Sastra

LOBOR | Foklor dari Jangkang, Kalbar

Minggu, 18 Juli 2021, 20:14 WIB
Dibaca 70
LOBOR | Foklor dari Jangkang, Kalbar
Pawan dan kucingnya. Ilustrasi bonjon/pak gum

Intro

James Danandjaja (1984: 183-199, 217-221) telah pun memberi rambu-rambu mengenai penelitian Folklor: Catat dengan jujur. Lalu tulislalah! Sesimpel itu.

"Mengajar dengan contoh," barangkali istilah yang pas. Saya telah meneliti. Lalu menulis Folklor. Seperti judul di atas.

***

Suatu wilayah. Di ujung paling tepi pulau Borneo. Ketika hutan belantara masih menutupi daerah itu.

Tersebutlah sebuah kampung bernama Ponongu. Warganya sejahtera. Rakyatnya cukup makan dan minum.

Pada waktu itu. Penduduk tinggal di dua betang, atau rumah panjang. Kedua betang dipisahkan oleh jalan. Panjang betang hingga 100 meter. Keluarga yang mendiami betang 20 hingga 25 lawang (kepala keluarga).

Biasanya, setiap tahun. Kedua betang mengadakan pesta gawai pada hari yang sama. Namun, karena panen melimpah, tahun itu pesta gawai berbeda. Betang di kanan jalan gawai lebih dulu. Sedangkan yang sebelah kiri kemudian.

Pesta berlangsung sangat meriah. Segala ternak yang ada, dibawa ke tempat upacara untuk disembelih. Misalnya sapi, lembu, kambing, dan ayam yang sudah siap dipotong. Hewan-hewan itu dibawa ke tempat upacara untuk dijadikan korban dan sajian. Sedangkan sisanya, untuk dimakan ramai-ramai.

Maka seluruh warga kampung larut dalam kegembiraan pesta. Mereka menyanyi. Mereka juga menari. Muda mudi bersahut-sahutan berpantun. Kaum tua saling melempar kelakar. Kakek dan nenek tak ketinggalan tertawa ceria. Pokoknya, tidak ada yang murung di hari upacara. Semua gembira. Apalagi tahun itu panenan melimpah. Lagi pula, banyak kepala musuh didapat untuk keperluan notongk.

Akan tetapi, tidak semua warga turut larut dalam kegembiraan. Di betang kiri jalan, hidup pula seorang nenek. Nek Dara, orang kampung biasa memanggilnya.  Ini karena rambut si nenek sudah ubanan mirip dengan burung dara yang berbulu putih.

Nek Dara hidup sebatang kara. Ia hanya ditemani oleh Pawan, cucu laki-lakinya yang tengah akil balig. Hidup mereka sangat miskin. Karena miskin, mereka tidak diundang dalam pesta.

Siang malam bunyi gendang berlalu-lalu tanpa henti. Suara tawa sesekali ditingkah oleh sorak sorai. Karena miskin, Nek Dara dan Pawan tak diundang dalam pesta. Karena itu, mereka hanya bisa membayangkan. Betapa lezat makanan dan minuman yang dihidangkan di pesta itu.

Hujan batu disertai petir sambar menyambar itu disebabkan dua hal. Yang pertama, karena orang di pesta membohongi Pawan dan neneknya. Mereka memberi anak itu karet, bukan daging. Kedua, karena orang ramai menertawai binatang. Orang Jangkang menamai tulah seperti itu: Lobor.

Walaupun miskin, nenek dan cucu memelihara trenggiling (manis javanica) dan kucing. Meski yang satu binatang hutan, tapi karena dipungut sejak bayi, kedua makhluk itu jadi sangat jinak. Lagi pula, keduanya suka menolong. Kucing suka menghadang tikus yang kerap memasuki rumah. Sementara trenggiling memakan semut yang mengotori rumah.

“Cucunda,” pinta Nek Dara. “Pergilah ke pesta itu. Mintalah sepotong daging untuk kita!”

Diliputi perasaan malu, Pawan pergi ke pesta. Ia tak berani menolak. Lagi pula, tak tega hatinya menyakiti hati nenek yang sangat dikasihinya.

Setibanya di pesta. Tanpa basa basi Pawan mengutarakan maksudnya. Ia diberi sekerat daging oleh pemimpin pesta.

Hujan batu disertai petir sambar menyambar itu disebabkan dua hal. Yang pertama, karena orang di pesta membohongi Pawan dan neneknya. Mereka memberi anak itu karet, bukan daging. Kedua, karena orang ramai menertawai binatang. Orang Jangkang menamai tulah seperti itu: Lobor.

Tapi di tengah perjalanan pulang, Pawan terpeleset. Sekerat daging jatuh dari tangannya. Anjing-anjing yang mengikutinya dari belakang, segera menyambar daging itu.

