Riset

The History of Dayak (1)

Rabu, 13 Januari 2021, 19:46 WIB
Dibaca 3.663
The History of Dayak (1)
Saya dan orang Punan dalam suatu acara budaya di Malinau.

Perdana dari  101 rangkaian tulisan mengenai Sejarah Dayak --The History of Dayak. Mulai dimuat 13/01-2021 di web berkelas ini.

SIAPA manusia Dayak?

Mengajukan pertanyaan ini, seperti orang pandir. Mengapa? Sebab kita seperti dibimbing menerabas wilayah baru tak dikenal. Suatu terra incognita. Sebuah pencarian ada awal, namun tanpa ujung. Pasti tidak pernah bersua jawaban yang purna. Hanya sebatas mendekati.

Terra incognita adalah istilah yang ditengarai pertamakali ditemukan Geografi Ptolemaeus. Sekitar tahun 150. Terra incognita, atau kerap terra ignota. Adalah terminologi yang digunakan dalam kartografi untuk menyebut suatu daerah yang belum dipetakan. Atau suatu lokus geografi yang belum didokumentasikan. Namun, begitu ada jejak langkah meski setapak saja di wilayah terra incognita, ia telah jadi tonggak sejarah. Kerapkali, penelitian selanjutnya meneruskan, atau menemukan novelty --bidang yang belum dijamah oleh tapak kaki peneliti pertama. 

Demikianlah. Sejarah suku bangsa Dayak pun menemukan fitrahnya! Sekian abad telah lewat. Ribuan tahun berganti. Belum ada sejilid buku pun mengenai sejarah dan kisah penghuni asli bumi Borneo.

Memulai kata pembuka alinea pertama narasi ini, wajib diberi catatan awal: kita masuk wilayah  terra incognita sejarah manusia Dayak. Suatu pekerjaaan yang tidak mudah dan memakan waktu serta menguras tenaga. Bahan-bahan dan pustaka telah dikumpulkan bukan tiba-tiba, melainkan sejak tahun 1984.

Beberapa artikel awal, sempat dimuat harian Kompas. Yang pertama berjudul "Tindakan Preventif untuk Mengurangi Penurunan Budaya Mangkok Merah" (Kompas, 11 Maret 1984). Selanjutnya, beberapa artikel ilmiah dimuat di majalah kebudayaan Basis (Agustus 1987, 289-295 ), kemudian di berbagai jurnal akademik terakreditasi. Lalu pada 2010, terbit sebuah monograf berjudul Dayak Djongkang yang memenangkan hibah buku teks perguruan tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beperapa hasil penelitian dimuat dalam The Joshua Project. Demikian, sekadar menyebut beberapa cikal bakal awal yang menjadi narasi lengkap ini.

Merupakan pekerjaan raksasa suatu upaya yang berusaha untuk menggali dan mengumpulkan bahan-bahan yang bisa dipercaya, mengkategorikannya, menyusunnya sesuai dengan tempatnya, membandingkannya dengan teks lain yang terkait, kemudian menyajikannya secara utuh-menyeluruh menjadi sebuah narasi yang utuh. Belum ada sebuah monograf lengkap, belum ada pustaka tunggal selayang pandang Sejarah Dayak. Yang ada adalah potongan-potongannya saja. Misalnya, Dayak di suatu wilayah, pada kurun waktu tertentu. Sedemikian rupa, sehingga belum ada pustaka yang tunggal yang dapat menjelaskan "Siapa manusia Dayak?"

Baca juga: Eksistensi Pengadilan Adat Dayak

Jujur harus diakui bahwa pada awal mula tidak ada keberanian untuk memasuki terra incognita ini. Hal itu mengingat berbagai keterbatasan: begitu jauh apa yang disebut dengan jarak-hermenutika, hermeneutic cycle. Sedemikian panjang jenjang apa yang diketahui dan belum diketahui. Sebegitu lempang rentang antara dunia atas (tidak diketahui) dan fakta-data sejarah sebagai clue, vorurteil, sebagai tonggak awal di dalam mengetahui "siapa manusia Dayak" sesungguhnya.

Sedemikian rupa, sehingga dapat dipastikan, jawaban atas pertanyaan, "Siapa manusia Dayak?"   tidak sesederhana seperti dibayangkan. Masuk wilayah itu, sesungguhnya kita memberanikan diri menginjak zona merah. Suatu ranah epistemologi.

