Sosok

Ipoi Datan: Putra Lun Dayeh Direktur Museum Sarawak

Jumat, 28 Agustus 2020, 00:31 WIB
Dibaca 198
Ipoi Datan: Putra Lun Dayeh Direktur Museum Sarawak
Saya bersama IP (3) dalam sebuah malam keakraban di Kuching.

Ipoi Datan, putra Lun Bawang (Lun Dayeh) Direktur Museum Sarawak. Sarjana lulusan Australia. Pakar sejarah Dayak Lun Bawang, sangat memahami filosofi buaya, yang jadi simbol Lundayeh Idi Lunbawang - budaya serumpun di Dataran Tinggi Borneo.

Dilahirkan pada 16 Mei 1958 di Lawas, sebuah kota kecil Sarawak utara. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di SMK Laras, kemudian Tanjong Lobang Collage. Kemudian, pendidikan tinggi dituntaskankannya di The Australian National University.

 Setelah padat berisi menuntut ilmu di negeri Kanguru, Ipoi kembali ke negerinya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk puaknya. Dikenal sebagai salah satu akademisi yang paham akan sejarah dan tradisi Dayak Sarawak, utamanya Lundayeh, pandangan dan kata-kata Ipoi banyak dikutip dan dijadikan referensi.

Silang pendapat mengenai asal usul Murut, kemudian Lun Bawang di Sarawak, dan Lundayeh di Indonesia, salah satu penyelesai-masalah adalah apa kata Ipoi. Sebagaimana diketahui bahwa populasi Lundayeh saat ini ditengarai 300.000, tersebar di Sabah, Malaysia, dan Indonesia.

Ipoi, bersama pengurus Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) secara aktif membangun komunikasi dan kerja sama internasional antar-Lundayeh tanpa disekat-sekat negara dan kawasan. Semuanya demi kejayaan dan kerja sama saling menguntungkan Lundayeh. Aktif dalam organisasi PDL, Itoi bahkan bersama utusan mengikuti Kongres I PDL yang diadakan di Malinau, Kalimantan Utara, 13 – 14 Juli 2015.

Hal yang cukup membanggakan kaumnya, dan memberikan kontribusi besar bagi Dayak dan Kedayakan, Ipoi pemelihara dan penjaga setia Museum Sarawak. Seperti diketahui bahwa Museum Sarawak adalah museum tertua di Kalimantan. Museum ini boleh dikatakan besar, modern, dan lengkap. Didirikan pada 1888 dan dibuka pada 1891 di sebuah bangunan di Kuching, Sarawak. Charles Brooke, Rajah Putih Sarawak kedua, untuk mendirikan museum tersebut. Syahdan, atas permintaan Alfred Russel Wallace. 

Hingga 1974, Kepala Museum Sarawak disebut “kurator”. Setelah itu, “sejak 2009 hingga kini “Direktur" adalah gelar untuk kepala museum tersebut.

Orang yang ingin belajar tentang masa lalu, artefak, serta seni budayak Dayak, datanglah ke Museum Sarawak. Boleh dikatakan, inilah museum terlengkap di dunia tentang Dayak dan Kedayakan.

 Dan Ipoi Datan, seorang Lundayeh adalah Direktur museum itu. Karena seorang Dayak, ia tahu apa yang ia mau.

Tags : sosok