sendiri. Saya bertanya, “Apakah kira-kira seorang Jawa akan bangga menggunakan baju Dayak? Ataukah, orang Dayak sendiri akan bangga menggunakan baju Dayak?”

Pertanyaan mana yang senang dan bangga Anda jawab?

Saya tidak berandai-andai soal kebanggaan dan jawabannya. Sebangganya pun orang Jawa, menggunakan baju Dayak, dia tetap orang Jawa. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengatakan dia orang Dayak karena menggunakan baju Dayak.

Baju menandakan nilai, ciri, identitas yang hakiki. Burung cendrawasih bangga memamerkan bulunya yang indah. Mengapa? Karena dia dikenal sebagai Burung cendrawasih karena bulunya.

Dua poin mengajarkan kepada kita. Bahwa baju adalah identitas yang melekat pada nilai budaya dan nilai, ciri, dan identitas diri yang tidak bisa pindah kepada orang lain. Demikian juga, apakah seorang Dayak Kristen menjadi berubah identitas agamanya ketika dia memakai kopiah yang katanya sebuah identitas nasional Indonesia? Karena atribut kopiah ini yang biasa di gunakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Islam ketika salat, dan seterusnya.

Tentu tidak serta merta hanya karena diwajibkan untuk dipakai sebagai Simbol Nasional. Bahwa dia orang Indonesia. Dia kemudian menjadi berubah sesuai nilai, ciri, dan identitas yang menyertai kopiah itu! Karena hanya orang Indonesia yang menggunakan kopiah tipe itu.

Ketika kita orang Dayak menggunakan baju Dayak, maka tidak ada satu pun orang membantah dan bertanya sedikit pun, karena kita memang Dayak dan sah menggunakannya.

Tetapi akan sangat berbeda, ketika orang Dayak mengenakan baju Jawa. Orang akan bertanya, “Kenapa? Apakah dia kawin dengan orang Jawa? Apa ada acara budaya Jawa? Apakah dia diangkat anak oleh orang Jawa?”

Dan segudang pertanyaan dan jawaban tidak mengubah identitas DNA Dayaknya. Ketika kita, orang Dayak Lundayeh sendiri menggunakan nilai, ciri, dan identitas berupa baju Lundayeh, siapakah yang bertanya dan mau protes?

Jadi, sekarang. Siapa yang harus wajib dan bangga menggunakan baju Dayak? Tidak lain, orang Dayak itu sendiri.

Sebutir bibit perbedaan tidak menjadi kebenaran ketika saya katakan bahwa orang Dayak apalagi LUNDAYEH wajib dan hakiki selalu dalam keberadaannya memakai tanda nilai, ciri, identitas berupa baju untuk menghadirkan Lundayeh di mana pun. Hal itu karena kita memang harus menghadirkan perbedaan itu secara fakta dan realita hidup bermasyarakat bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apa yang menandakan kita hidup berbeda dan kenapa kita harus menunjukkan perbedaan itu? Karena kita harus menghadirkan kebangsaan kita. "BHINNEKA TUNGGAL IKA", salah satu etnis penunjuk berbeda-beda itu ada subsuku Dayak Lundayeh. 

Di sinilah salah satu letak esensial kita selalu menampakkan kehadiran dengan selalu penuh keyakinan, kebanggaan menggunakan baju Dayak.

Mari kita bangga menghadirkan identitas kita melalui berbagai ragam nilai, ciri, identitas Dayak Lundayeh, terutama baju. Jujur! Saya termasuk pribadi yang pertama menggagas modifikasi.

1. Baju Lundayeh tahun 1993 di Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang. Baju Talun dengan ukiran kilep.

2. Memodifikasi topi Lundayeh dari manik dengan simbol Buaya, sekitar tahun 2004. Dikerjakan oleh Ibu Listiani Labo, istri almarhum Giso Toran.

3. Saya juga memodifikasi topi warna merah dengan lambang buaya, yang dikerjakan oleh Pdt. Steven dari Samarinda. Hal ini terjadi sekitar tahun 2008/2009.

4. Saya juga yang memodifikasi baju tipe Formal yang ada lambang Burung Garuda Pancasila, Indonesia, merah putih, yang termampang pada pundak baju.

5. Saya dengan berani tampil pada acara resmi paripurna Irau menggunakan topi khas Grup BUDAYA ULUNG DA'A, berupa topi anyaman rotan dengan simbol yang melambangkan bulu sayap dan ekor burung Temudun. Saya katakan, “Ini bukan untuk bangga-bangaan! Semuanya ini merupakan tekad untuk menghadirkan Dayak Lundayeh melalui nilai, ciri, dan identitas Lundayeh. Fanatisme ini ingin saya ajarkan dan wariskan kepada generasi penerus Lundayeh untuk tetap mempertahankan nilai, ciri, dan identitas Lundayeh secara total, kapan, dan di mana pun. Untuk selamanya.”

"KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI, KALAU TIDAK SEKARANG KAPAN LAGI".

Banggalah kita, terhormatlah kita. Fanatislah kita menggunakan dan membudayakan identitas Lundayeh di mata bangsa-bangsa di dunia.

AWANG KUAN MUYU.

*YTP*