Sosok

Walikot Singkawang dan "Little China in Tropics"

Rabu, 19 Agustus 2020, 07:25 WIB
Dibaca 59
Walikot Singkawang dan "Little China in Tropics"
Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie (Foto: radarbogor.id)

Salah satu Bab dari gizi menu biografi Tjhai Chui Mie. Pada titik inilah sebuah buku biografi akan menjadi menarik, ketika his story bergabung dengan history --meski dalam hal ini her story. Bagaimana seorang tokoh ditempatkan dalam latar dan konteks. seperti novel. Ini monumen kisah pendaratan cina di pemangkat. Inilah ilmu menulis Biografi seperti nanti saya kisahkan bagaimana penulis buku menjadi seorang sejarawan sekaligus ilmuwan.

Saya sudah riset, langsung di pesisir pantai utara Kalbar, Pemangkat. Di situ terpampang, pada sebuah kuil: monumen, separuh artefak, yang mengabadikan PENDARATAN PETAMA IMIGRAN CINA KALIMANTAN BARAT.

Jiwa imuwan saya menggetar. Saya lalu menelisik, dan menemukan dokumen mengenai kisah pendaratan pertama Cina di Kalimantan Barat.

Katolik di Singkawang, dimulai keluarga Cina. Asalnya dari Bangka, berabad kemudian, setelah pater Staal Sj menginjakkan kaki di bumi Borneo pengujung abad 18.

Kongsi-kongsi di Monterado dan Budok jauh hari sebelumnya, dikelola Cina Bintang Lima. Mula-mula diberi privelese oleh Sultan Sambas, namun seiring makin berjalanya tambang emas dan bisnis lambang kemakmuran ini --imigran Cina mendirikan negeri sendiri. Hingga luas wilayahnya sampai Mandor kini.

Akan halnya SAMBAS, berasal dari dialek Cina setempat. Sam = tiga, Bas = Suku yang menunjuk pada Dayak, Melayu, dan Cina.

Itu sebabnya, saya telah menulis bahwa Kerusuhan Sambas (The solution to the Sambas dalamThe Jakarta Post, April 20 1999) tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sejarah masa lalu, terutama bagaimana ketiga suku (Dayak, Melayu, dan Tionghoa) berinteraksi.Sentimen sebagai sama-sama penghuni Kalimantan Barat sejak zaman prakolonial, kemudian pengalaman sejarah diserang musuh dari luar seperti Inggris pada 1812 (Lontaan, 1975: 131, 138) menumbuhkan solidaritas yang tinggi di antara ketiga suku tersebut.

Wilayah Kerajaan Sambas dikenal mengandung tambang emas yang luar biasa. Kekayaan alam ini mengundang perhatian dunia luar, sehingga pada pengujung abad 18 datanglah secara besar-besaran imigran dari Cina (Heidhues, 2003: 12-13) untuk mengeksploitasi dan dipekerjakan di pusat-pusat pertambangan emas di wilayah Mempawah dan Monterado.

Sedemikian kuat dominasi etnis Tionghoa di Kalimantan Barat, terutama pada periode sebelum 1942, sehingga disebut sebagai “Little China in Tropics” yang menunjukkan betapa etnis Cina di Kalimantan Barat merupakan miniatur RRC dari berbagai aspek kehidupan, termasuk adat istiadat, agama, bahasa, dan budaya.

Pada 24 Juli 1812, tiba di Sambas kapal Perang East Indian Company yang bertujuan menyerang dan menduduki negeri Sambas. Kedatangan kapal perang Inggris ini bertepatan dengan tidak berada di tempat Pangeran Sultan Sambas yang sedang pergi ke Sarawak.Penyerangan sebagai tindak balasan atas tenggelamnya kapal Cendana milik Inggris di perairan Banjarmasin pada 1789.

Secara susah payah pasukan Inggris mencoba menaklukkan Sambas, namun belum berhasil. Akhirnya, komandan pasukan Inggris berhasil membujuk penduduk setempat untuk membantu dengan iming-iming hadiah, maka berangkatlah pasukan Inggris memasuki Sungai Sambas Besar dan mendarat di Kartiasa.

Selanjutnya, bergerak ke selatan menyusuri Sungai Sambas Kecil menuju ke kota Sambas.
Kontak senjata antara pasukan Inggris dan pasukan kerajaan Sambas tidak terhindarkan lagi.Karena semakin terdesak akibat kalah dalam bidang persenjataan, pasukan Sambas mundur dan bertahan di kubu-kubu dekat kampung Pendawan sekarang ini.

Sementara itu, pasukan Inggris terus maju menyusur Sungai Sambas Kecil hingga ke muara sungai Teberau. Pasukan Inggris berhasil membumihanguskan sebuah kampung yang hingga kini bernama “Kampung Hangus” di Sambas.

Pada awal 1813, pasukan pembela tanah Sambas menyerah dan takluk pada Inggris.Solidaritas tiga suku mayoritas di Sambas ketika diserang Inggris.

Tjhai Chui Mie,tokoh kita ini, mengingatkan masa lalu. Dahulu kala, wilayah ini memang Little China in Tropics. Di dalam keindonesiaan, wajahnya kini bermetamorfosis.
Saya pribadi, entah Anda, suka melihat perempuan Cina mengenakan seragam birokrat. Atribut itu baliknya adalah: amanat. Ia berkata kepada saya, "Menghabiskan uang itu gampang, tidak usah sekolah dan belajar. Tapi mendatangkan uang itu tidak mudah."

Bandar udara (bandara) Singkawang salah satu bukti ujarannya. Di masa pengabdian sebagai walikota, ia akan menuntaskannya.

Dan saya berjumpa dengan salah seorang pemodal, taipan besar negeri ini, di sebuah hotel megabintang di bilangan Cikini, Jakarta. "Chui Mie memang pantas kita dukung," singkat saja ia berkata.

Asal mafhum saja, di kalangan para hoa kiao, kepercayaan nomor 1. Dalam banyak hal. Terutama, dan utama, terletak pada: integritas seseorang.

***