Banyak pakar coba menjelaskan siapa manusia Dayak. Sekadar menyebut contoh, Riwut (1952), Ukur (1971), Lontaan (1975), Coomans (1987), Djuweng dan Krenak (1993),  dan Masri (2010). Semua sepakat bahwa Dayak adalah nama kolektif untuk menyebut penduduk asli penghuni pulau Borneo yang belum dipengaruhi agama asing dan sentuhan unsur-unsur di luar dirinya.

Dayak dan bukan-Dayak  secara otomatis terpilah berdasarkan label “keaslian” penduduk pulau Borneo.

Bahkan, secara jelas-tegas, beberapa pakar menyatakan bahwa keaslian Dayak dapat dilihat dari “sensus divinitas” atau agama asli suku Dayak yakni sifat lokal keagamaan yang berasal dari daerah itu sendiri, sejak awal mula ada di sini dan tidak diimpor dari luar. Sifat asli itu oleh Bakker (1972: 1) disebut “autochton”, sebagai lawan dari “allochton”. Pabila direntang jauh surut ke belakang lagi, pertengahan abad 17.

Baca juga: Nilai Pancasila dalam Budaya Dayak

Sesungguhnya, penulis yang disebut di atas masih mengacu ke sumber lain, yang sekunder. Sumber primernya sendiri yang menohok langsung menyebut “Dayak”, sebenarnya dari karya Jan B. Ave dan V.T. King berjudul Borneo: Oerwoud in ondergang culturen op drift (1986, halaman 10) yang berikut ini:

“Naar ons weten was het woord ‘Dayak’ reeds in 1757 aan Nederlanders bekend, getuige het voorkomen van die term in de beschrijving van Banjarmasin door J.A. Hogendorf. Het woord betekent ‘binnenland”.

Jadi, terminologi “Dayak” diperkenalkan kepada orang Kolonial (Belanda) pada 1757. Artinya, seperti dicatat dalam monograf tentang Banjarmasin oleh J.A. Hogendorf “binnenland”, penduduk asli, sebagai lawan dari pendatang. Kemudian, disebutlah penduduk asli Borneo itu sebagai: binnenlander, mengacu ke pewaris sah suatu negeri, tanah tumpah darah, orang hulu, tinggal di daratan bukan pesisir, orang udik.

Itulah citarasa Dayak pada sense awal mula, sebuah askripsi, suatu labeling yang mengarah ke pemilahan.Sebenarnya para penulis di atas telah mengutip sumber-kedua seperti karya Van Enthoven, Nieuwenhuis, dan karya kontrolur Malinckrodt –seperti dikutip Ukur. Sebagai peneliti-penulis, kita wajib menelusuri –dari catatan kaki dan senarai pustaka—sumber primernya. Jadi, istilah “Dayak” itu ditemukan/ digunakan pertama kali dalam monograf tentang Banjarmasin bertahun 1757.

Kelak di kemudian hari, baru para pakar telah memilah-milah indigenous people Borneo terdiri atas setidaknya tujuh stammenras (rumpun besar suku) yang terdiri atas sekitar 450 subsuku. Pemilahan itu berdasarkan kesamaan bahasa, adat istiadat, tempat tinggal, ritus, upacara, kesamaan fisik, dan artefak. Tidak berhenti di situ.

Peneliti selanjutnya dapat meneruskan, menambah, atau meng-up date hasil penelitian yang telah ada. Sehingga, sebenarnya, subsuku Dayak bukan hanya 450; melainkan lebih. Bahkan, di Kalbar saja menurut para peneliti Institut Dayakologi (2008), terdapat : 151 subsuku Dayak. Belum subsuku Dayak lain, di sisa 4 provinsi lainnya dan yang bermukim di Malaysia dan negara lainnya.Locus studiorum (wilayah penelitian) yang maha luas ini sudahlah tentu membutuhkan peneliti dari dalam, yang pengetahuan dan latar akademisnya memadai, agar hasilnya standar internasional dan dapat dipertanggungjawabkanAtas pemilahan dan penggolongan tersebut, maka yang disebut “manusia Dayak” hari ini tersebar di tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam), meski tetap bermukim di pulau sama. Populasinya mencapai sekitar 7 juta, terdiri atas hampir 4 juta di Indonesia, 2,9 juta di Malaysia, dan 100.000 di Brunei.