Sembari menangis terisak, Pawan kembali ke rumah. Diceritakannya pengalamannya pada neneknya. Nenek coba membesarkan hatinya. Lalu dengan lemah lembut membujuk Pawan untuk mencoba meminta sekali lagi.

Alangkah malu hati Pawan harus ke pesta itu lagi. Tapi ia tak punya pilihan. Sudah lama mereka makan tanpa daging. Maka berangkatlah sekali lagi Pawan ke pesta. Betapa baik pemimpin pesta, masih mau memberinya sekerat lagi.

Kali ini Pawan lebih waspada. Pengalaman mengajarkan padanya agar berjalan lebih hati-hati lagi. “Nek, Pawan datang membawa daging!” serunya begitu hendak menaiki tangga rumah.

Tangga rumah betang suku Dayak tidak sebagaimana lazimnya. Tangga itu sangat tinggi. Bisa sampai tiga meter. Begitu menginjak pelataran rumah, kaki Pawan terperosok antara batang bambu. Daging di tangannya jatuh ke tanah. Di bawah pelataran itu, terdapat kubangan. Segumpal daging itu masuk ke dalamnya.

Pawan menangis tersedu-sedu. Ia merasa kesal. Kali ini daging sudah berhasil dibawanya masuk rumah, tapi celaka. Melihat cucunya menangis, Nek Dara mengusulkan supaya Pawan sekali lagi mencoba. Maka pergilah Pawan ke pesta, meminta lagi.

Orang-orang merasa heran melihat Pawan datang untuk ketiga kalinya. “Keterlaluan ini anak,” ujar seorang tukang masak. “Gak tahu diri. Dikasih ati, minta rempela.”

Tapi baiklah. Ia punya akal supaya anak itu kapok dan tak datang lagi untuk ketiga kalinya. Bukankah di situ ada kepingan karet yang biasanya digunakan untuk menghidupkan api? Diberinya karet itu kepada Pawan.

“Ini daging yang kamu cari. Pulang dan masaklah. Makanlah bersama dengan nenekmu. Senang-senang dan bersukacitalah kalian seperti kami!”

Menerima kemurahan hati untuk ketiga kalinya, Pawan pulang dengan riang gembira.

Sesampainya di rumah, neneknya sudah menunggu. Segera mereka memasak daging.

Namun, apa yang terjadi? Makin lama dimasak, makin daging itu meleleh. Pawan tak sabar. Dicicipinya masakan itu. Rasanya, tidak seperti daging hewan atau ternak yang biasa dimakan orang. Nek Dara juga mencicipinya. Akhirnya si nenek tahu. Bahwa yang diberikan kepada mereka bukan daging, melainkan segumpal karet.

Karena sakit hati menerima perlakuan dan penghinaan seperti itu, nenek dan cucu itu menangis. Nek Dara kemudian memanggil trenggiling. Disuruhnya binatang pemakan serangga itu menggali lobang dari rumah mereka sampai melewati batas kampung. Dalam sekejap, trenggiling sudah menunaikan tugasnya.

Kini dipanggilnya kucing. Binatang ini diberinya baju. Lalu lehernya dikalungi dengan lonceng.

“Bawalah ini ke tempat pesta. Tiba di sana, lepaskan!” kata Nek Dara pada Pawan.

Pawan menuruti permintaan nenek. Sesampainya di tempat pesta, dilepasnya kucing itu ke tengah-tengah kerumunan orang ramai. Pawan segera pulang. Semua orang menertawai kucing itu. Mereka semua terpingkal-pingkal. Ada yang memegang perut menahan tawa.

Tiba-tiba gelap gulita memenuhi seluruh kampung. Petir menggelegar. Kilat sambar menyambar. Seketika suasana gaduh. Hujan lebat turun. Anehnya, bukan air yang turun, tetapi batu.

Hujan batu disertai petir sambar menyambar itu disebabkan dua hal. Yang pertama, karena orang di pesta membohongi Pawan dan neneknya. Mereka memberi anak itu karet, bukan daging. Kedua, karena orang ramai menertawai binatang. Orang Jangkang menamai tulah seperti itu: Lobor.

Tak satu pun penduduk yang selamat dari hujan batu. Namun, Nek Dara, Pawan, trenggiling serta kucing selamat. Mereka keluar kampung itu melalui terowongan yang telah dibuat trenggiling.

Seketika, kampung itu dihujani batu. Lama kelamaan batu-batu itu jadi bukit. Itulah asal muasal Bukit Ponongu.

Pawan dan neneknya pergi mengungsi. Jauh sekali sampai ke Ketapang.

Nantinya, nama Pawan diabadikan menjadi nama Sungai di Ketapang, yakni Sungai Pawan. Salah satu keturunan Pawan menjadi permaisuri raja Kerajaan Matan.

Tags : sastra