Identitas Dayak, dengan demikian, terbentuk berdasarkan label “penduduk asli pulau Borneo” yang ditengarai sebagai keturunan kelompok proto-Melayu yang masuk pulau Borneo melalui Semenanjung Melayu pada sekitar 4.000 tahun yang silam.

Namun, tentang asal usul ini, masih suatu perdebatan. Sebagian ilmuwan, saya termasuk di dalam mazhab ini, tidak sepakat bahwa Dayak berasal dari mana pun. Artefak dan mitos di Krayan, misalnya. Adalah bukti-sejarah tak terbantah, bahwa nenek moyang Dayak telah ada di sini, di lokuis ini, sejak zaman semula jadi. Dengan demikian, tidak berasal dari mana pun. Bukti tentang ini akan diajukan kemudian.

Saya, sebagai peneliti, memiliki sumber-primernya sebagai starting  awal hipotesis. Setidaknya, ada dua sumber primer kuat dari sisi akademik. Diperkokoh oleh penelitian di locus peradaban batu suku Dayak di Krayan, saya semakin yakin bahwa asal mula Dayak tidak dari mana pun. Ia asli, autokton.

1) Monograf --hasil penelitian Proyek Pengembangan Departemen P dan K (1976) tentang Monografi Sejarah Kalimantan Barat. Hasil penelitian Tim Inventarisaasi warisan budaya bangsa berhasil --meski secuil-- membeberkan fakta historis bahwa: zaman prasejarah, zaman kuno, terutama rentang tahun circa 1.500 SM berhasil menemukan apa yang disebut dengan zoute bronnen --sumber garam di perut bumi Borneo ketika itu.

Kini pun, zoute bronnen  itu masih ditemukan aslinya di bumi Krayan hingga saat ini. Sumber garam gunung melimpah di wilayah Dataran Tinggi Borneo ini, sebagai awal dari clue, vorurteil, yang menunjukkan salah satu sifat/wujud arkais penghuni bumi Borneo tidak dari mana pun.

2. Monograf Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (1984).

Penelitian di locus sejarah peradaban batu di Krayan (2019) dan wawancara tetua mengenai mitos air bah, asal mula Lengilo', semakin memperkukuh keyakinan bahwa Dayak tidak dari mana pun, di luar Borneo. Ia penghuni asli. Terbukti dari artefak dan mitos-mitos, mirip air bah zaman Nabi Nuh.

Hal ini menggenapi apa yang ditegaskan Phinney (1996: 922) bahwa, “Ethnic identity is sometimes used to refer simply to ethnic group membership or label.... Ethnic identity has been conceptualized as an enduring, fundamental aspect of the self that includes a sense of membership in an ethnic group and the attitude and feelings associated with that membership”.

Dayak dan bukan-Dayak lalu secara otomatis terpilah berdasarkan label “keaslian” penduduk pulau Borneo.

***

DALAM literatur asing  berbahasa Inggris, muncul banyak variasi untuk mengacu ke penduduk asli Borneo: Dyak, Dayak, Daya'. Namun, literatur berbahasa Belanda menulis "Daya", atau Dayaker, atau bahkan kerap binnenlander.  

Adapun Kesepakatan menulis "DAYAK" secara konvensional diterima pada Seminar Internasional yang diinisiasi IDRD di Pontianak, pada 1992. Secara garis besar,  terdapat 7 rumpun besar (stammenras) Dayak, yang terbagi dalam 405 subsuku.

Dengan demikian, "Dayak" adalah nama koloni untuk menyebut penduduk asli Kalimantan Raya. Di masa zaman raja-raja Melayu berkuasa, para koloni yang tinggal di darat itu termarjinalkan. Hal itu karena penguasa sungai dan pesisir adalah kaum Melayu. Praktis, penguasaan perdagangan dan transportasi ada di tangan bangsa Melayu. Terutama di Kalimantan, sungai sebagai sarana transportasi dan jalur perniagaan sangat vital. Hal ini terjadi hingga pengujung 1980-an, tatkala sungai-sungai masih menjadi urat nadi dan sumber penghidupan di Kalimantan.

Setelah sungai tidak lagi yang utama sebagai jalur transportasi melainkan melalui jalan darat, orang Dayak di Kalimantan memiliki tanah luas warisan nenek moyang.  Hanya sayang sekali, belum ada kesadaran di antara kaum ini untuk mengklaimnya baik secara adat maupun secara hukum positif negeri ini.

***

Baca juga: Ytprayeh.com Media Jurnalisme Warga dengan Semangat Kebangsaan